Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Penulis fiksi

Hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Novel

Namaku Awai 161-162

6 Juni 2018   07:33 Diperbarui: 6 Juni 2018   08:56 493 0 0
Namaku Awai 161-162
dokpri

Tan Suki menulis : Aku akan membantumu dengan segala cara.

Awai tahu harapannya tipis, untuk mencegah papanya bermimpi terlalu tinggi, ia mengupas rambutan, dan menyuapi papanya.

Sore itu Tiong It muncul sekitar jam 7 malam, masih tetap membawa setangkai bunga ros. Awai heran, dimana Tiong It mendapat bunga ros setiap hari. Seingatnya, bunga ros itu pernah dilihat di kuburan seorang wanita yang bunuh diri. Ia lupa siapa nama wanita itu. Mereka ngobrol tentang kedatangan paman Hokianto. Tiong It bertanya kenapa Yolana menghilang. Awai mengatakan Makcik Yo diajak suaminya makan di restoran.

" Makan di restoran paling lama hanya 1-2 jam. Apa mungkin paman Ho menjemput makcik untuk diajak pulang ke Lubuk Ikan ? " tanya Tiong It.

" Aku tak tahu. Makcik Yo hanya mengatakan rambutannya untuk kami. Tidak mengatakan kemana mereka akan pergi."

Keduanya berpindah ke topik lain. Jam 9 Yolana muncul bersama suaminya, wajah Yolana cemberut. Suaminya bersikap santai. Begitu datang, Yolana menonjok bahu Tiong It dengan keras,

" Dasar anak sial. Kukira membuat bayi tabung itu gampang. Ternyata lebih ribet dibanding menganyam bangku rotan."

" Kenapa makcik Yo marah padaku ?" tanya Tiong It bingung.

" Kami menemui dokter Ashar, ingin meminta surat pengantar seperti yang kamu ajarkan. Eh, kami harus membayar biaya konsultasi 4 jam yang setara dengan sebulan gaji penyortir ikan. Hasilnya masih jauh ikan asap dari panggangan." Omel Yolana. Yolana mogok bicara, gantian paman Ho yang menjelaskan, bahwa menurut dokter Ashar, membuat bayi tabung itu pertama, sel telur Yolana harus diambil, sehat untuk dibuahi, harus ada rahim yang bersedia disewa. Wanita yang rahimnya bersedia disewa harus sehat, pernah melahirkan normal, bukan perawan tingting, usianya di rentang 22 s.d 35 tahun, bersedia menandatangani perjanjian bahwa setelah bayi dilahirkan akan diserahkan pada kami, selamanya takkan menuntut apapun dari kami.

Dokter Ashar mengatakan resiko kegagalan tinggi, mungkin harus diulang berkali-kali. Yolana mulanya bersemangat mendengar penjelasan dokter Ashar, lama kelamaan ngantuk dan tertidur. " Hokianto ketawa, sementara Yolana memonyongkan mulutnya.

Awai menyimak omongan Hokianto. Ia tak menyangka keinginan Yolana untuk punya anak menghadapi banyak kendala. Ternyata, punya anak terlalu banyak menciptakan kemiskinan, tidak mempunyai anak membuat orangtua menderia.

" Kenapa tidak mengangkat anak saja, makcik ?" cetus Tiong It.

" Anak siapa yang bersedia kuangkat ? Anak baik bolehlah. Kalau anak nakal nanti bikin aku sakit kepala dan rematikku semakin sering kambuh. " oceh Yolana.

" Sudahlah. Kita terima nasib apa adanya. Yoyang, abang pulang dulu. Nanti kalau sembuh abang datang lagi menjemput." Kata Paman Ho sambil berdiri, berjalan ke ranjang istrinya, mencium pipi istrinya yang sedang berbaring.

" Jangan main mata dengan penyortir ikan!" pesan Yolana sambil mendelik.

" Tidaklah, Yoyang. Aku sudah tua, tak berselera makan daun pakis muda. Nanti termakan ulat bulu."

Yolana ketawa, Awai dan Tiong It ikut ketawa. Paman Ho berjalan keluar sambil melambaikan tangan. Yolana membalas dengan kissbye. Tiong It sangat kagum dengan kemesraan pasangan itu. Ia berharap di masa depan ia dan istrinya juga bisa semesra itu. Tiong It ikut pamit berhubung ia harus belajar. Ujian semakin dekat.