Mohon tunggu...
Muhammad Dendy
Muhammad Dendy Mohon Tunggu... menulis adalah obat hati

"saya adalah orang yang selalu ingin belajar dan selalu ingin mengembangkan segala potensi yang ada dalam diri saya"

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Jokowi Sangat Mungkin Kandas Pada Pilpres 2019?

14 Agustus 2017   14:55 Diperbarui: 14 Agustus 2017   15:19 11709 8 10 Mohon Tunggu...

Jokowi pada saat ini menjadi rebutan berbagai parpol, bahkan baru-baru ini secara mengejutkan Ketua Umum Perindo yang juga bos MNC Group Hary Tanoe menyatakan dukungannya kepada presiden Jokowi. Tentu saja sebagai  Incumbent atau capres pertahana. Jokowi jauh lebih memiliki modal politik yang begitu besar, jika kita melihat peta politik pada saat ini.

Beberapa pengamat politik dan media massa secara dini telah menyatakan Jokowi sulit untuk ditaklukkan pada Pilpres 2019. Karena modal politik yang begitu besar, yaitu dukungan partai politik yang hampir mencapai 60 persen.

Jokowi diibaratkan Calon Presiden yang sulit untuk dijegal pada Pilpres 2019 mendatang. Padahal jarak waktu Pilpres 2019 mendatang masih cukup jauh, yaitu berkisar 1,5 tahunan lagi. Sebagai contoh pada Pilkada DKI 2017 lalu. Gubernur Pertahana yang ketika itu dijabat oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Diprediksi bakal melenggang dengan mulus, untuk terpilih kembali sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.

Bahkan prediksi tersebut sudah ada semenjak tahun 2015, yang tentu saja terlalu cepat untuk membentuk persepsi publik. Bahwa Ahok adalah Calon Gubernur tak tertandingi pada Pilkada DKI 2017 Mendatang. Akan tetapi hasilnya Ahok kalah telak pada Pilkada DKI 2017 lalu. Mitos bahwa pertahana sulit untuk ditaklukkan terpatahkan oleh kekalahan ahok.

Fenomena untuk membentuk persepi publik, bahwa Jokowi sulit untuk ditaklukkan pada Pilpres 2019 mendatang. Sangat mirip dengan yang terjadi pada fenomena populernya Ahok beberapa waktu lalu.

Jokowi dan Ahok memiliki kesamaan dalam hal ini, yaitu mereka sama-sama memiliki pangggung Politik besar untuk menunjukkan kinerja kepada publik. Karena Ahok dan Jokowi sama-sama memegang jabatan strategis yang banyak menarik perhatian publik nasional. Ahok ketika itu menjabat Gubernur DKI Jakarta, dan Jokowi Presiden RI ke 7.

Akan tetapi Jokowi yang saat ini terbuai dengan kepecayaan diri karena didukung oleh partai-partai besar seperti lupa bahwa di waktu yang masih tersisa sekitar 1,5 tahunan lagi. Tentu banyak isu-isu besar yang akan mewarnai dunia politik Indonesia kedepannya.

Nantinya akan semakin banyak isu-isu yang berhembus, yang tentu saja akan merubah peta Politik Nasional Indonesia hingga Pilpres 2019 mendatang. Battle Ground akan dimulai dengan pilkada Serentak 2018, hingga perang terakhir adalah Pilpres 2019.

Seperti kita ketahui pada Pilkada DKI 2017 lalu muncul kejutan dengan diusungnya Anies Baswedan sebagai calon Gubernur DKI Jakarta dari PKS dan Gerindra. Padahal nama yang santer akan disung oleh Gerindra dan PKS adalah Yusril Ihza Mahendra. Akan tetapi dalam dunia politik setiap perkembangan bersifat dinamis. Karena politik itu sendiri adalah bagian dari ilmu sosial yang tentu berbeda dengan ilmu pasti.

Meskipun Presiden Jokowi pada saat ini memiliki modal kepuasan Publik diatas angka 60 persen. Akan tetapi hal tersebut tidak serta merta membuat langkah Jokowi akan mulus melenggang untuk memenangkan pertarungan Pilpres 2019 mendatang.

Meskipun berdasarkan hasil survey dari SMRC pada periode 14-20 Mei 2017. Dengan komposisi head to head sama seperti pada pilpres 2014 lalu, yakni Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Hasilnya elektabilitas Jokowi 53,7 persen dan Prabowo 37,2 persen. Adapun yang tidak menjawab 9,1 persen.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x