Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Penulis fiksi

Wa/sms 0856 1273 502

Selanjutnya

Tutup

Novel

Namaku Awai 169-171

9 Juni 2018   08:06 Diperbarui: 9 Juni 2018   08:33 919 0 0
Namaku Awai 169-171
dokpri

Pemilik kedai kopi bersedia menerima Awai bekerja, tapi hanya di pagi hari, alias setengah hari. Soalnya sorenya kedai kopi itu sepi, dan memilih tutup jam 3 sore. Di samping kelenteng terdapat sebuah kedai kopi yang berjualan hingga malam, memasang plang nama Kedai Kopi AAA, menu andalannya adalah Tee Kha Deng dan sup bihun kepiting. ( Tee Ka Deng, sup kaki b2 yang dimasak hingga empuk).

Pemilik kedai bernama Hsu Natan, memberi gaji 60 ribu pada Awai untuk pekerjaan mencuci piring dari jam 6 pagi hingga jam 2 sore. Delapan jam kerja itu dianggap setengah hari karena jika menjaga toko asesoris, kebanyakan toko buka dari jam 7 pagi hingga jam 10 malam, artinya jam kerjanya 15 jam.

Awai senang mendapat pekerjaan itu. Ia pulang dan melapor pada ibunya dengan hati gembira. Untuk sementara ibunya diam berhubung dengan tambahan 60 ribu per bulan, keluarga Tan merasa bisa hidup lebih lega.

Begitulah, keesokan harinya, jam 5.35 Awai sudah berangkat dari rumah setelah makan singkong rebus 3 tual. Ia ingin memulai hari pertama tanpa keterlambatan. Ia memakai celana pendek agar gampang jongkok-berdiri. Baju berlengan pendek agar tak perlu menyingsing lengan baju jika hendak mencuci. Rambutnya diikat agar jangan mengganggu pandangan.

Jam 6 belum terlalu ramai, 6.30 mulai agak ramai, jam 7 kedai kopi penuh hingga jam 8.30. Awai berkeliling untuk mengumpulkan piring dan gelas kotor. Semua dikumpulkan di tempat cucian, dicuci hingga bersih, lalu harus dipisah menurut pemilik piring dan gelas. Gelas kopi terbuat dari keramik, ada tatakannya, sendoknya kecil pendek. Gelas teh terbuat dari gelas, tingginya sejengkal, sendoknya juga kecil, tangkainya panjang. Itu barang untuk kedai kopi.

Tukang lontong piring, gelas, bagian bawah dicat biru, sendok dan garpu ujungnya dicat biru. Piring dan gelas Mie Siram Kuah Kacang di bawahnya dicat merah, begitu juga ujung sendok dan garpu. Tukang Kuetiau dan Mie goreng piring, gelas, sendok dan garpu dicat kuning. Setelah dipisah, barang diantar ke pemilik masing-masing. Jika memecahkan barang, Awai diwajibkan mengganti. Itu membuat Awai bekerja hati hati.

Jam 10 ke atas pengunjung semakin sedikit, jam 11.30 kembali ramai karena ada yang makan siang di kedai kopi Sudi Mampir. Jam 2 tukang lontong dan Mie Siram pulang, tinggallah pemilik kedia kopi dan penjual kwetiau/migoreng.

Awai duduk di kursi tamu sambil memandang ke kelenteng. Pemilik kedai bertanya kondisi Tan Suki. Hsu Natan mengatakan dulu Tan Suki suka nongkrong di kedainya. Awai mengatakan ayahnya bisa berjalan, tapi sebelah kaki harus diseret atau memakai tongkat. Jam 3, saat Awai diizinkan pulang, Hsu Natan memberinya sebungkus kueh bakpao yang tak habis dijual.

" Papamu dulu suka makan bakpao. Aku menghargai persahabatan kami. Jika ada sisa bakpao, bawalah pulang untuk papamu. Aku kenal Lim Huina. Aku tak yakin ibumu akan memberi makanan sekenyang dulu pada ayahmu."

Wajah Awai menahan haru. Ia mengucapkan terima kasih, mengambil tangan Hsu Natan, mencium tangan itu dengan khidmat. Ia berterima kasih telah diberi pekerjaan. Ternyata masih ada yang peduli pada papanya." Awai mewakili papa mengucapkan terima kasih." Dan airmatanya itu mencuri keluar dari kelopaknya.

" Pulanglah. "

Awai mengangguk. Ia memegang bungkusan itu seakan bungkusan itu sebungkus permata. Ia harus menyampaikan salam Hsu Natan pada ayahnya.

Tan Suki makan dengan lahap. Ia terkenang masa lalunya. Ia tahu riwayat bakpao yang dimakannya. Kedai kopi tak pernah membuat kueh untuk dijual. Semua kueh itu titipan orang. Hsu Natan hanya menjual kopi, teh, minuman kaleng, minuman kotak, semua kueh titipan orang. Penghasilan terbesarnya berasal dari menyewakan kedainya sebagai tempat berdagang bagi tukang lontong, tukang mie-kwetiau, dan tukang mie siram kueh kacang.

Dari ketiga penyewa itu sebulan ia mengantongi uang sewa sebesar 600 ribu. Penghasilan segitu bisa untuk menghidupi 3 keluarga. Belum lagi hasil menjual kopi-teh-minuman kemasan. Hsu Natan tidak menikah. Hanya Tan Suki yang tahu kenapa Hsu Natan tidak menikah, dan ia tak ingin membocorkan rahasia sahabatnya.