Mohon tunggu...
Ikwan Setiawan
Ikwan Setiawan Mohon Tunggu... Dosen - Kelahiran Lamongan, 26 Juni 1978. Saat ini aktif melakukan penelitian dan pendampingan seni budaya selain mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember dan peneliti di Matatimoer Institute Jember.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Menikam Puisi, Di Ambang Batas, dan Kroni

27 November 2021   11:02 Diperbarui: 3 Desember 2021   22:10 131 11 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Muara Getem Jember. Foto: Dok. Pribadi

MENIKAM PUISI

Kau boleh berpikir ini cara tepat menikam puisi: melarungnya bersama kembang tujuh warna. Namun, sebaiknya, kita eja-kembali percakapan yang direkam getaran samudra menjelang petang ketika kau sampaikan ingin membongkar rumah tua di dekat pantai; rumah yang menjadi tempat menikmati kemakmuran orang-orang pencari berkat.

Ini bukan cara yang tepat untuk menikam puisi. Ada angin yang akan menyambutnya dalam kehidupan sederhana yang dibaluri perjuangan semesta. Ada para penjaga yang perlahan-lahan membawanya pada ketakterhinggaan bersama ombak senyap yang terus menggerakkan nafas.

Saat itulah kau akan mendapati kenyataan, puisi itu beranak-pianak dalam bimbingan nafas para nelayan yang selalu memeluk doa anak dan istri. Saat itulah kau akan melihat, semua pengkhianatan yang hendak menikam puisi akan menemukan hukumnya sendiri. 

Kalau tubuhmu menggigil, segeralah mengambil cermin retak, berlarilah menuju muara: ada logika yang harus kau tangkap dalam semedi.

Jember, 17 Desember 2019

Muara Getem Jember. Foto: Dok. Pribadi
Muara Getem Jember. Foto: Dok. Pribadi

DI AMBANG BATAS

Senandung purba tentang kedamaian selalu saja kita bawa. Ada rindu yang menuntut kepada hijau, kepada tanah, kepada air, kepada lumpur, kepada udara. Selalu saja kita endapkan pada impian menjelang senja selepas subuh.

Terlalu sering kita lupa ada batas-batas yang mulai luntur: ada rumah di kaki gunung, ada tembok di tengah sawah, ada luka menikam dingin. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan