Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Penulis fiksi

Hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Novel

Namaku Awai 158-160

5 Juni 2018   06:15 Diperbarui: 5 Juni 2018   08:27 815 0 0
Namaku Awai 158-160
dok.pribadi

Tiong It semakin kagum mendengar rencana Awai. Ia mengambil tangan Awai, mengggenggam dengan erat. " Itu artinya kamu tak bisa ikut ujian akhir SMP ?"

" Gapapa. Aku rela kehilangan selembar ijazah asal bisa merawat papa."

" Betapa mulia hatimu, Awai. Aku salut padamu."

" Terima kasih. "

Awai membiarkan tangannya digenggam. Ia tak berani balas menggenggam. Ia tahu masa depannya penuh mendung hitam. Tiong It baik padanya, Ibu Tiong It juga pernah bersikap baik padanya, namun, ayah Tiong It belum pernah ditemuinya, apa reaksi Han Tong Long saat mengetahui anaknya ingin menjalin tali kasih dengan seorang gadis miskin yang bekerja di gudang penampungan ikan ?

Sarapan yang diantar Alek pagi ini terdiri dari 4 potong singkong rebus dan seekor ikan asin. Awai bersyukur masih mendapat kiriman, artinya ia tak perlu merepotkan makcik Yo membagi sarapan dengannya. Kalau bisa, ia tak ingin merepotkan orang lain. Sebisa mungkin ia ingin mengurus papanya dan dirinya sendiri.

Jam 9 seorang lelaki muncul sambil membawa sekeranjang rambutan. Lelaki itu mencium pipi Yolana dengan senyum mirip Charles Bronson. Kulitnya hitam, rambut tebal, kekar berotot, khas pelaut yang sering terpapar sinar matahari.

" Bagaimana kakimu, sayangku. Apakah sudah boleh dibawa berjalan-jalan ? Kalau boleh, aku akan mengajakmu makan di restoran. "

Yolana galak terhadap semua orang, namun terhadap pria itu menunjukkan kemanjaan seekor merpati. Senyumnya full, memerlihatkan gigi yang putih bersih laksana porselin. " Kalau ingin mengajakku makan enak, tak perlu menunggu kakiku sembuh. Gendong aku ke beca, nanti kubalas dengan seratus kecupan di dada."

Awai terbelalak mendengar omongan Yolana. Orang selalu mengatakan mengecup pipi, mengecup kening, mengecup mata. Kenapa Yolana ingin mengecup dada suaminya? Apa enaknya mengecup dada? Bukankah di dada selalu ada keringat, apa baunya gak asem kecut ? Ia menebak pria tinggi tegap itu adalah paman Hoki, atau lengkapnya Hoki Hokianto.

Mata Hoki Hokianto berkedip-kedip, mirip bola lampu listrik yang tegangannya turun naik. Tangannya diulurkan, hup, Yolana didekap dan digendong. Ternyata Hokianto sekuat kuli pelabuhan, sanggup mengangkat sekarung beras yang beratnya 100 kg.

" Awai, rambutannya buat kamu saja. Juga makan siang yang diantar pembantuku. Aku bakal makan enak siang ini ! Nanti sore baru kami kembali ! Aku hendak berpesta bersama suamiku !" seru Yolana sebelum tubuhnya hilang di balik pintu.

Awai tersenyum melihat tingkah suami istri itu. Ia salut atas kemesraan pasangan itu. Kayaknya hanya di serial tv Dinasty ia pernah melihat kemesraan seperti itu ditunjukkan oleh sepasang manula. Ia mengupas rambutan untuk dimakan papanya. Ia hanya makan 2 butir.

Tan Suki mengambil tangan anaknya. Ia menulis:

Tiong It pemuda baik. Menikahlah dengannya.

Wajah Awai bersemu merah, " Terlalu pagi memikirkan pernikahan, papa. Awai ingin merawat papa hingga tua."

Wajah Tan Suki berubah kelam. Ia menulis. Aku tak ingin menjadi beban bagimu. Jika aku sudah tiada, menikahlah dengannya.

Awai kaget membaca sentuhan tangan papanya. Jika aku sudah tiada, entah kenapa ia merasa hatinya tak sedap dengan tulisan di telapak tangannya. " Papa akan sembuh, jangan berpikir yang bukan bukan. Awai akan menjaga papa sampai tua," ucapnya.

Tan Suki menulis : Pada akhirnya, semua manusia akan mati. Aku takkan membebanimu terlalu lama. Berjanjilah, kamu akan menikah dengan Tiong It.

Awai ingin membantah, tapi ia melihat wajah papanya begitu mengharap kepatuhannya. " Awai tak berani berjanji, papa. Ting Ling juga suka padanya. Ting Ling punya segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Awai bukan tandingannya yang sepadan, " Awai mengatakan hal itu dengan hati pedih. Ia sadar ia bukan tandingan Ting Ling, baik dalam kecantikan maupun keberanian.