Cerpen

Namaku Awai 13-16

17 April 2018   10:25 Diperbarui: 17 April 2018   10:27 212 0 0
Namaku Awai 13-16
www.kompasiana.com

Sore ini ikan melimpah. Hanya 3 kali mengangkat jaring sudah terkumpul sebakul ikan. Mereka pulang jam empat.

" Ce, aku pergi main bola sebentar ya, tolong potong kayu bakar setumpuk, aku tak ingin dihamun mama." Pinta Akun.

Awai menganggukkan kepala. Secara umur, Akun lebih muda setahun, tapi tubuh Akun lebih tinggi, badannya lebih tegap, akibatnya banyak yang menyangka Akun lebih tua setahun dibanding Awai.

Akun melesat pergi dengan sepedanya. Awai menetak (memotong) setumpuk dahan bakau. Disusun dahan bakau itu menutupi bakul agar ikannya tak dilarikan kucing atau anjing liar. Ia duduk di pinggir dermaga. Kakinya dikepak-kepak untuk menyepak air. Air sedang pasang. Dermaga terendam di bagian ujungnya. Kepak hurup T-nya hampir tak kelihatan. Di tengah dermaga air berjarak selutut dari landasan.

Dahan bakau bergoyang-goyang. Seseorang sedang nangkring di dahan bakau. Awai kaget melihat wanita gila itu sedang menggantung sarung di dahan bakau, batang kayu itu ditaruh di tengah sarung, lalu sarung didorong maju mundur seperti seorang ibu yang sedang mengayunkan buaian yang terbuat dari kain.

" Anakku bermain air di dermaga,

Kakinya menyepak udara...

Buaya menyambarnya...

Anakku diterkam buaya...

Tralalalalala..."

Nyanyian itu membuat bulu roma Awai berdiri. Benarkah anak wanita gila ini diterkam buaya ? Apakah gara gara anaknya diterkam buaya makanya wanita ini menjadi gila lalu menyangka sepotong kayu itu anaknya ?

Tiba-tiba timbul niat Awai untuk mengalihkan perhatian wanita gila itu dari kesedihannya. Awai mengambil seekor ikan belanak seukuran sejengkal. Dilambaikan ikan itu ke arah wanita gila itu. " Kuiyi, mau makan ikan ?"

Wanita gila itu berhenti berdendang. Ia menatap Awai dengan tatapan heran. Kepala dimiringkan ke kanan, lalu ke kiri, lalu ia terjun ke air, berenang ke dermaga dengan kecepatan mirip tupai, setibanya di dermaga merangkak naik layaknya kucing yang tercebur ke selokan.

Awai mundur ketakutan. Wanita gila itu mengejarnya. Awai tak bisa mundur lagi saat tiba di ujung dermaga. Wanita gila itu mengulurkan tangannya, Awai memberikan ikan yang dipegangnya.

Ikan itu diamati seperti sedang meneliti perhiasan, lalu dilempar ke laut. Awai kaget, tapi tak sempat mencegah.

" Belanak tak enak. Buntal paling enak !" seru wanita gila itu.

Awai tertegun. Buntal paling enak ? Apakah wanita gila ini memakan ikan buntal ? Semua orang takut memakan ikan buntal karena beracun. Sudah ada yang mati gara gara memakan ikan buntal. Kenapa wanita gila ini malah mengatakan ikan buntal paling enak? Kata orang, wanita gila ini sebatang kara, tidak punya sanak saudara, tidak punya tempat tinggal. Apa wanita gila ini tidur di dermaga ? Apa malam-malam dia tidur di salah satu kapal ? Angin malam selalu kencang. Apa wanita gila ini tak jatuh sakit akibat sering terkena angin malam ?

Timbul rawa kasihan di hati Awai.

" Ikan buntal tak boleh dimakan, Kuiyi. Ikan itu beracun, bisa mati kalau kita memakannya." Ucap Awai hati-hati. ( Kuiyi = bibi Kui ).

" Siapa bilang ? Tiap hari kumakan, apa aku sudah mati ?" wanita gila itu tertawa.

Awai terbengong mendengar omongan wanita itu. Tidak punya sanak, tidak punya saudara, tidak punya rumah dan keluarga. Apa yang dimakan wanita gila ini untuk mempertahankan hidup? Mana mungkin tidak makan wanita gila ini masih tetap segar bugar dan berkeliaran di dermaga setiap hari?

Tiba-tiba wanita gila itu melompat ke laut. Awai hendak mencegah pun tak sempat. Tangannya terulur menangkap angin. Begitu melompat, tubuh itu tenggelam ke dalam air, tidak muncul lagi. Awai jongkok memerhatikan gelembung gelembung yang muncul di permukaan air. Gelembung-gelembung itu muncul membentuk sebuah garis, lurus menuju ke tengah selat.

" Waduh. Jangan-jangan Kuiyi bunuh diri, aku yang memulai, aku mengumpannya dengan ikan belanak hingga ia melupakan anak palsunya. Aduh.. gimana ini... andai dia bunuh diri, aku berdosa... aku berdosa telah menyebabkan kematiannya. Ini... Tolong... ! Tolong !" serunya.

Dermaga itu sepi. Tidak ada yang bersuara menjawab panggilannya. Awai berjalan mondar mandir di dermaga. Ia sangking panik tidak memerhatikan bahwa garis gelembung yang muncul di permukaan air tidak lagi lurus, melainkan agak berputar, membentuk setengah lingkaran, berbalik menuju ke dermaga.

" Tolong !!! Tolong, Kuiyi bunuh diri !!! Tolong selamatkan dia ! Aku tak ingin dia mati ! Biarpun dia gila, suka berkeliaran di dermaga, aku merasa terhibur mendengar senandungnya. Tolong... Tolong..."

Sebuah kepala tertutup rambut muncul di ujung dermaga, merangkak naik, lalu berdiri.

" Siapa bilang aku bunuh diri !"

Sangking kaget Awai merasa jantungnya serasa copot. Ia membalikkan tubuhnya. Terlihat sosok yang kepalanya tertutup rambut, mirip hantu air, berdiri seakan ingin memakannya.

" Hantu !!!" teriaknya. Ia ingin lari. Kakinya slip dan ia terjungkal ke lantai dermaga. Ia menoleh ke belakang dan melihat hantu itu seakan ingin mengejarnya. Tapi, eit.. tunggu dulu. Kenapa tangan hantu itu memegang seekor ikan buntal sebesar buah kelapa, perut ikan itu membengkak, membesar, duri durinya terlihat menakutkan, tapi hantu itu tidak merasa sakit oleh rontaan ikan itu?