Mohon tunggu...
dennmasdeni
dennmasdeni Mohon Tunggu... Ordinary People who have extraordinary dreams

peminat masalah sejarah, sosial, agama, budaya, pendidikan dan literasi. pernah menjadi analis media, jurnalis, dan editor. Saat ini aktif sebagai ASN non PNS di Biro Perencanaan Kemenag.

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Haji yang Mencerahkan

19 Mei 2021   09:37 Diperbarui: 19 Mei 2021   09:47 107 0 0 Mohon Tunggu...

Judul Buku             : Haji, Transformasi Profetik Menuju Revolusi Mental
Penulis                    : Dr. H. Ali Rokhmad, M.Pd dan Dr. H. Abdul Choliq, M.Ag
Penerbit                  : Media Dakwah
Tahun Terbit         : Mei-2015 (cetakan pertama)
ISBN                         : 978-979-8736-73-5
Halaman                 : xii + 286 Halaman
Peresensi                : Deni Adam Malik

Pada hakikatnya seluruh ibadah-ibadah yang diwajibkan atas manusia oleh Allah SWT adalah sebuah sarana untuk melatih kepekaan manusia atas keadaan di lingkungan sosialnya. Seperti sh0lat misalnya, dalam anjuran sholat berjamaah terkandung sebuah makna tentang bagaimana sikap seorang pemimpin (imam) dan orang yang dipimpin (makmum). 

Begitu pun ibadah zakat dan berpuasa, di dalamnya sarat dengan kandungan moral sosial. Puasa dan zakat adalah sarana untuk melatih dan membangun kepekaan sosial kita selaku umat Muslim atas apa yang dirasakan oleh mereka yang kehidupannya kurang beruntung. Lantas timbul pertanyaan, bagaimana dengan ibadah haji?

Seperti ibadah-ibadah lainnya, ibadah haji juga adalah sebuah praktik olahraga dan olah spiritual guna menjadikan kita melek atas kenyataan sehari-hari yang kita alami di sekitar kita selama hidup. Haji merupakan ibadah yang sangat penting bagi umat Muslim sedunia. 

Keutamaan ibadah haji salah satunya tercermin dari sabda Rasulullah, "Sebaik-baik amal ialah; Iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, kemudian jihad fi sabilillah, kemudian haji mabrur." Keberadaan haji sebagai ritual keagamaan pada akhirnya bertujuan untuk membuang sifat kebinatangan yang ada di dalam diri manusia, setelah melaksanakan haji diharapkan manusia menjadi lebih bersih dan suci. Manusia dengan mental yang baru, mental yang lebih baik lagi dari mental sebelumnya.

Sebagai perjalanan spiritual napak tilas kehidupan para nabi, ibadah haji memerlukan kesiapan mental yang melandasi niat yang tulus, ikhlas, ikhtiar, sabar, syukur dan tawakal. Maka hasil yang diperoleh haruslah seimbang dengan kesadaran mental dan perubahan sosial yang didapat, yaitu kesalehan secara individual maupun kesalehan secara sosial. Sebagai sebuah visi profetik, ibadah haji seharusnya memiliki daya dorong yang kuat untuk perubahan, terutama perubahan mental. Bahkan perubahan tersebut dapat juga membawa dampak positif terhadap komunitas. Inilah haji, sebuah visi kenabian yang diharapkan dapat membawa perubahan mental maupun perubahan sosial bangsa Indonesia (agent of change).

Buku Haji, Transformasi Profetik Menuju Revolusi Mental membahas mengenai ritual haji yang diwariskan para nabi (visi profetik) yang dapat membawa kesadaran dan perubahan umat menjadi lebih baik (insan kamil), lebih peka, lebih berintegritas, lebih profesional,  dan lebih peduli terhadap kondisi sekitarnya yang dimulai dari dalam dirinya (revolusi mental). 

Haji adalah ibadah warisan para nabi yang memilik dampak sekaligus hikmah yang luar biasa. Dampak haji bukan hanya dirasa oleh individu tetapi juga sosial dan hikmahnya adalah perubahan sosial yang didasarkan keimanan dan ketaqwaan.

Di bagian ke-1 buku ini mengulas secara singkat apa itu Transformasi Profetik. Profetik memiliki makna kenabian atau sifat yang ada dalam diri seorang nabi, yaitu sifat nabi yang mempunyai ciri sebagai manusia yang ideal secara spiritual-individual, tetapi juga memiliki pelopor perubahan, membimbing masyarakat ke arah perbaikan, serta daya juang yang tangguh. Sedangkan transformasi adalah perubahan, perubahan di sini tentunya dipengaruhi atau diilhami cara Nabi SAW melakukan perubahan sosial, bukan sekedar membebaskan dari ketertindasan tetapi juga mengarahkannya.  
 
Bagian ke-2 buku ini menjelaskan mengenai hakikat penciptaan manusia, yaitu sebagai khalifah di bumi yang tugasnya adalah beribadah (menyembah) Allah SWT. Di antara kewajiban ibadah tersebut adalah kewajiban menjalankan ibadah haji. Pada bagian inilah asal-usul Ka'bah sebagai 'rumah Allah' tertua dikisahkan berdiri. Dikisahkan saat Nabi Adam A.S dan Ibunda Siti Hawa diusir dari surga 'Adn  mereka terpisah, lalu Allah mempertemukan mereka di padang Arafah. 

Melalui malaikat Jibril AS, Allah memerintahkan Nabi Adam AS membangun rumah Allah (Baitullah) yang lokasinya sekarang adalah Ka'bah. Jibril AS juga mengajarkan Nabi Adam untuk berkeliling Ka'bah (tawaf). Tawaf adalah simbol praktik ibadah yang menyenangkan bagi para malaikat kepada Allah SAW. Ritual haji kemudian diteruskan oleh Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail, dan Siti Hajar. Maka, selain, wukuf, tawaf ritual haji berkembang menjadi haji dan umroh dan terus disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW.

Pada bagian ke-3 dan ke-4 membahas terkait teknis pelaksanaan ibadah haji, dikatakan bahwa syarat wajib haji itu mampu, baik mampu secara fisik, mental, maupun financial. ketiga syarat mampu ini harus beriringan bersama. Namun demikian syarat mampu ini juga menjadi pangkal sukses atau tidaknya ibadah haji seseorang sebab setelah kata mampu ini biasanya diikuti dengan niat yang sungguh-sungguh untuk menunaikan ibadah haji karena Allah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN