Deri Prabudianto
Deri Prabudianto karyawan swasta

Hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Novel

Namaku Awai 302

10 Oktober 2018   04:58 Diperbarui: 10 Oktober 2018   05:08 591 0 0

Awai terharu melihat tulisan ayahnya, ia menjawab, " Aku sudah punya pakaian baru, papa. "

Tan Suki tak percaya. Ia tak melihat Awai membawa pulang pakaian baru.  Ia menulis: mana, coba kulihat.

Awai ke lemari pakaian, mengambil selembar kaos biru yang masih berada dalam kantongan plastik. Ia membuka plastik dan menunjukkan kaos itu pada ayahnya. Tan Suki melelehkan airmata. Kaos itu di bagian punggung bertuliskan : Petugas Kebersihan Megaria.

" Jangan bersedih, papa. Biar ini seragam kerja, yang penting belum pernah dipakai. "

Tan Suki merangkul anaknya, airmatanya membanjir untuk menyumpahi ketidakberdayaannya. Sakitnya telah membuat sebuah keluarga tak berdaya.

Baju-baju baru itu menimbulkan masalah. Malam menjelang Imlek, Lim Huina bertanya pada Atuan dan Ani, darimana anak-anaknya mendapatkan baju baru. Atuan dan Ani mengatakan baju mereka dibelikan oleh Awai. Huina menunggu Awai pulang dan mengamuk.

" Kamu punya uang tapi tidak menyerahkan padaku. Kamu mulai ingin mengangkangi gajimu untuk kesenanganmu !" tuduh Huina dengan mata melotot.

" Gajiku selalu kuserahkan pada mama. Aku tak pernah bermaksud begitu, mama." Awai membela diri.

" Baju Ani dan Atuan siapa yang beli !!! Mereka bilang kamu yang beli. Kalau gajimu diserahkan padaku, darimana kamu mendapat uang membeli pakaian pakaian itu !"

" Itu angpao imlek dari Paman Hsu, ma. Paman Hsu yang menyuruhku membeli pakaian adik adik dengan uang itu." Jawab Awai.

" Kenapa kamu lebih patuh padanya ketimbang ibumu !!! Seharusnya semua uang yang kamu terima dari siapapun harus kamu serahkan padaku !!! "

Awai terdiam. Apakah betul semua penghasilan anak harus diserahkan pada ibu ? Apakah ia tak boleh menyimpan sedikit untuk membeli sesuatu untuk adik adiknya ? Kalau benar begitu aturannya, kenapa gaji Akian hanya diserahkan separo pada ibunya ? Ia tak berani mengutarakan kejanggalan pikirannya.