Delianur
Delianur Staff Ahli DPR RI - Calon Anggota Legislatif DPR RI Partai Amanat Nasional Dapil Jawa Barat IV (Kota dan Kabupaten Sukabumi) No Urut 6

@delianurm

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hikayat "Ashabul Kahfi" Menurut Prof. DR. Quraish Shihab

8 Januari 2018   06:43 Diperbarui: 8 Januari 2018   08:29 1049 2 0

Ashabul Kahfi

Tahun 1992, tim Ulama Mesir yang bernama "Lajnah al-Quran wa al-Sunnah" yang berada dibawah naungan suatu komite negara Mesir bernama "Al-Majlis al-'Ala li al-shub al Islamiyyah" menerbitkan sebuah tafsir dalam 1 volume besar bernama Tafsir al-Muntakhab. Jadi berbeda dengan tafsir-tafsir lain yang dibuat oleh perseorangan, kecuali Tafsir Jalallain (Dua Jalal) yang ditulis dua orang ulama bernama depan Jalal (Jalaludin Al Mahalli dan Jalaludin As Syuyuti), tafsir Al-Muntakhab dibuat oleh sebuah tim. Jika dibandingkan di Indonesia, mungkin tafsir ini hampir sama dengan tafsir yang ditulis oleh tim Departemen Agama RI.

Prof Quraish Shihab, penterjemah Tafsir al-Muntakhab dalam bahasa Indonesia, menyebutkan bila Tafsir ini sering mengurai dan menulusuri dimensi sains Quran dalam uraiannya. Karenanya beberapa kali QS mengutip Tafsir ini ketika mengurai dimensi sains Quran. Termasuk diantaranya ketika membahas ayat 9 Surah al-Kahf yang membahas tentang tempat dan waktu kejadian Ashabul Kahfi, para penghuni gua, yang mashur itu.

Menuruy QS, Ashabul Kahfi adalah sekelompok anak muda yang beriman kepada Allah, yang telah mengalami penindasan agama sehingga mereka mengasingkan diri ke dalam sebuah gua yang tersembunyi.

Sementara itu, sejarah kuno mencatat adanya beberapa masa penindasan agama di kawasan Timur Kuno yang terjadi dalam kurun waktu berbeda. Dari beberapa peristiwa penindasan agama itu, hanya ada dua masa yang mereka anggap penting dimana salah satunya mereka nilai mempunyai kaitan dengan para penghuni Gua ini.

Peristiwa pertama terjadi pada masa kekuasaan raja-raja Saluqi saat kerajaan diperintah oleh Antiogos IV. Antiogos dikenal sangat fanatik terhadap peradaban dan kebudayaan Yunani Kuno sehingga mewajibkan seluruh penganut Yahudi di Palestina untuk meninggalkan agama Yahudi dan menganut agama Yunani Kuno. Antiogos mengotori tempat peribadatan dengan meletakan patung Zeus, tuhan Yunani terbesar, diatas altar dan pada waktu-waktu tertentu mempersembahkan kurban berupa babi bagi Zeus. Bahkan Antiogos juga membakar habis naskah Taurat tanpa ada yang tersisa.

Berdasarkan bukti historis ini, dapat disimpulkan bahwa Ashabul Kahfi adalah penganut agama Yahudi yang bertempat tinggal di Yerusallem Palestina. Dapat diperkirakan juga bahwa peristiwa bangunnya mereka dari tidur panjang itu terjadi pada 126 M. Setelah Romawi menguasai wilayah Timur, atau 445 tahun sebelum masa kelahiran Rasulullah saw tahun 571 M.

Peristiwa kedua terjadi pada zaman Imperium Romawi saat Kaisar Hadrianus berkuasa tahun 117-138 M. Kaisar Hadrianus memperlakukan orang-orang Yahudi sama persis seperti yang pernah dilakukan Antiogos. Tetapi pada 132 M orang Yahudi melawan dan mereka bisa mengalahkan pasukan Romawi dan berhasil merebut Yerusallem. Namun tiga tahun kemudian Hadrianus berhasil merebut kembali Palestina dan mengalahkan orang Yahudi. Etnis Yahudi pun dibasmi dan para pemimpin mereka dibunuh. Orang Yahudi yang masih hidup dijual di pasar-pasar sebagai budak, simbol agama Yahudi dihancurkan, ajaran dan hukum Yahudi dihapus.

Dari penuturan sejarah didapati kesimpulan yang sama bahwa pemuda itu adalah penganut ajaran Yahudi. Tempat tinggal mereka bisa jadi berada di kawasan Timur Kuno atau Yerusallem itu sendiri. Mereka diperkirakan bangun dari tidur panjang kurang lebih 435 M atau 30 tahun menjelang kelahiran Rasulullah.

Tetapi menurut QS, peristiwa pertama lebih mempunyai kaitan dengan Ashabul Kahfi karena penindasan mereka lebih sadis. Adapun penindasan umat Kristiani tidak sesuai dengan kelahiran Nabi Muhammad saw.

Hanya saja QS mengingatkan bahwa ayat-ayat yang menguraikan kisah penghuni Gua, seperti halnya kisah al-Quran yang lain, tidak menyebut siapa mereka atau di mana dan kapan terjadinya peristiwa itu. Hal tersebut untuk lebih mengarahkan manusia kepada inti dan pelajaran yang dapat ditarik dari kisah-kisah al-Quran.