Deri Prabudianto
Deri Prabudianto karyawan swasta

Hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Novel

"Beauty and the Beast" [28]

8 Februari 2019   07:11 Diperbarui: 8 Februari 2019   08:52 33 1 0
"Beauty and the Beast" [28]
dokpri

Episode 28

" Jangan bengong. Kita sudah tiba. Ayo turun."
Agar tak memalukan, Aldi berkata, " Kakiku agak keram gara gara semalam berlari kesana-sini,"
" Itu mimpi, kamu tak berlari sama sekali." Bantah Jean.
Sialan, dia menyimak setiap omonganku tadi siang. Aldi salah tingkah " Sorri, salah ngomong. Gara gara tabrakan dengan anak itu."
" Yakin kamu menabrak roh ? Setahuku manusia yang menabrak roh akan diganggu hingga kesurupan." Cecar Jean.
Mampus aku kalau menikah dengan wanita seceriwis ini, lebih baik aku kawin dengan kuli bangunan. Eh.. apa ada kuli bangunan yang wanita? Kalau tak ada, mungkin aku harus mempertimbangkan Della, atau Widia. Widya sudah punya pacar atau belum? Kalau belum, boleh juga tuh, aku sering kesana dengan alasan diganggu roh atau tangkalku hilang.
" Kok diam ! Ayo keluar !"
Dengan sebal Aldi keluar, menutup pintu sepelan mungkin agar Jean tak mengatakannya membanting pintu. Behhhh ! Kamu bukan pilihanku lagi! Serunya dalam hati.  Bokongmu tidak menarik lagi. Ia berjalan duluan menuju Gang Bahagia.
Aldi memasukkan kunci. Jean mengamati seakan Aldi tak pandai memasukkan anak kunci. Risih ia ditatap  mata Jean yang tak berkedip.
" Disini kamu kejendot ?" tanya Jean.
Diseruduk kucing, terjengkang menghantam pintu apakah itu namanya kejendot? Setahunya kejendot itu jika kepala seseorang menghantam sesuatu yang dianggap tinggi tapi terlalu rendah, pintu atau dahan pohon.
" Ya. " jawab Aldi singkat. Pintu terbuka. Ia masuk, hanya merapatkan pintu setelah Jean masuk, berharap Jean langsung pulang setelah membaca tulisan di atas. Ia langsung membawa Jean naik tangga menuju pintu belakang.
Aldi melongo. Tidak ada kertas. Padahal semalam ia hanya membaca tulisan, tidak menyentuh kertasnya.
" Mana kertasnya ?" suara Jean menuntut.
" Hilang, "
" Jadi, kamu berharap aku percaya omonganmu?"
Beh, nada tidak percaya itu menyakitkan. Aldi terdiam, membuka pintu itu dan keluar untuk mendinginkan hatinya.
" Tanpa bukti kamu ingin menulis kisahmu ? Hahaha... Aldi, Aldi... ceritamu seharusnya fantastis, bombastis, agar jadi best seller, kalau hanya begini begini saja, sudah banyak yang menulisnya, cari aja di rak naskah-yang- ditolak- yang- tidak- diambil penulis-nya." Cemooh Jean sambil berjalan ke tangga, turun, dan langsung pulang.
Aldi begitu marah mendengar ledekan Widia. Tapi betul sih, tanpa bukti mana mungkin ia mengatakan ia mendapat undangan setan ?  Ia menatap ke seberang. Rumah siapa di belakang itu? Dalam bayangan masa lalu ia melihat dua gadis terbakar di loteng sebuah bangunan. Apakah kedua gadis itu Meilan dan Melli ? Meilan dan Meli, nama keduanya mirip bersaudara. Apakah semasa hidup keduanya bersaudara ? Apakah keduanya mati menggenaskan lalu berubah jadi hantu pengusir orang yang ingin tinggal di rumah mereka ?
Aldi ke bawah untuk menutup pintu, sekalian ia membeli semangkok mie ayam untuk dijadikan santapan malam. Malam ini ia bertekad akan mengedit hingga ketiduran agar tak perlu mendengar atau melihat hal-hal aneh.

Pertanyaan itu berkecamuk di benak Aldi. Mengapa Widya begitu royal memberinya uang agar ia bertahan  di rumah bernomor 48 itu ? Jika bangunan itu ingin dijual, tak perlu membujuk orang untuk tinggal disitu gratis selama setahun, tak perlu menjanjikan hadiah, tak perlu memberi uang untuk mengatasi rasa takut. Cukup tulis di depan pintu: Rumah ini Di Jual, hubungi Agen Properti Jaya. Kenapa sejak tahun 2005 hanya ditulis disewakan ? Kenapa rumah itu seakan menyimpan misteri yang tak terpecahkan?
Di kantor omongan Jean semakin hari semakin menyudutkan. Rasanya Aldi ingin menyumbat telinganya dengan kapas. Seminggu berlalu, tujuh malam dilalui tanpa gangguan. Hal ini membuat Aldi merasa santai. Sepuluh hari berlalu. Aldi semakin santai. Ia mulai yakin malam itu Della lewat, melihat jaket tergantung di pintu, Della memeriksa, menemukan tangkalnya, disimpan untuk diberikan pada Widya agar dikembalikan padanya. Pasti begitu. Bukankah keduanya berteman ?

Malam ini, berhubung matanya letih, Aldi tidak mengedit. Ia keluar berjalan jalan ke Mall Glodok. Enak juga melihat para penjual elektronik memanggil pembeli, merayu pembeli dengan kata-kata manis, seakan mulut mereka ada sarang tawon yang menyimpan banyak madu. Keluar dari Mall ia berbelok ke belakang, berputar sedikit, tibalah ia di jalan Kemenangan. Kakek Oyong mengatakan  tinggal di jalan ini. Aldi bertanya pada penjual bakmi, dimana letak rumah kakek Oyong? Penjual bakmi menunjuk ke deretan ruko berlantai dua, mengatakan Kakek Oyong tinggal di ruko bernomor 84. Aldi mengucapkan terima kasih. Ia bergerak ke ruko itu.
Ia mengetuk pintu. Sudah lama ia tak bertemu kakek Oyong. Aldi ingin bertanya, apakah cucu kakek oyong seorang anak kecil berusia sekitar 8-10 tahun saat terjadi kerusuhan ? Aldi mulai yakin anak yang dulu ditabraknya itu cucu kakek oyong. Kalau tidak, kenapa roh anak itu berkeliaran di Kali Krukut tempat dimana kakek Oyong sering membakar kertas sembahyang ?  Ia mengetuk 18 kali, lalu menggedor agak keras 4 kali. Tak ada yang membukakan pintu. Lampu teras bawah menyala, lampu teras atas juga menyala, apa kakek Oyong tidur ?  Aldi meninggalkan ruko itu dan bergerak ke Kali Krukut.