Mohon tunggu...
DENY FIRMANSYAH
DENY FIRMANSYAH Mohon Tunggu... PENULIS

Menulis, melukis, bisnis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Life is Money Education

23 Juni 2020   19:24 Diperbarui: 31 Juli 2020   06:03 61 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Life is Money Education
white-camera-and-eyeglasses-with-black-frame-1261732-5ef2842c097f360e0c374e28.jpg

Tentu saja kalimat dalam bahasa Inggris di atas hanya membuat orang Inggris mengerutkan dahi.

Akan tetapi stetmen di atas ada benarnya, meski bukan kebenaran mutlak. Ternyata segala jerih payah kita dengan segala yang falsafi, yang artistik, yang imani bahkan, ujung-ujungnya hanyalah uang. Anda boleh mengiyakan sebagai bagian dari silent majority,  atau silakan berbeda pandangan sebagai bagian dari creative minority.

Yang paling menohok benar dalam hal ini adalah diselenggarakannya pendidikan akuntansi, lantas sekolah tinggi bisnis, fakultas ekonomi, manajemen pemasaran dan yang serupa. Pendidikan-pendidikan jenis lain yang idealitis, yang tampaknya tak berhubungan dengan uang, pada akhirnya juga harus di-uang-kan. Sedangkan jurusan-jurusan lain sudah pasti berhubungan dengan industri dan memang tujuan akhirnya tak lain adalah kesejahteraan finansial, baik individu maupun kolektif. 

Kategori negara maju, berkembang atau terbelakang juga didasarkan pada pendapatan per kapita, jelas ukurannya dinyatakan dalam satuan mata uang.

Ah, uang hanyalah jembatan. Jembatan menuju pemenuhan kebutuhan dasariah manusia, pemenuhan keinginan serta kenikmatan-kenikmatannya. Munafiklah saya  bila berkata tidak butuh uang. Sebab ia adalah bagian penting dari pertimbangan. Sejauh yang menimbang adalah orang kebanyakan. 

Segala yang berhubungan dengan uang ini menentukan tinggi rendahnya harga diri juga. Tidak punya uang akhirnya ngutang, membuat orangnya turun derajat. Sebab tangan yang di bawah pasti lebih rendah dari tangan yang di atas. 

Sebenarnya bagaimana sikap atau ekspresi yang benar menyangkut kadar kebutuhan kita terhadap uang ini? Pura-pura tidak butuh? Dalam hal ini perlu ada pengelolaan sikap yang benar: semacam pura-pura yang sungguh-sungguh.

Pendidikan kewirausahaan memang sangat diperlukan, supaya warga negara seluruhnya mandiri dan pandai menghasilkan uang. Membuat uang itu yang mengejar-ngejar bukan dikejar-kejar. Tidak itu saja, peserta didik juga harus dilatih tidak kemaruk duit dan punya rasa tawakal yang tinggi.

Oleh karenanya, patut diapresiasi sekolah yang mengajarkan praktik business survival, praktik magang, serta backpacking dalam kerangka belajar dan bertahan hidup. Sebab kehidupan nyata para peserta didik itu nantinya kurang lebih seperti itu: keras dan menuntut, serba darurat, berisi kemungkinan-kemungkinan terbaik hingga terburuk. Mereka harus dilatih mampu mengelola emosi dan keterkaitan hatinya dengan Yang Maha Memberi Rezeki. Sebab, seringkali karakter uang itu anomali: dikejar dia lari, tidak diharap malah datang sendiri.

Sekarang persoalannya: jika para penyelenggara pendidikan itu sendiri orientasinya hanya uang dan uang: menjadikan para guru dan pendidik tak lebih dari buruh penggerak roda ekonomi dan kapital bos-bos di atas sana, menjadikan wali murid sebagai mesin uang, dan melihat pendidikan sebagai lahan bisnis, sahih sudah judul tulisan di atas. 

Hidup adalah pendidikan guna mencari uang. Pendidikan artinya memberi aneka keterampilan kepada peserta didik agar pandai mencari atau menghasilkan uang.

Dimulai dan diberi teladan pertama kali oleh pemilik sekolah.

VIDEO PILIHAN