Mohon tunggu...
Ikwan Setiawan
Ikwan Setiawan Mohon Tunggu... Dosen - Kelahiran Lamongan, 26 Juni 1978. Saat ini aktif melakukan penelitian dan pendampingan seni budaya selain mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember dan peneliti di Matatimoer Institute Jember.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Masyarakat Medsos, Bencana, dan Solidaritas Lintas-Batas

8 Desember 2021   18:32 Diperbarui: 9 Desember 2021   07:00 796 22 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Dampak erupsi Semeru. Foto: Dok. Kompas.com

Dengan begitu cepat, berita erupsi Gunung Semeru menyebarluas dalam platform media sosial (medsos) seperti Facebook, Twitter, Instagram, blog, grup WA, dan yang lain. Kecepatannya, bahkan, mengalahkan media arus utama, seperti koran dan televisi. Trending dan tagar pray for semeru, pray for Lumajang, dan yang lain cukup dominan mengisi lalu-lintas informasi di medsos.

Tidak lama kemudian, masih di hari yang sama dan sehari  berikutnya, bermacam ajakan berdonasi dari beragam kelompok, lembaga, pertemanan, institusi pendidikan, LSM, dan yang lain, mengalir deras di medsos. Bisa dikatakan medsos sebagai bentuk media baru (new media) berbasis internet yang memungkinkan semua orang berpartisipasi aktif dalam arus informasi memungkinkan dan mempermudah mobilisasi solidaritas lintas-batas. Tidak hanya dalam lingkup lokal dan nasional, tetapi juga internasional.

Partisipasi aktif para pemilik akun medsos dalam menyebarkan berita Semeru dan bermacam narasi yang menyertainya menjadikan orang tak lagi memandang batas agama, ras, etnis, gender, ataupun bangsa. Rasa kemanusiaan yang dipacu oleh massifnya kabar bencana, nyatanya, mampu mengatasi dan melampaui hambatan sosial, kultural, dan agama yang dalam kehidupan sehari-hari seringkali masih menjadi masalah.  

Tindakan praksis mengumpulkan donasi dalam bentuk uang ataupun keperluan yang dibutuhkan warga terdampak erupsi Semeru mengindikasikan bahwa pewacanaan berita bencana di medsos tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi diikuti dengan tindakan-tindakan nyata. 

Anggota FKD menyalurkan hasil donasi ke Posko Balai Desa Tumpeng Kec. Candipuro, Lumajang. Foto: Dok. FKD.
Anggota FKD menyalurkan hasil donasi ke Posko Balai Desa Tumpeng Kec. Candipuro, Lumajang. Foto: Dok. FKD.
Sebagai contoh sebuah kelompok pertemanan di Jember, Forum Konco Dewe (FKD), mampu mengumpulkan donasi mendekati angka Rp. 20.000.000 hanya dalam waktu sehari semalam. Para anggotanya pun segera berangkat ke Lumajang untuk menyalurkan hasil donasi kepada para warga di posko-posko darurat.

Medsos menjadi medium sekaligus jembatan untuk mempercepat dan melipatgandakan solidaritas yang di zaman media arus utama masih harus menunggu waktu selama beberapa hari. Medsos mengatasi batasan waktu dan ruang, sehingga memungkinkan jutaan manusia berpartisipasi asip mereproduksi ucapan dan tindakan empati di seluruh dunia.

Realitas tersebut membuktikan bahwa di tengah-tengah kritik yang dilontarkan terhadap medsos terkait beragam dampak negatifnya, masih bisa kita temukan kekuatan dan kontribusinya terhadap bermacam masalah kebangsaaan, kemanusiaan, dan kebudayaan. Artinya, apa-apa yang bergerak lambat di dunia nyata, bisa dipercepat melalui media sosial. Percepatan dan kecepatan ini memang menjadi karakteristik "masyarakat jaringan" (network society) yang dimediasi oleh kecanggihan teknologi internet.

Dalam format lebih spesifiknya, masyarakat jaringan berbasis internet saat ini memunculkan "masyarakat medsos", sebuah tatanan masyarakat yang para warganya terhubung satu sama lain melalui bermacam platform medsos. Masyarakat ini tentu tidak memiliki konstitusi khusus sebagai dasar hukum. Mereka disatukan oleh kepentingan bersama untuk memaksimalkan manfaat dari medsos untuk kehidupan. 

Meskipun tanpa legalitas kewarganegaraan, masyarakat medsos bukan berarti tidak memiliki kecintaan terhadap masing-masing negara atau daerah tempat mereka tinggal. Keterhubungan mereka dilandasi oleh prinsip-prinsip bersama untuk menumbuhkan dan mengembangkan nilai dan ikatan sosial melalui kecepatan arus informasi berbasis internet.

Anggota FKD berbincang dengan warga terkait kebutuhan mereka. Foto: Dok. FKD
Anggota FKD berbincang dengan warga terkait kebutuhan mereka. Foto: Dok. FKD
Tanpa komando Negara, "masyarakat medsos" menumbuhkan sikap empati dan tindakan-tindakan nyata terhadap bermacam masalah dan bencana. Ini menunjukkan terjadinya 'percumbuan manis' antara teknologi internet dan naluri kemanusiaan. Kekhawatiran banyak pihak bahwa era teknologi akan mengasingkan manusia dari manusia lain, sedikit banyak bisa dikurangi karena realitas solidaritas tanpa-batas terus bergerak. Keterasingan jiwa manusia karena dikendalikan teknologi di luar diri mereka juga bisa sedikit dihindari ketika mereka masih melanjutkan silaturahmi via medsos sembari menjalankan misi-misi kemanusiaan.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan