Mohon tunggu...
Delianur
Delianur Mohon Tunggu... Penulis - a Journey

a Journey

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pertemuan Khadijah dan Nabi Muhammad (2)

9 Maret 2018   08:27 Diperbarui: 9 Maret 2018   08:55 800
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Usai menyatakan komitmennya membantu Khadijah, esoknya Nafisah bergegas menuju Ka'bah mencari Muhammad. Begitu melihat Muhammad, Nafisah pun langsung mengikutinya. Di suatu tempat yang sunyi, Ia mendekati Muhammad dan setengah berbisik, "Muhammad, Aku Nafisah bint Munyah. Aku datang membawa berita tentang seorang perempuan agung, suci, dan mulia. Pokoknya ia sempurna, sangat cocok denganmu. Kalau kau mau, aku bisa menyebut namamu di sisinya"

Muhammad terdiam mendengar kata-kata mengejutkan itu. Lalu bertanya, "Siapa Dia?" Nafisah menjawab, "Dia Khadijah bint Khuwailid. Kau tentu sudah sangat mengenalnya" Khawatir ada orang lain yang datang dan mengganggu, Nafisah segera menambahkan "Tak usah kau jawab sekarang. Pikirkan dulu matang-matang. Besok atau lusa, aku akan menemuimu lagi"

Ucapan Nafisah tidak hanya mengagetkan, tetapi juga menimbulkan banyak pertanyaan bagi Muhammad. Nafisah telah datang membicarakan sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benak Muhammad. Karena bagaimanapun Khadijah adalah perempuan cerdas, nasabnya baik, terhormat juga kaya raya. Apa mungkin dia mau bersuamikan pembantunya yang belum berapa lama menjalankan bisnisnya itu.

Muhammad juga bertanya-tanya apakah ini betul-betul dari Khadijah atau celetukan iseng saja?Apakah ini murni dari hati nurani Khadijah atau intervensi orang lain?Tetapi setelah Muhammad mencari bukti-bukti dan mengingat kembali nada bicara Nafisah yang bening dan polos itu, Muhammad yakin bila ia benar-benar utusan Khadijah.

Muhammad pun membicarakan hal ini dengan Abu Thalib. Pamannya tidak bisa memutuskan sendiri. Dia ingin berembuk dengan saudara-saudaranya yang lain. Karena bagaimana pun meski Khadijah diakui sebagai perempuan terpandang, terhormat dan disukai banyak lelaki Arab, tetapi perbedaan umur dan status janda Khadijah menjadi bahan pertimbangan yang lain. Tetapi setelah semua berkumpul, bermusyawarah dan menimbang banyak hal, akhirnya diputuskan kalau Muhammad akan segera melamar Khadijah.

Khadijah senang bukan main mendengar kabar itu. Hatinya berbunga-bunga. Ia segera menyuruh seseorang untuk meminta Muhammad datang ke rumahnya. Begitu Muhammad tiba di rumahnya, Khadijah kembali teringat ucapan Waraqah bin Naufal sepupunya. Saat itu ia serasa melihat cahaya kenabian muncul dari raut muka Muhammad.

Pada Muhammad, Khadijah berkata ; "Sepupuku, aku menginginkanmu karena kau kerabatku, kau agung di tengah kaummu, kau berakhlak luhur, dan kau selalu bicara jujur," ujar Khadijah. Muhammad pun menyambut ucapan Khadijah dengan tidak kalah hangatnya.

Pada akad nikah, Abu Thalib berdiri menyampaikan pidato "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita keturunan Ibrahim, anak cucu Ismail, penjaga rumah-Nya, juga pemelihara tanah suci-Nya yang aman sentausa; Dia yang telah memerintahkan kita berkata jujur dan berpegang pada kebenaran. Sesungguhnya Muhammad ibn Abdullah tak dapat dibandingkan dengan siapapun pemuda Quraisy. Keluhurannya, ketangkasannya, kecerdikannya, dan tingkat keutamaannya tak tertandingi. Memang, ia tidak kaya. Tidakkah harta hanya sekejap dan sementara, lenyap dan sirna?Ia menginginkan Khadijah sebagaimana Khadijah menginginkannya"

Setelah itu, Muhammad memulai kehidupan baru sebagai suami dan bapak. Dari pernikahan dengan Khadijah, Muhammad dikarunia empat orang anak perempuan, yaitu Ruqayyah, Ummi Kultsum, Zainab dan Fathimah. Hanya pernikahan dengan Khadijah dan Mariah Al-Qibtiyyah lah Muhammad dikarunia putra. Adapun putra dari pernikahan dengan Mariah Al-Qibtiyyah, yang bernama Ibrahim, meninggal ketika masih kecil. Berbeda dengan putra-putra Khadijah yang tumbuh besar sampai kemudian melahirkan cucu bagi Nabi.

Meski sudah menikah dengan perempuan kaya raya, Muhammad tidaklah diam berpangku tangan. Sehari-harinya Muhammad menyibukan diri dengan usaha perdagangan. Bersama teman-temannyandia berkeliling dari Hubasyah, Duba, Syihar dan pasar-pasar lain di Mekkah.

Di sela-sela aktivitasnya itu, Muhammad menyampaikan hasratnya pada Khadijah untuk menyepi di gua Hira yang berada di salah satu bukit di Makkah. Gua kecil yang hanya bisa dihuni dua orang yang duduk berhimpitan. Karena sedari awal Khadijah sudah berfirasar kenabian Muhammad, Khadijah tidak keberatan dengan keinginan Muhammad. Bahkan ia sangat mendukung dengan keinginan itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun