Deri Prabudianto
Deri Prabudianto karyawan swasta

Hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Novel

Beauty and the Beast 05

11 Januari 2019   05:02 Diperbarui: 11 Januari 2019   05:08 189 3 0
Beauty and the Beast 05
dokpri

Episode 05

Pagi ini sebelum berangkat kerja Aldi menatap ke tempat dimana semalam ia melihat bayangan berjalan di atas genteng. Genteng-genteng terlihat utuh, tak ada yang pecah, padahal hampir semua bangunan di Gang Bahagia terbuat dari genteng tua yang diproduksi dari tanah liat di zaman Belanda. Andai ada yang berjalan pasti gentengnya pecah. Aldi mulai yakin matanya mengalami kelainan akibat terlalu banyak membaca.

Tea break tak pernah diresmikan waktunya. Karyawan juga tak pernah harus taat jam masuk dan patuh jam pulang. Jika telat masuk setengah hingga satu jam, cukup sorenya bekerja lebih lama setengah hingga satu jam. Ini jam lentur yang diciptakan Sunadi supaya karyawan betah bekerja dengannya.

Siang ini, bukan hanya Jean yang bertanya apakah Aldi betah tinggal di rumah kosnya di gang Bahagia, Sunadi ikut bertanya.

" Tidak ada gangguan, Al ? " Sunadi mengepit map, entah mau kemana.
Aldi menggeleng." Engga ada, bos. Semua aman terkendali. " jawab Aldi santai.
" Baguslah kalau begitu. Semoga betah." Sunadi langsung keluar. Gantian Jean yang menghampiri meja kerja Aldi.
" Pernah terbangun jam 12 tengah malam, Al ?" tanya Jean.
" Dua kali, sekali ke kamar mandi dan sekali lagi untuk mematikan tivi."
" Tidak mendengar suara yang memanggil manggil namamu?"
" Maksudmu, rumah itu ada kuntilanak, gitu ?" tanya Aldi.
" Begitulah kata orang." Wajah Jean serius.
Aldi pura-pura ikut serius, tapi kemudian ketawa.
" Kamu tinggal di ujung Menteng, mana mungkin kamu mengetahui sesuatu yang terjadi berjarak 35 kilometer dari tempat tinggalmu. Kamu hanya ingin membuatku tak betah," Ledek Aldi.
Jean menunjukkan wajah tersinggung." Aku berbaik hati ingin menyuruhmu hati-hati, kamu malah besar kepala. Yo wes, aku diam saja !" Jean mengangkat bokongnya dan pergi. Kali ini gaya jalannya sopan hingga tak ada goyangan yang enak dilihat bagi Aldi.

Sepuluh hari berlalu. Aldi naik ke timbangan. Timbangan itu bukan timbangan badan, melainkan alat menimbang barang. Menjilid buku menggunakan mesim lem panas. Lem ini berbentuk butiran yang harus dipanaskan. Demi efisiensi sebelum menjilid lemnya harus ditakar dengan cara ditimbang. Inilah kegunaan timbangan barang di kantor Tebook.  Tapi, siapa yang peduli itu timbangan badan atau bukan. Jean  sering naik ketimbangan itu. Jika Jean berani, yang lain pasti berani ikutan.
" Aku gemuk 2 kilo dalam 10 hari," oceh Aldi.
" Enak tinggal di Glodok, banyak penjual makanan." Pak Ahmad mengomentari.
" Ya sih, akhir-akhir ini aku banyak makan."
" Lari pagi biar langsing kembali,"

Aldi tersenyum. Boleh juga usul pak Ahmad. Lari pagi. Sekalian memanjakan mata di pagi hari. Aldi kembali ke mejanya, kembali menekuni naskah. Jean masih marah padanya, masih malas bicara dengannya.

Gara-gara Jean malas ngomong dengannya, Aldi belum menyerahkan Ksatria Sejati yang sudah selesai dieditnya. Malam-malam ia kehilangan pekerjaan tambahan. Agar tidak bete, malam ini dia keluar berjalan-jalan. Kemana tujuannya ? Di Glodok, ada sebuah kali bernama Kali Krukut. Kali ini melilit jalan Toko Tiga, mengarah ke jalan Belandongan. Dari gang Bahagia, menjelang SDS Ricci, mengambil arah ke sebuah gang kecil bernama gang Rici, akan tiba di Kali Krukut. Aldi melihat seseorang membakar sampah di samping kali. Ia mendekat untuk menghangatkan badan. Begitu mendekat, baru ia sadar orang itu bukan membakar sampah, melainkan kertas sembahyang, dan yang melakukannya adalah seorang kakek tua.

Melihat Aldi mendekat, kakek tua itu tertegun, tapi hanya sejenak, setelah itu meneruskan pekerjaannya.

" Bakar kertas akherat buat siapa, kek ?" tanya Ali, berusaha beramah-tamah dengan kakek  itu.
" Buat cucuku."

Biasanya, kertas akherat dibakar oleh golongan muda untuk golongan tua yang sudah meninggal. Sudah banyak yang meninggalkan tradisi ini karena alasan polusi dan keamanan. Aldi merasa aneh. Kenapa kakek tua itu terbalik, membakar kertas akherat untuk cucunya  yang dua generasi di bawahnya?

Kertas sembahyang yang dipegang kakek itu masih setumpuk besar. Aldi mengulurkan tangan. " Kubantu, boleh ?" tanya Aldi.
Kakek itu menatap Aldi, mungkin ingin menilai orang di depannya itu punya niat jahat atau tidak. Melihat tampang Aldi yang tampan, kakek itu menyerahkan seikat sedang. ( satu ikat kertas sembahyang ada yang terdiri dari 10 ikat kecil atau 6 ikat sedang). Yang di tangan kakek itu   masih 3 ikat sedang. Aldi mulai memburai kertas sembahyang agar jika ditaruh ke api gampang terbakar. Melihat kelincahan tangan Aldi, kakek itu tertegun.
" Berasal dari mana, nak ?" tanya kakek itu.