Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Penulis fiksi

Hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Namaku Awai 108-110

15 Mei 2018   08:08 Diperbarui: 15 Mei 2018   08:08 533 0 0
Namaku Awai 108-110
dok.pribadi

Pasien di sebelah kanan Tan Suki adalah seorang wanita parobaya yang sakit rematik hingga tak bisa berjalan. Kakinya bengkak hingga sebesar tongkat rumah. ( tongkat rumah= fondasi yang terbuat dari semen berbentuk piramida tapi ujungnya datar). Namanya Yolana. Yolana suka memerhatikan Awai saat menyuapi papanya makan. Ia kagum melihat cara Awai merawat papanya.

" Kalau aku punya anak lelaki, pasti kujodohkan padamu, nak." Kata Yolana saat Awai duduk santai setelah jam 2 siang. Saat seperti itu Tan Suki tidur hinga jam 4 sore.

Awai tersipu mendengar omongan Yolana.

" Apa semua anak ibu perempuan ?" tanya Awai.

" Anakku mati semua. " wajah Yolana berubah keruh.

" Yang merawat ibu itu bukan anak ibu? " tanya Awai.

" Bukan. Pembantu yang digaji suamiku."

" Kenapa anak ibu bisa meninggal?" tanya Awai.

" Aku dikutuk orang. Setiap melahirkan anakku mati. "

Awai bergidik mendengar omongan Yolana. " Dikutuk? Apa ada orang sejahat itu ?" tanya Awai dengan nada tak percaya.

" Ada lah ! Orang jahat bersepah di dunia." ( bersepah = bertebaran, ada disana sini).

Awai bergidik. Wajahnya menampilkan kesan tak mungkin ada orang sejahat itu. Yolana merasa tersinggung melihat ekspresi Awai. Ia menceritakan kenapa semua anaknya yang dilahirkan mati.

" Dulu, pada masa gadis, aku termasuk kembang desa di Lubuk Ikan. Banyak perjaka yang tertarik padaku, merengek pada orangtuanya untuk meminangku. Aku sebetulnya tidak memilih. Aku menyerahkan jodohku pada ayah bunda. Biarlah mereka yang menentukan siapa calon suamiku. Kepala Desa mempunyai seorang anak lelaki yang flamboyan, kerjanya menggoda gadis-gadis yang belum menikah. Termasuk aku. Aku berusaha menjaga jarak. Oleh Kepala Desa anaknya dijodohkan dengan putri seorang tuan tanah yang kaya. Semua lega mendengar kabar itu. Celakanya, putri tuan tanah itu judes dan jutek, pemarah dan sirik, setelah bertunangan melarang calon suaminya melirik gadis lain.

Lelaki semakin dikekang semakin binal. Aku menoreh getah setiap pagi. Anak kepala desa mencegatku di tengah jalan, ingin memerkosaku. Tentu saja aku melawan. Kutendang itunya hingga ia terjungkal ke dalam parit. 

Aku lari pulang mengadu pada orangtuaku. Ayahku membawa golok, ingin mencari anak kepala desa untuk menggertak agar anak kades itu tidak menggangguku lagi di kemuddian hari. Ibuku mencegah, tapi ayah bersikeras mengajakku ke lokasi kejadian. 

Saat kami tiba di lokasi kejadian, anak kades itu menghilang. Ayahku ingin ke rumah kades, kucegah karena betapa memalukan andai berita itu tersebar ke masyarakat. Orang orang pasti tak percaya aku berhasil meloloskan diri. Lagian kades pasti membela anaknya. Mana ada orangtua yang mau anaknya dituduh hendak memerkosa gadis miskin ? " Yolana berhenti bercerita, ia memainkan kencing bajunya.

" Apa yang terjadi selanjutnya ?" tanya Awai penasaran. Sejak berhenti sekolah, ia jarang ngobrol dengan sesiapa. Selain karena jarang orang mengunjunginya, juga karena sibuk mengurus ayahnya. Ibunya bahkan tak pernah menjejakkan kaki ke rumah sakit lagi sejak pertama mengantar Tan Suki.

" Aku tak menyangka tendanganku itu lebih keras dari tendangan kuda jantan. Samson, anak kades itu menghilang dari desa kami lama sekali."

" Dia malu. Takut makcik Yo mengadukannya. Pasti dia bersembunyi di rumah saudaranya." Tebak Awai.

Yolana menggeleng. " Telornya pecah," Yolana ketawa. Ketawanya heboh. Membuat pasien lain menoleh menatapnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2