Delianur
Delianur wiraswasta

@delianurm

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pertemuan Khadijah dan Nabi Muhammad (2)

9 Maret 2018   08:27 Diperbarui: 9 Maret 2018   08:55 293 0 0

Usai menyatakan komitmennya membantu Khadijah, esoknya Nafisah bergegas menuju Ka'bah mencari Muhammad. Begitu melihat Muhammad, Nafisah pun langsung mengikutinya. Di suatu tempat yang sunyi, Ia mendekati Muhammad dan setengah berbisik, "Muhammad, Aku Nafisah bint Munyah. Aku datang membawa berita tentang seorang perempuan agung, suci, dan mulia. Pokoknya ia sempurna, sangat cocok denganmu. Kalau kau mau, aku bisa menyebut namamu di sisinya"

Muhammad terdiam mendengar kata-kata mengejutkan itu. Lalu bertanya, "Siapa Dia?" Nafisah menjawab, "Dia Khadijah bint Khuwailid. Kau tentu sudah sangat mengenalnya" Khawatir ada orang lain yang datang dan mengganggu, Nafisah segera menambahkan "Tak usah kau jawab sekarang. Pikirkan dulu matang-matang. Besok atau lusa, aku akan menemuimu lagi"

Ucapan Nafisah tidak hanya mengagetkan, tetapi juga menimbulkan banyak pertanyaan bagi Muhammad. Nafisah telah datang membicarakan sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benak Muhammad. Karena bagaimanapun Khadijah adalah perempuan cerdas, nasabnya baik, terhormat juga kaya raya. Apa mungkin dia mau bersuamikan pembantunya yang belum berapa lama menjalankan bisnisnya itu.

Muhammad juga bertanya-tanya apakah ini betul-betul dari Khadijah atau celetukan iseng saja?Apakah ini murni dari hati nurani Khadijah atau intervensi orang lain?Tetapi setelah Muhammad mencari bukti-bukti dan mengingat kembali nada bicara Nafisah yang bening dan polos itu, Muhammad yakin bila ia benar-benar utusan Khadijah.

Muhammad pun membicarakan hal ini dengan Abu Thalib. Pamannya tidak bisa memutuskan sendiri. Dia ingin berembuk dengan saudara-saudaranya yang lain. Karena bagaimana pun meski Khadijah diakui sebagai perempuan terpandang, terhormat dan disukai banyak lelaki Arab, tetapi perbedaan umur dan status janda Khadijah menjadi bahan pertimbangan yang lain. Tetapi setelah semua berkumpul, bermusyawarah dan menimbang banyak hal, akhirnya diputuskan kalau Muhammad akan segera melamar Khadijah.

Khadijah senang bukan main mendengar kabar itu. Hatinya berbunga-bunga. Ia segera menyuruh seseorang untuk meminta Muhammad datang ke rumahnya. Begitu Muhammad tiba di rumahnya, Khadijah kembali teringat ucapan Waraqah bin Naufal sepupunya. Saat itu ia serasa melihat cahaya kenabian muncul dari raut muka Muhammad.

Pada Muhammad, Khadijah berkata ; "Sepupuku, aku menginginkanmu karena kau kerabatku, kau agung di tengah kaummu, kau berakhlak luhur, dan kau selalu bicara jujur," ujar Khadijah. Muhammad pun menyambut ucapan Khadijah dengan tidak kalah hangatnya.

Pada akad nikah, Abu Thalib berdiri menyampaikan pidato "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita keturunan Ibrahim, anak cucu Ismail, penjaga rumah-Nya, juga pemelihara tanah suci-Nya yang aman sentausa; Dia yang telah memerintahkan kita berkata jujur dan berpegang pada kebenaran. Sesungguhnya Muhammad ibn Abdullah tak dapat dibandingkan dengan siapapun pemuda Quraisy. Keluhurannya, ketangkasannya, kecerdikannya, dan tingkat keutamaannya tak tertandingi. Memang, ia tidak kaya. Tidakkah harta hanya sekejap dan sementara, lenyap dan sirna?Ia menginginkan Khadijah sebagaimana Khadijah menginginkannya"

Setelah itu, Muhammad memulai kehidupan baru sebagai suami dan bapak. Dari pernikahan dengan Khadijah, Muhammad dikarunia empat orang anak perempuan, yaitu Ruqayyah, Ummi Kultsum, Zainab dan Fathimah. Hanya pernikahan dengan Khadijah dan Mariah Al-Qibtiyyah lah Muhammad dikarunia putra. Adapun putra dari pernikahan dengan Mariah Al-Qibtiyyah, yang bernama Ibrahim, meninggal ketika masih kecil. Berbeda dengan putra-putra Khadijah yang tumbuh besar sampai kemudian melahirkan cucu bagi Nabi.

Meski sudah menikah dengan perempuan kaya raya, Muhammad tidaklah diam berpangku tangan. Sehari-harinya Muhammad menyibukan diri dengan usaha perdagangan. Bersama teman-temannyandia berkeliling dari Hubasyah, Duba, Syihar dan pasar-pasar lain di Mekkah.

Di sela-sela aktivitasnya itu, Muhammad menyampaikan hasratnya pada Khadijah untuk menyepi di gua Hira yang berada di salah satu bukit di Makkah. Gua kecil yang hanya bisa dihuni dua orang yang duduk berhimpitan. Karena sedari awal Khadijah sudah berfirasar kenabian Muhammad, Khadijah tidak keberatan dengan keinginan Muhammad. Bahkan ia sangat mendukung dengan keinginan itu.

Sampai suatu hari di akhir Ramadhan 610 M, Muhammad pulang dalam kondisi tidak biasa. Badannya menggigil, wajahnya seperti ketakutan dan keningnya berkeringat. Khadijah sangat khawatir dengan keadaan Muhammad. Ia khawatir kalau suaminya tidak kuat menanggung sakit diluar batas. Tetapi ketika dia bertanya, Muhammad bergeming tidak menjawab. Hanya berkata "Selimuti aku, selimuti aku!" Tampak ada beban yang tidak tertanggungkan.

Akhirnya setelah diselimuti dan berdiam cukup lama, berceritalah Muhammad tentang seseorang yang menyuruhnya untuk membaca. Seseorang yang berpakaian putih dan entah datang darimana. Berulang kali orang itu memeluk Muhammad dan menyuruh membaca, tetapi Muhammad tidak bisa memenuhinya karena tidak tahu apa yang mesti dibacanya. Tiga kali berturut-turut orang itu menyuruhnya membaca, tiga kali juga Muhammad menjawab tidak bisa membaca.

Sampai akhirnya orang tersebut mendekap Muhammad dengan erat dan mengucapkan "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya" (Al-'Alaq 1-5)

Sebagai bangsawan Mekkah yang sering menyaksikan festival penyair di Mekkah, Khadijah terkejut dan takjub mendengar rangkaian kalimat itu. Setelah kegelisahan Muhammad sirna, Khadijah berkata : "Alangkah indah kata-kata ini, Muhammad! Belum pernah kudengar seperti ini sebelumnya!"

Mengenai sosok yang mendatanginya, Khadijah berkata ; "Berbahagilah, sepupuku! Ia bukan jin, bukan setan. Kuharap Ia malaikat. Kutahu kau orang yang baik. Kau tanggung beban berat, kau buka lebar pintu untuk tamu singgah atau mengingap, dan kau bantu menghidupkan kebenaran yang hampir sekarat. Demi Allah, ia takkan memperdayakanmu selamanya"

Lalu Khadijah mengajak Muhammad mendatangi sepupunya, Waraqah bin Naufal. Orang yang dianggap layak mengetahui peristiwa tersebut, sekaligus hendak dimintai pendapat.

"Putra Naufal, simaklah keponakanmu ini. Ia akan menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya. Siapa tahu ada sesuatu atau pendapat yang bisa kau katakan padanya" Ujar Khadijah pada Waraqah ibn Naufal.

Dengan seksama Waraqah menyimak cerita Muhammad tentang kejadian di gua Hira. Termasuk diantaranya sosok makhluk yang turun dari langit. Usai mendengar cerita Muhammad, Waraqah berbinar. Dia bangkit dan memeluk Muhammad. "Berbahagialah, Keponakanku! Berbahagialah Khadijah! Demi Allah sosok itu adalah pembawa wahyu yang dulu turun kepada Nabi Musa. Dan engkau, Demi Allah adalah nabi umat ini yang telah diberitakan kedatangannya jauh-jauh sebelum ini oleh para nabi."

Waraqah menambahkan, "Mudah-mudahan aku masih bisa menemanimu saat kau diusir kaummu. Aku akan ikut bersamamu ke mana pun kamu pergi. Kuharap hari-hari itu sudah dekat."

Kaget mendengar peringatan Waraqah, Khadijah pun bertanya, "Bagaimana mungkin mereka mengusir Muhammad?Bukankah mereka mencintainya?Bukankah mereka telah menjulukinya Al-Amin si jujur dan terpercaya?Bukankah mereka rela dengan keputusan dan ketetapannya?

Di sini Muhammad sangat dicintai dan setiap ucapannya di dengarkan semua orang. Bukankah kau lihat sendiri bagaimana mereka menerima keputusan yang diambil Muhammad saat mereka berselisih soal peletakan hajar aswad, dan hampir saja menimbulkan pertumpahan darah yang akan membawa dampak buruk mengerikan?Bukankah mereka semua mempercayakan penyelesaian kepadanya?" Begitu juga Muhammad. Ia tak percaya akan terusir dari kaumnya.

Dengan tenang Waraqah menjelaskan "Ya, tak satu pun nabi yang membawa risalah seperti yang kau bawa kecuali akan dimusuhi dan diperangi kaumnya sendiri. Tetapi, pertolongan Allah selalu bersamamu, Muhammad. Bersabarlah atas kemuliaan yang khusus dianugrahkan Allah kepadamu ini!"

Pada saat itu, secara spontan Khadijah menyatakan keimanannya dari lubuk hati yang terdalam. Ia merasa tersanjung dengan anugrah yang didapatnya ini. Ia juga sangat tersanjung. Karena diantara sekian banyak wanita kaumnya, ia terpilih menjadi istri penutup para nabi.

Setelah itu, Khadijah selalu berada disisi Muhammad umemberikan dukungan dan pembelaan. Khadijah tak segan-segan mengeluarkan harta yang dimilikinya untuk menopang suaminya itu. Lebih dari itu, Khadijah juga menguatkan diri untuk menghadapi cercaan kaumnya. Seperti ketika kedua putrinya, Ruqayah dan Ummi Kultsum, diputus tunangan secara sepihak oleh dua putra Abu Lahab.

Khadijah adalah tiang utama penyangga kenabian Muhammad di masa-masa awalnya. Khadijah menghadapi berbagai macam teror dan intimidasi yang dilancarkan Quraisy kepada suami dan pengikutnya.

Pada satu waktu, kaum Quraisy membuat persekongkolan jahat untuk memboikot Muhammad dan keluarga Bani Hasyim. Ketika itu mereka bersepakat untuk mengisolir kehidupan Nabi Muhammad berserta keluarganya. Mereka diboikot. Semua orang dilarang melakukan transaksi jual beli, menikah dengan keluarga Muhammad, dan mengirim bahan makanan pada mereka. Karena boikot itu, keluarga Muhammad kelaparan karena tidak ada makanan yang bisa dimakan. Sampai akhirnya mereka terpaksa hanya memakan dedaunan saja. Mereka terpaksa mengungsi ke sebuah lembah untuk menghadapi pemboikotan itu.

Sampai tiga tahun Bani Hasyim dari klan Abu Thalib menjalani pemboikotan. Tetapi Khadijah tetap berdiri tegar di tengah-tengah mereka. Padahal Khadijah adalah wanita kaya raya, hidupnya sejahtera, hartanya melimpah, keturunan keluarga terhormat yang hidupnya tak pernah kenal melarat. Kondisi inilah yang membuat Nabi Muhammad kagum terhadap istrinya itu.

Karenanya ketika pemboikotan berakhir dan Khadijah meninggal mendadak, Nabi tidak bisa menyembunyikan tangis dan kesedihannya. Sebuah tiang paling kokoh dalam hidupnya tumbang justru di saat sangat dibutuhkan. Lama sekali Nabi tidak berkeluarga setelah itu. Beliau menduda, karena yakin tidak ada satupun perempuan di dunia ini setara dengan Khadijah. Bahkan ketika Nabi sudah beristri lagi, Khadijah adalah istri yang selalu dikenangnya.

Aisyah yang disebut sebagai istri Nabi yang cerdas, cantik dan paling disayang Nabi, menceritakan bagaimana sikap Nabi terhadap Khadijah yang sudah meninggal.

"Jarang Nabi keluar rumah tanpa terlebih dahulu menyebut Khadijah. Ia disanjung, dan namanya disebut Nabi dari hari ke hari. Aku cemburu. Kukatakan pada Nabi, 'Bukankah ia hanya seorang tua bangka?Sungguh Allah telah memberimu ganti yang lebih baik.' Beliau sangat gusar, sampai rambut depannya bergetar. 'Tidak,' tegasnya, 'Demi Allah, tak ada ganti yang lebih baik darinya. 

Dia beriman ketika semua orang ingkar. Ia membenarkanku dikala semua orang mendustakanku. Ia mencurahkan hartanya ketika orang lain tidak. Darinya Allah mengaruniakanku anak sementara perempuan lain tidak. Sejak saat itu aku tak lagi menyinggung soal Khadijah"

Nabi juga selalu menanyakan sahabat-sahabat dan kerabat Khadijah. Jika menyembelih kambing, Nabi memberikan bagian sembelihan terbaik pada sahabat-sahabat Khadijah. Suatu kali Nabi menyambut seorang perempuan tua begitu ramah sampai lupa sekitar. Nabi begitu memuliakan dan bersikap sangat lemah lembut. Aisyah yang melihat itu terheran dan bertanya. Nabi pun menjawab "Wanita ini pernah datang pada kami saat Khadijah masih hidup"

Pada kesempatan lain seorang perempuan bernama Zafar selalu mengunjungi Nabi bila sedang ke Madinah. Suatu kali Nabi memberi hadiah berupa daging. Nabi yang memilihkan sendiri daging terbaik lalu mengirimkannya. Kata Nabi "Khadijah pernah berpesan agar aku selalu memperhatikannya. Zafar adalah tukang sisir saat Khadijah masih hidup.

Suatu hari seorang perempuan meminta izin pada nabi untuk masuk rumah. Mendengar suaranya, Rasulullah bergetar karena suaranya sangat mirip dengan Khadijah. Ketika sadar, beliau menyebut "Ya Allah ternyata Halah." Halah adalah saudari Khadijah yang datang bertamu padanya.

Ketika datang ke Madinah untuk berhijrah, Nafisah bint Munyah berkirim salam pada Rasulullah. Ketika beliau bertemu dengannya, beliau sangat bahagia. Beliau ingat bahwa tangan Nafisah ikut andil dalam pernikahan beliau dengan Khadijah. Beliau lantas memuliakannya.

Ketika Nabi menaklukan Makkah dan memasuki kota Mekkah dalam keadaan menang, yang pertama kali Nabi ingat adalah rumah Khadijah. Ketika itu beliau tidak menemukan rumah yang dulu dihuninya. Kondisnya berubah setelah beliau hijrah. Aqil bin Abi Thalib tidak meninggalkan rumah untuknya. Sebagai gantinya, beliau membangun qubbah, kemah, yang didirikan disamping kuburan Khadijah. Dan tempat itu menjadi pusat pembebasan kota Makkah

Bilik-Bilik Cinta Muhammad
Dr. Nizar Abazhah
Penerbit Zaman