Mohon tunggu...
Dennis Baktian Lahagu
Dennis Baktian Lahagu Mohon Tunggu... Lainnya - Seorang suami dan ayah, stay di Kota Gunungsitoli

Generasi X, penikmat syair-syair Khairil Anwar, fans dari AC Milan, penyuka permainan basketball.

Selanjutnya

Tutup

Indonesia Sehat Pilihan

Jangan Abai, Perlu Pengawasan dan Pemeriksaan Kualitas Air Minum Isi Ulang Produksi Depot

24 September 2022   11:56 Diperbarui: 24 September 2022   12:44 185 31 5
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Paparan BPA pada air minum kemasan galon mengkhawatirkan. || Foto: kompas.com

Setelah menyelesaikan belanja sore itu, Wiro segera pulang kerumahnya di daerah Jati Waluh. Mobil bertipe city car yang dikemudikannya melaju perlahan seiring suara saxophone Kenny G mengalunkan Going Home terdengar merdu dari audio car.

Tidak seperti biasanya, Wiro mengambil rute yang sedikit jauh. Mungkin karena jam masih menunjukkan pukul. 17.21 WIB sehingga dia tidak terburu-buru untuk sampai ke rumah. Dia yakin tidak bakal kena interogasi istri karena pulang terlambat, toh istrinya sedang duduk manis disebelahnya sore itu.

Wiro membelokkan arah mobil ke kanan memasuki Jalan Jati Waringin. Rumah-rumah penduduk jarang-jarang disepanjang jalan ini. Namun pemandangan persawahan yang asri merupakan suguhan alam yang eksotik apalagi di sore hari, disaat mentari sedang perlahan turun ke barat, sangat disayangkan untuk dilewatkan.

Sambil menyetir perlahan, disaat Kenny G sedang meniupkan saxophone Sentimental-nya, mata Wiro tampak tertuju pada sebuah kendaraan minibus model pick up yang sedang parkir disebelah jalan berlawanan arah dengannya. Bak kendaraan penuh dengan galon air mineral yang tersusun. Tampak dua orang lelaki, sepertinya pengemudi dan awak pick up, berdiri di belakang kendaraan. Beberapa galon berjejer disamping mereka. Satu diantaranya yang berkaos kuning, sedang memegang selang dengan air mengucur deras. Segera memasukkan ke mulut galon yang kosong setelah terlebih dahulu memasang semacam filter di mulut galon. Lelaki yang berkaos silver lusuh menutup mulut galon yang terisi penuh air dan segera mengangkatnya ke atas bak mobil.

Wiro sempat memperhatikan selang tersebut tersambung pada sebuah kran bak pemandian umum yang berada tidak jauh dari sisi mobil pick up. Tidak ada seorang pun di pemandian itu. Mungkin karena masih terang, pikirnya, ngapain pula mandi-mandi disitu. Wiro melirik istrinya, hendak mengatakan sesuatu. Namun urung meneruskannya, karena kurang yakin apakah istrinya sedang memejamkan mata dibalik kaca mata hitamnya dengan sandaran kursi yang distel merebah kebelakang. Sambil terus berlalu, Wiro menumpuk segudang tanya tak terjawab atas aktivitas kedua orang pengantar air galon yang barusan dilihatnya. Apakah selama ini sumber air kemasan galon mereka berasal dari pemandian itu? Apa perlu hal ini diketahui Eyang Sinto Gendeng? batinnya.

Kebutuhan akan air mineral merupakan persoalan tersendiri khusunya bagi penduduk yang bermukim di perkotaan. Kehadiran air mineral kemasan yang diproduksi sejumlah perusahaan besar yang dapat dengan mudah didapatkan di supermarket, minimarket bahkan tersedia di warung-warung kecil di sudut-sudut gang, menjadi solusi.

Produk air mineral kemasan, apakah itu dalam ukuran galon, botol dan cup sedang bertransformasi menjadi sebuah kebutuhan tak tergantikan. Saat ini mengkonsumsi air mineral menjelma menjadi sebuah gaya hidup. Selain tidak sulit untuk mendapatkannya, air mineral kemasan juga diyakini telah steril dan siap dikonsumsi.

Hanya terkadang harga untuk memperolehnya sering dianggap kemahalan terutama bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Besaran harga pastinya ada karena kualitas dan proses produksinya yang menerapkan standar tinggi. Sehingga diantaranya sering menjadi sponsor resmi event-event nasional dan internasional. Keberadaan air mineral ini telah melewati sejumlah uji kualitas produk berstandar sebelum dipasarkan.

Seiring perkembangannya, air mineral ternyata juga dapat diproduksi dalam skala rumahan dengan kehadiran mesin air isi ulang. Hanya memerlukan ruangan seluas kamar tidur normal atau ruang tamu, mesin tersebut dapat dirakit dan didudukan di rumah. Harganya pun tidak membolongi kantong terlalu dalam jika membandingkan profit yang didapat.

Depot air isi ulang, demikian kita mengenalnya, menjamur dimana-mana. Bahkan dalam satu jalan sepanjang 1 km, bisa terdapat empat depot yang sama walau pemiliknya berbeda dan merk mesinnya barangkali juga beda. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Indonesia Sehat Selengkapnya
Lihat Indonesia Sehat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan