Mohon tunggu...
DENY FIRMANSYAH
DENY FIRMANSYAH Mohon Tunggu... PENULIS

Menulis, melukis, bisnis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Orang-orang Pada Berjualan

26 Juli 2020   21:10 Diperbarui: 31 Juli 2020   06:00 107 6 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Orang-orang Pada Berjualan
dok. pribadi

Mungkin inilah cara Allah 'memaksa' bangsa ini agar menekuni kewirausahaan. Sesuatu yang disuarakan lebih dari 30 tahun yang lalu, sejak era Presiden Suharto. Karena pola pikir dan cita-cita umumnya orang Indonesia sejak zaman penjajahan adalah menjadi ambtenaar, menjadi pegawai pemerintahan. Mungkin baru paruh kedua tahun 1990-an, setelah ada teve swasta, anak-anak kecil dan remaja mulai bercita-cita menjadi artis.

Para orang tua ingin agar anak-anak mereka menjadi pegawai negeri. Profesi itu jelas lebih menjamin, lebih stabil.  Semasa aktif kau menerima gaji tetap, aneka tunjangan dan ceperan. Sesudah ringkih dan tak terpakai kelak kau menerima 'pangsiun'. Tidak mengapa kawin dengan yang namanya bosan, yang penting perut tidak lapar, tidak mengemis, apalagi sampai berbuat kriminal.

Olok-olok terhadap profesi pegawai negeri sudah pula dilancarkan kalangan seniman.  Bacalah misalnya kumpulan cerita pendek 'Keajaiban di Pasar Senen' karya Misbach Yusa Biran yang ramai dibajak itu. Sayangnya, pihak yang mengkritik tidak lebih baik dari segi finansial dibanding pihak yang dikritik.

Bacalah juga kumpulan kolom Mahbub Djunaidi terutama yang berjudul 'Juara Pertama Penataran' yang secara satir mencandai kaum pejabat dan pegawai negeri. Seakan-akan para pegawai negeri itu adalah hewan yang pandai bertukar warna.

Akan tetapi apa jadinya jika tidak ada aparat pemerintah? Semua hak pengesahan dan legalisasi tergantung pada ada tidaknya stempel dan tanda tangan pejabat birokrasi.

Rakyat harus berziarah ke sana, antre, seraya berpindah dari satu meja ke meja yang lain. Map yang berisi aneka dokumen itu harus ditata sedemikian rupa, kadangkala dengan amplop tersembunyi di antara kertas-kertas yang ada.

Tentu masih banyak yang mendamba menjadi Aparatur  Sipil Negara (ASN), meski anggaran negara belakangan juga disunat habis-habisan untuk mereka. Perusahaan-perusahaan swasta di masa pandemi banyak yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Korban PHK di mana-mana. Semua harus hidup, semua harus  survive. Cara terbaik untuk beroleh uang cepat tentu saja dengan menjual sesuatu, alias berdagang.

Kewirausahaan menggeliat kembali. Yang viral mudah diamati via media sosial . Konten-konten mulai mengalami pergeseran. Yang tadinya mengunggah kegiatan berlibur bersama keluarga, selfie, foto hidangan yang hendak disantap, foto kumpul-kumpul bersama teman kini berganti dengan foto atau video barang-barang dagangan: cemilan, pakaian, alat rumah tangga, herbal, apa saja yang bisa dijual dan menghasilkan uang. 

Tentu masih ada orang-orang yang dikaruniai Allah kelebihan harta. Status mereka masih berkisar kegiatan pribadi atau kegiatan hepi-hepi atau kegiatan sosial. Yang mulai berjualan menyiratkan sedang tidak ada kepastian penghasilan.

Orang-orang pada berjualan. Teman, saudara serta karib kerabat yang dekat dan yang jauh disodori banyak sekali tawaran. Mereka juga memiliki keterbatasan dan tanggung jawab individual masing-masing. Apakah harus membeli karena butuh, solider atau kasihan? 

Baiklah kita beli karena ingin membantu, tetapi membantu tidak harus habis-habisan. Soalnya kita sendiri mau kehabisan dan ada pihak yang harus lebih dulu dipentingkan: anak istri, baru kemudian si brother yang kini menjadi pedagang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN