Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Penulis fiksi

Hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Novel

Namaku Awai 222-224

6 Juli 2018   06:28 Diperbarui: 6 Juli 2018   08:20 450 0 0
Namaku Awai 222-224
dokpri

" Jangan ! " seru Tiong It dengan nafas tertahan.

" Kalian mendekat, kugigit dia !"

Tiong It menahan langkahnya. Begitu juga penjual kepiting. " Tolong jangan gigit dia. Aku mohon tolong jangan ganggu dia..." Tiong It memohon dengan wajah bersungguh sungguh.

Wanita itu mengangkat tubuh Awai bagai sebuah boneka, lalu dibawa melompat ke laut.

Byurrr, air laut muncrat ! Menimbulkan gelombang yang menghantam tepian dermaga. Tiong It dan tukang kepiting terbengong.

" Aduh, celaka. Awai pasti dimakan wanita itu. Apa bapak kenal wanita itu?." tanya Tiong It pada Tukang kepiting.

Tukang kepiting menggigil ketakutan. " Hantu laut !"

" Apa ?! Hantu laut ? Wanita itu hantu laut ?" nada Tiong It tak percaya. Tapi kecemasannnya semakin menghebat. Benarkah Awai dibawa Hantu Laut ke dasar lautan ?

" Benar ! Itu hantu laut ! Dulu saat aku mencari kepiting bakau, dia sering muncul tiba tiba dari dasar laut ingin menggigitku! Aku tak berani ikut campur. Aku takut !" Penjual kepiting itu berlari kembali ke pasar.

" Hei, hei, tunggu dulu !!!" cegah Tiong It, namun penjual kepiting itu tak memedulikan cegahannya.

Tiong It terpuruk jatuh bersujud di ujung dermaga. Kakinya terasa lemas. Jika Awai mati, ia akan dituduh mendorong Awai ke laut. Lim Huina memusuhi keluarga Han, pasti membuktikanancamannya. Tiong It merasa sangat tak berdaya. Ia bersujud sambil memohon. " Wahai, Hantu Laut, tolong kembalikan Awai padaku. Dia selama ini hidup menderita. Aku ingin memberinya kebahagiaan. Tolonglah, wahai hantu laut. Tolong kembalikan Awai padaku..."

Ia menatap laut. Ia memohon dan memohon lagi. Benarkah di laut ada hantu laut ? Benarkah hantu laut muncul dari dasar laut ? Kenapa wujudnya seorang wanita? Kenapa hantu laut membalut wajahnya dengan kain?

Hari semakin petang, senja semakin turun. Tiong It masih bersujud di ujung dermaga. Ia memohon dan memohon lagi agar Hantu Laut mengembalikan Awai padanya. Kakinya sudah lemas, namun ia tetap bersujud.

" Tolonglah... kembalikan Awai padaku. Aku tak bisa hidup tanpanya..." ratap Tiong It berulang kali.

" Kalau kukembalikan kekasihmu, apa balasanmu padaku ? " tiba tiba terdengar suara dari bawah dermaga. Tiong It terlonjak kaget. Ia seakan tak memercayai pendengarannya.

" Aku akan mengirim persembahan pada Hantu Laut." Jawab Tiong It dengan suara gemetar.

" Persembahan apa ?"

" Persembahannya... nasi kunyit, gulai ayam, bunga, pisang raja, bunga 7 warna..." Tiong It teringat itulah permintaan Tok Samat kala ingin menyembuhkan Tan Suki. Ia masih ingat cerita Awai meski kakinya gemetar akibat bersujud hampir 2 jam.

" Aku tak butuh itu ! " suara Hantu Laut terdengar temberang.

" Kalau begitu, apa permintaan Hantu Laut ?" tanya Tiong It.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2