Demadi
Demadi

Habis tangis, kering tawa. Jejak perjalanan. Serpihan-serpihan. Dihidangkan.

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Artikel Utama

Perempuan-perempuan yang Meledak dan yang Ditangkap

21 Mei 2018   08:22 Diperbarui: 21 Mei 2018   09:45 2114 11 3
Perempuan-perempuan yang Meledak dan yang Ditangkap
tribunnews.com

Sore  yang lembab di bulan Mei. Sudah beberapa hari hujan tak membasahi sebuah  meja, di sebuah warung, di pinggir sebuah empang.  Air keabuan,  gelembung-gelembung kecil sesekali memecah di permukaan. Udara beraroma campuran antara lumpur, daun kering terendam dan sisa deterjen  basi.

Aku menghirup segelas kopi panas yang baru saja diletakkan, ketika Agus mengangkat telepon genggamnya untuk menunjukan sebuah gambar. Di layar sosok-sosok perempuan berpakaian tertutup, seperti pakaian yang biasa dikenakan di Timur Tengah. Dengan mata-mata saja yang nampak, bagaikan sekelompok ninja, yang berjalan tergesa-gesa. Di antara barisan sepeda motor yang dijajarkan.

 "Huanjee ..!". Begitu kiranya ekpresi kerumunan ketika video singkat itu mencapai titik nadirnya. Perempuan-perempuan tadi telah berubah sekejap menjadi asap.  Orang-orang berlarian karena asap-asap itu. Ada kengerian, ketakutan, kesedihan, keheranan, empati -- dan tentunya, tanda tanya yang bercampuraduk di alam pikiran.

Alam pikiran yang telah beberapa hari tercekat, mengkerut, sebelum sore di tepi empang itu. Telah sekian waktu tak ada perbincangan mengenai harga beras yang merayap, rupiah merosot, hutang meninggi, buruh-buruh impor dan beberapa persoalan negeri lainnya. Bahkan orang-orang telah melupakan berita gempar tentang dilecehkannya seorang perempuan dan anaknya yang sedang berlari pagi, di sekitar bundaran HI.

Karena kejadian “dar-der-dor-bum-bum”, akhir-akhir  ini, telah menyedak di kepala. Dengan sekilas rasa syukur bahwa kepala sendiri rupanya masih utuh sebagaimana adanya. Dan dengan keselamatan itu setidak-tidaknya, seseorang dapat berada pada posisi untuk memberi empati kepada korban yang berjatuhan.

Setelah teriakan di warung  kopi itu, lalu mereka mulai berbincang mengenai detil-detil horor yang baru saja disaksikan. Sesuai pengetahuan maupun background  masing-masing. Ada yang takjub tentang generasi baru terorisme, yang tak dikenal sebelumnya. Ada yang tak percaya dengan kenyataan pahit itu. Dikatakannya “Bangsa kita bangsa welas asih”. Jadi perempuan-perempuan yang meledak itu, tentulah meledak karena suatu tombol yang berada sekian puluh meter dari ground zero.

Ada yang menyangkal, “Ya, bangsa kita welas asih. Namun mereka kerasukan ideologi yang tak welas asih”. “Perempuan jadi tak welas asih”. “Bahkan pada anak sendiri? “. “Ada tekniknya.”. Dan seterusnya.

Andai saja seorang petugas BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) duduk juga di warung itu, tentulah dapat memberi pencerahan pada Agus dan kawan-kawannya. Pertama tentang bagaimana seharusnya kita tidak terlalu spontan mengunduh dan menyebarkan teror-teror. Yang menandai bahwa kejadian teror itu ternyata beredar secara masif dan mandiri untuk melipatgandakan ketakutan. Viral. Yang boleh jadi merupakan (salah satu) harapan dari sang teroris.

Kedua, tentang kebijaksanaan lama yang mengatakan, dalam keadaan pengetahuan yang terbatas, semestinya warga dapat lebih banyak bertahan untuk tidak banyak berkata-kata. Biarpun ada dada yang berkecamuk untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. Karena satu, dan lain hal.

***

Lama sudah republik ini diresahkan oleh bom-bom. Yang berwenang pun telah mengkonsolidasi diri dengan mendirikan badan-badan yang dianggap perlu untuk mengatasi hal itu. Maka tak heran, biasanya dalam sehari-dua hari, para pelaku dan calon pelaku dengan cekatan segera tertangkap. Dengan nyawa maupun hanya jasad. Termasuk yang sedang berkemas-kemas rumah kontrakannya. Dengan bom-bom yang siap rakit maupun nyaris meledak. Biasanya disertai dengan beberapa bukti pendukung. Misalnya, artikel pembuatan bom, buku-buku radikal, telefon genggam, rangkaian kabel-kabel dan seterusnya. Juga atribut lainnya yang secara gamblang mengisyaratkan terorisme, seperti bendera ISIS.

Yang berikutnya akan dilacak adalah darimana para pelaku mendapatkan bahan-bahan high explosive. Untuk resep dan rangkaian, para pelaku dapat mengunduhnya secara online. Suatu dampak buruk teknologi informasi yang harus dikaji oleh kementrian terkait. 

Sedangkan bahan-bahan kimia berbahaya itu, pastilah didapat dengan suatu transaksi dengan pihak lain. Di titik ini maka peluang menjadi divergen  karena, bila bahan-bahan itu didapat dari toko kimia, ada banyak sekali  toko bahan kimia di negara ini. Mungkin hal itu akan terpecahkan bila ada kesaksian dari sebuah toko. Atau ada jejak-jejak otentik suatu transaksi. Misalkan nota pembelian yang ditemukan diantara bahan-bahan itu. Atau secarik struk transfer bank yang dapat membantu menentukan darimana asal bahan-bahan tersebut diperoleh.

ISIS disebut sebagai makhluk baru dalam khazanah terorisme, terutama dalam cara mengekpresikan terornya. Ideologi radikal dapat saja ditemukan di buku-buku yang dijual di toko dan di emperan. Namun untuk menerjemahkan ideologi radikal itu menjadi ledakan-ledakan teror, bom bunuh diri yang amat mencekam, ada rangkaian logika yang harus dijelaskan.

ISIS sendiri sejatinya telah memiliki  medan tempur yang rumit di “negeri” nya sendiri. Karena berbagai faksi di tanah kering dimana mereka dilahirkan itu, berperang satu sama lain tanpa kejelasan untuk apa dan mengapa. Akan tetapi nampaknya kelompok itu memiliki prinsip seperti yang juga dapat ditemukan pada budaya kita yakni “jangan  tanggung-tanggung”. Di luar front itu, mereka membuka front-front lain di berbagai belahan dunia,  termasuk di Filipina dan Indonesia. Mereka tak pernah mendengar  sebuah idiom praktis yang pernah diucapkan oleh seorang lelaki kekar bernama Prabowo: “Satu musuh terlalu banyak, seribu kawan tidak cukup”. 

Dengan  teror-teror kontinyu, mereka malah dengan sengaja menanam sejuta permusuhan. Pada namanya tercantum “Irak dan Syiria”, namun  seolah mereka sanggup menghadapi seluruh pemerintahan di dunia beserta senjata-senjata yang high-end-nya nyaris tak terbayangkan. Semacam pemahaman yang lebih mengedepankan kuantitas. Yang penting banyaknya. Sekalipun yang banyak itu adalah musuh yang mengepung dari kiri dan kanan.

Kita saksikan mereka dalam keadaan konstan berperang dengan negara-negara, baik yang dianggap kafir maupun thoghut. Menurut sumber-sumber yang ada, ISIS menganggap seluruh perangkat negara adalah thoghut. Dari gedung DPR MPR, Pos Polisi, sampai perangkat RT. Secara sporadis, dengan waktu yang tak dapat dinyana-nyana, serangan ledakan  mereka bisa mengejutkan lawan. Seperti untuk menegaskan eksistensi. Semacam pergeseran mindset ketika gerakan bawah tanah dioperasikan oleh generasi mutakhir yang terbiasa dengan jargon yang penting eksis.

Ada fenomena yang menarik bahwa sering dijumpai pelaku teror membawa identitas misalnya KTP atau KK dalam aksi mereka. Sekalangan berseloroh bahwa di tengah kebrutalan itu, terdapat setitik niat mulia untuk  membantu petugas mengidentifikasi puing-puing ledakan. Namun secara spekulatif dapat dilihat bahwa hal ini adalah semacam kecenderungan umum yang terdapat pada generasi baru untuk “selfie”: diakui oleh  orang-orang sekelilingnya. Hanya saja taktik ini sudah terbaca oleh  media-media arus utama. Sehingga media-media itu cenderung enggan  mengabarkan adanya dokumen-dokumen itu, yang mereka tinggalkan di antara puing-puing.

Dalam kenyataan tata pikir dan skill mereka  yang pernah kita saksikan, betapa mengerikannya sang teror bagi kita. Bayangkan kita harus memendam rasa takut ketika melintas di sebuah pos  polisi. Yang nampaknya justru target teror utama bagi si teroris. Mungkin kita bertanya-tanya mengapa mereka tidak menyerang yang mereka anggap sarang pentolan thoghut, misalnya gedung Parlemen. Penjelasan yang masuk akal adalah mereka sadar betul bahwa wilayah vital negara selalu diamankan dengan pengamanan maximum security. Terpaksa mereka lebih memilih sasaran-sasaran dengan penjagaan minim. Termasuk rumah ibadah, dimana ledakan dapat memecah belah masyarakat pada satu hal yang amat sensitif, yakni agama.

Sebuah teror klasik yang jelas-jelas akan meremukkan persaudaraan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3