Mohon tunggu...
DENY FIRMANSYAH
DENY FIRMANSYAH Mohon Tunggu... PENULIS

Menulis, melukis, bisnis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pikiran di Balik Pikiran

21 Juni 2020   21:16 Diperbarui: 21 Juni 2020   21:13 28 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pikiran di Balik Pikiran
www.kanddsystems.comt

Jika orang berhenti pada pikiran lapis pertama (yang disebut juga 'kesan pertama') kemudian menyimpulkan dan membangun opini atas dasar kesan tersebut, itu artinya misi pencitraan telah berhasil. Ini pencitraan yang dangkal untuk publik yang naif dan bloon.

Di ranah yang lain yang berbau intelejen, drama-drama lebih ruwet. Skenario menghentak-hentak tetapi menuju arah yang diinginkan sang penulis skenario. Pikiran orang dibuat mengarah ke barat supaya skenario berjalan ke arah timur.

Masyarakat yang makin 'sadar politik' tidak akan berhenti pada kesan pertama dari suatu kejadian, gambar, video, perkataan atau perbuatan seorang public figure. Untuk sebagiannya kritisisme publik terhadap  tokoh-tokoh masyarakat itu bisa dibenarkan. Karena di dunia sekarang -dalam wacana politik komtemporer- orang yang tidak bersyak wasangka adalah orang tolol.

Kita diajarkan untuk tidak bersyak wasangka --yang persentasenya bertingkat dari nol persen (bodoh, bebal, tidak mengetahui sama sekali) hingga seratus persen (mengetahui secara yakin dan ilmiah). Tidak bersyak wasangka setara dengan bersikap ilmiah. Andai sikap ilmiah dan bersih hati itu dirusak, maka bersyak wasangka menjadi alamiah dan bahkan dianjurkan.

Dengan tidak bersyak wasangka sesungguhnya, dada menjadi lega, pikiran tenang, tidak mudah was-was dan tidak gampang curiga. Menjalin relasi sosial dengan orang jadi  nyaman, intim dan tanpa beban. Ini hukum asalnya. Namun kenyataan seringkali berbicara lain.

Jika kebersihan hati yang ilmiah ini dirusak, wajarlah orang menjadi mudah bersyak wasangka. Mereka jadi berpikiran macam-macam, menduga macam-macam, karena dunia sudah terbalik dan diacak-acak oleh para politisi. Orang jadi berpikir politik dan berburuk sangka bahkan untuk sesuatu yang (tampaknya) 'baik'.

Apakah dana bantuanmu itu tidak mengandung politik, bukan bagian dari money politics? Apakah misi kemanusiaanmu itu benar-benar untuk membantu manusia atau sekedar agar orang berpikir bahwa kamu itu peduli dan suka membantu sesama? Ataukah kamu berlagak manusiawi untuk menutupi nafsu kebinatanganmu? Apakah wajahmu itu bukan topeng? Apakah misi pendidikanmu itu benar-benar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa? Apakah ceramahmu itu sudah sesuai dengan yang kamu amalkan? Apakah kamu lagi ngibul?

Audiens yang political minded itu selalu menduga-duga dan buruk sangka karena berkali-kali ditipu dan dibohongi. Bukti bahwa masyarakat sudah sangat political minded adalah: mereka makin terbiasa dengan prank. Candaan bohong-bohongan itu makin gawat jadi makin lucu. Umpamanya ada youtuber yang pura-pura bertato, lantas ibu dan ayahnya marah, entah marah sungguhan atau marah pura-pura juga. Dalam realitas dramatik  itu kita sulit memastikan mana yang benar-benar benar dan mana yang setingan.

Karena pikiran politis itu pula maka orang yang hendak berbuat baik malah dicurigai. Jangan-jangan berbuat baik itu ada apa-apanya. Dan memang sukar sekali menjaga ketulusan. Jangan-jangan kamu nyumbang sana nyumbang sini karena ada misi jualan. Karena berkedok. Serba salah juga ya, kalau tidak berbuat sosial, komersial doang, orang juga tidak suka.  Sementara itu tindakan sosial dicurigai memuat misi komersial. Dan terkadang atau bahkan seringkali dugaan itu benar!

Politik pencitraan itu seumpama siaran radio. Orang menyebut suara dan bebunyian di radio itu sebagai 'theater of minds', teater pikiran-pikiran. Orang dipaksa mengkhayal dan menduga-duga tentang tokoh-tokoh yang ada suaranya namun tidak tampak wujudnya. Pikiran mereka bisa jadi benar dan kerap pula salah. Yang benar tentu 'khayalan' yang sudah diseting penyusun sandiwara radio. Dahulu orang mengira sosok Ferry Fadly pengisi suara Brama Kumbara dalam suatu sandiwara radio sebagai sosok pria bertubuh kekar. Nyatanya mendiang Ferry adalah seorang yang bertampang klimis dan bertubuh kurus.

Kemampuan dan kekuatan mengarahkan pikiran-pikiran itu hanya dimiliki dua orang saja: orang yang benar-benar tulus dan atau politikus yang benar-benar lihai.

Apakah saya lagi ngibul?

VIDEO PILIHAN