Mohon tunggu...
DENY FIRMANSYAH
DENY FIRMANSYAH Mohon Tunggu... PENULIS

Menulis, melukis, bisnis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Ruang Berbuat Salah

29 Juni 2020   17:44 Diperbarui: 4 Agustus 2020   07:12 51 1 0 Mohon Tunggu...

Kemana pun kau pergi selalu terbuka ruang dan peluang untuk berbuat salah.

Akan tetapi selaku manusia merdeka, aku selalu membutuhkan ruang dan celah itu. Karena dengan cara itu aku bisa belajar. Merasakan gelisah lantaran dikejar rasa bersalah, menyesal, merasakan malu dan rendah diri. Sehingga dengan berbuat keliru dan aib itu sulit bagiku untuk menyombong di antara hamba-hamba Allah. 

Aku juga budak. Aku katakan aku merdeka guna memuaskan egoismeku semata, selaku manusia. Namun pada kenyataannya aku ini terikat dan tak bisa kemana-kemana.  Aku diatur oleh Sang Maha Pencipta. Aku hidup rutin dan dipaksa hidup secara teratur, dari segi tata cara, ruang dan waktu. 

Aku tak bisa berontak dan protes. Bahkan atas nyawa dan tubuhku sendiri aku tak berkuasa.  Tampangku yang imut tak punya saham aku di sana. Segala yang indah berasal dari-Nya. Apa kuasaku kalau aku kena musibah dan cobaan? Sebab itu tak lain akibat kesalahan dan dosaku belaka. Balasan sesuai perbuatan. Protes dan marah hanya mengundang kemurkaan-Nya yang lebih besar dan lebih segera. Aku dikepung kuasa-Nya dan tak berdaya.

Semua ruang terbuka untuk berbuat salah. Tak ada tempat lari untuk meminta maaf dan ampunan, melainkan kepada-Nya.

Mungkin aku sok agamis. Di balik kata-kataku itu bisa jadi ada motif-motif busuk yang hanya terdeteksi oleh Al Bashir Al Khabir. Akan tetapi sejauh kesalahanku kepada-Nya, selaku hamba-Nya, aku berharap toleransi yang maha luas, kadar tenggang yang maha lapang atas kesalahan-kesalahan yang  kuperbuat. Yang dalam bahasa agama disebut 'dosa-dosa' itu. Karena Dia 'hanya' tak menolerir dosa syirik: menyetarakan diri-Nya dengan tuhan-tuhan palsu.  Dia membuka ruang agar aku dan hamba-hamba-Nya yang lain tak putus harapan, selama nyawa belum ditarik malaikat maut sampai ke tenggorokan, masih ada jalan pulang, untuk menghapus segala catatan kesalahan nan kelam itu, seluruhnya.

Sejauh urusan kesalahanku kepada Tuhan dan diriku sendiri, terbuka lebar ruang toleransi, keampunan dan perbaikan diri.

Kini tibalah persoalan yang lebih rumit saat menyoal kesalahanku kepada orang lain, baik yang sengaja maupun tak tak sengaja, dalam masalah harta, sikap dan kehormatan.  Apakah mereka mau menganggapnya tiada? Bagaimana jika aku keburu mati dan belum sempat melunasi tanggungan-tanggungan yang masih menyisa? Sudah pasti runyam di alam sana. Bagaimana kalau masih ada orang yang marah kepadaku, masih menyimpan dendam lantaran lidahku membuat mereka sakit hati atau omonganku merusak harga diri mereka? Kebangkrutan pahala bisa jadi kualami, karena pahalaku diambil oleh mereka yang aku zalimi.

Sebaliknya, apakah aku sanggup memaafkan dan menenggang kesalahan orang-orang yang menzalimi aku dalam masalah harta dan kehormatan? Apakah aku memaafkan segala kata-kata yang menyakitkan, umpatan, buruk sangka dan kecurigaan, sikap yang kasar, vonis yang salah sasaran, intipan dan sikap memata-matai, ghibah dan fitnah, penghancuran kehormatan dan harga diri. Apa benar sudah kutoleransi? Apa benar sudah kuampuni? Sudah kumaafkan?  Apa benar itu berasal dari jiwa besar? Apakah aku tak mendendam? Apakah kali ini saja aku bilang kumaafkan padahal di masa mendatang bisa jadi kuungkit kembali?

Andai ada orang yang melakukan manipulasi keuangan bukan terhadap diriku pribadi tetapi terhadap masyarakat luas, seberapa besar kemaafan dan tenggang yang harus diberikan? Apakah sebaiknya kita tutupi manipulasi dan penipuannya kepada masyarakat dan berharap ia akan tobat sebelum nyawanya diambil Allah Subhanahu Wa Ta'ala? Tidakkah sebaiknya kita tutup mata, tutup mulut dan tutup telinga sementara ia leluasa melangsungkan terus eksploitasinya terhadap uang amanat rakyat?

Itukah sikap yang benar? Kita doakan kebaikan untuknya dan kita tutupi kekurangannya, sambil kita nasihati jika sanggup?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x