Mohon tunggu...
Demadi
Demadi Mohon Tunggu... -

Habis tangis, kering tawa. Jejak perjalanan. Serpihan-serpihan. Dihidangkan.

Selanjutnya

Tutup

Analisis

2019 Ganti Presiden, Jika...

28 Mei 2018   08:30 Diperbarui: 28 Mei 2018   14:58 1512
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
kaos 2019 ganti presiden (warungkaos dot kom)

Bila suatu pemilihan diikuti oleh tiga atau lebih kubu, masing-masing kubu tidak mudah "mengontrol". Kekuasaan mereka kurang absolut. Jadi dapat diharapkan prosesnya akan relatif lebih tulus, ketimbang pemilihan dengan satu kontestan atau dua kontestan saja.

2019 TIGA PASANG CAPRES

Kenyataan di atas hanya satu dalil bahwa lebih baik pada tahun 2019 yang dirindukan itu, warga disuguhi dengan kompetisi 3 pasangan capres.

Argumen-argumen lain yang dapat dilihat di antaranya,

Pertama, tidak akan ada polarisasi yang ekstrim di masyarakat. 

Dua calon akan mengakibatkan provokasi ini dadaku mana dadamu. Seperti yang terjadi pada tahun 2014. Dimana dikatakan bahwa "masyarakat terbelah". Kalau calonnya tiga, selain inidadaku dan itu dadamu, ada pula dimana dadanya. Kontestan diserang dan menyerang ke kiri dan ke kanan. Tidak fokus ke depan yang menajamkan konflik, membelah masyarakat.

Di tahun 2004 dan 2009, telah terbukti ketika kontestan lebih dari dua kubu, suhu politik relatif aman.

Kedua, meningkatkan partisipasi warga dalam berdemokrasi. Seperti analogi prasmanan tadi, dengan bermacam hidangan maka akan lebih banyak tamu yang datang.

Ketiga, meningkatkan ketersediaan saksi pemilu. Karena saksi disediakan (dan dibiayai) oleh tiga kubu, jumlah saksi yang terlibat lebih banyak. Yang mengamankan hasil perhitungan.

Dan lain-lain.

Hanya saja, ada kenyataan lain yang pasti tidak disukai pihak petahana (Jokowi). Karena dengan konfigurasi tiga kubu ini, peluang ganti presiden lebih besar. Mengapa?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun