Mohon tunggu...
Slamet riyadi
Slamet riyadi Mohon Tunggu... Darah juang

Makhluk think out of the box yang menyukai bidang Ilmu Sains bekerja sebagai technopreneur dan freelance cyber, penggiat media, selalu haus akan segala Ilmu pengetahuan serta ingin Bermanfaat dalam segala hal.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Terkikisnya Jiwa yang Merdeka

2 April 2021   09:22 Diperbarui: 2 April 2021   10:58 79 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Terkikisnya Jiwa yang Merdeka
Dok. pribadi

Nyatanya penghambat berfikir kritis sudah mulai layu, dari bangku sekolah dasar hingga kuliah, bahkan berhasil menjalar sampai bermasyarat karena feodalisme.

Sejatinya kampus atau sekolah sampai pendidikan non formal merupakan panggung bagi siapa pun yang punya dalil berpikir merdeka, yang seharusnya kampus atau sekolah mestinya menjadi tempat tumbuh suburnya rasionalitas, sikap-sikap kritis dan analitik yang mesti dibiasakan.

Akibatnya menghilangkan independensi berpikir waras yang sehat, hilang pada sikap kritis. Semua yang punya dalil berpikir menganalisa mesti diberi ruang merdeka, jangan malah menjadi penghambat berlogika hingga tumbuh subur di pelihara.

Bangku-bangku pendidikan mestinya menjadi tempat untuk menanam pikiran realistis, tegur-menegur pikiran. 

Kejujuran menegur teman berfikir akan menghasilkan pikiran-pikiran baru, ide-ide baru, inovasi baru. 

Mengkritik itu mengkritik pikiran, bukan menilai individu secara subyektif ataupun menyalahkan secara keseluruhan.

Mengajarkan berfikir kritis di sekolah dari mulai cara menghormati bukan dengan menghambakan, menaati bukan berarti tidak mengkritisi, jadi berbuahlah kebenaran kebenaran cara berpikir bukan terhenti pada kebaikan cara berpikir.

Kaum feodal selalu menghasilkan manusia bermental yang hanya sebatas penghambaan ke setiap orang, yaitu Pertama manusia bermental atasan, kedua, manusia bermental bawahan.

Tipe pertama kaum ini selalu ingin ada di posisi di atas dengan dasar keturunan, golongan, pencapaian, kedudukan. Juga ingin dihormati dan didengar oleh manusia tipe bawahan. 

Sangat berbeda dengan kaum tipe kedua, ia selalu tidak punya rasa percaya diri dan merasa rendah diri, mereka menerima dan betah ada berada dibawah. 

Mereka juga selalu dituntut untuk bersikap sopan oleh kaum tipe pertama, meski sedang diperlakukan secara tidak adil, bahkan mematikan kemerdekaan berpikir.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x