Mohon tunggu...
DENY FIRMANSYAH
DENY FIRMANSYAH Mohon Tunggu... PENULIS

Menulis, melukis, bisnis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Melihat dari Kejauhan

16 Juni 2020   20:45 Diperbarui: 16 Juni 2020   21:01 21 2 0 Mohon Tunggu...

Hari ini saya dengar Bumi Perkemahan Jakarta (Buperta) sudah buka. Itu artinya orang bisa lari pagi atau sekedar duduk-duduk di dekat danau, menikmati jejeran pohon, ruang serta langit yang terbuka.

Yang berkunjung ini hari Selasa, 16 Juni 2020  tidak banyak. Cahaya pukul sembilan pagi yang menimpa pepohonan menghasilkan terang dan bayangan yang sedap dipandang.

Hanya ada kumpulan pekerja sinema elektronik dengan segala latar buatan di salah satu sudut bumi perkemahan. Juga jejeran sepeda motor milik pekerja kebersihan yang berkumpul di salah satu bangunan kantor dekat lapangan utama. Tampaknya ada suatu pengumuman atau suatu urusan penting yang mesti diselesaikan.

Suara beburung lebih rame dari dulu-dulu. Agaknya mereka lebih berani terbang rendah, karena tahu selama kurang lebih dua bulan belakangan ini tidak ada manusia yang boleh masuk ke hutan kota.

Rerumputan sudah tinggi dan berbunga. Di tepi danau, sampah agak berserak. Para pedagang makanan kecil di dekat danau -yang kebanyakan ibu-ibu tua- sudah menggelar dagangan sejak pagi, tetapi yang datang ke tepi danau pagi itu hanya saya dan kedua putri saya.

Di salah satu bangku ada lelaki tua yang asyik nonton dangdut di ponselnya. Di bangku lain yang agak jauh ada petugas kebersihan yang nyenyak betul tidurnya. Di kejauhan terdengar suara proyek pembangunan apartemen di sebelah Trans Studio, juga derum kendaraan dari jalan raya.

Sebelum pulang kedua putri saya minta diberi kesempatan berlari di lapangan utama Buperta. Saya parkir sepeda motor di sisi lapangan sementara mereka berlari menuruni bidang tanah yang menapak ke bawah menuju lapangan utama yang sangat luas.

Nakhla (11) dan Humaira (8) tampak gembira. Mereka mulai adu balap lari mengitari lapangan. Makin jauh mereka lari, semakin tubuh mereka mengecil dari pandangan. Semakin jauh hingga yang tampak hanya warna jilbab dan pakaian mereka, dari tempat saya duduk.

Pada saat itulah tiba-tiba suatu perasaan aneh menyergap hati saya. Kenapa tiba-tiba saya merasa sedih? Melihat kedua anak perempuan itu dari kejauhan saya merasakan adanya jarak, keterpisahan, sekaligus kekuatiran.

Beginilah rupanya rasanya terpisah, jauh dari anak. Ada rasa takut dan kehilangan. Suatu saat kita harus berpisah juga, Nak. Entah karena kalian dewasa atau karena kita mati dan tidak jumpa-jumpa lagi di alam akhirat sana. Aduh kok jadi melow begini ya?

Tiba-tiba saya bisa merasakan kecemasan orang tua saya saat saya merantau dulu, ke luar Jawa dan ke luar Jakarta. Tiba-tiba saya bisa merasakan kekuatiran ayah dan ibu mertua saya terhadap istri saya. Mereka menguatirkan mata pencaharian saya semasa pandemi karena putri mereka ada di bawah tanggung jawab saya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN