Mohon tunggu...
Ikwan Setiawan
Ikwan Setiawan Mohon Tunggu... Dosen - Kelahiran Lamongan, 26 Juni 1978. Saat ini aktif melakukan penelitian dan pendampingan seni budaya selain mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember dan peneliti di Matatimoer Institute Jember.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Identitas Using Banyuwangi dalam Kendali Rezim Orde Baru

29 November 2021   05:47 Diperbarui: 29 November 2021   06:51 175 7 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Gandrung di era kolonial. Foto: Collectie Tropenmuseum Belanda

SEBELUM ORDE BARU

Bagi masyarakat Banyuwangi, Using diposisikan sebagai identitas kultural yang melekat pada diri dan kehidupan warga keturunan Blambangan sejak awal. Padahal, kalau kita memahami dari proses kolonial, sebagaimana tulisan sebelumnya, berkembangnya istilah Using tidak bisa dilepaskan dari kontestasi kepentingan di masyarakat. 

Kalaupun pada akhirnya, mereka menempatkan Using sebagai identitas atau, bahkan, nama suku yang berbeda dari Jawa, itu semua tidaklah terjadi secara alamiah. Proses kompleks terkait penundukan dan survival di era kolonial ikut membentuk kesadaran akan munculnya identitas Using. Di era pascakolonial, persoalan identitas ini menjadi semakin kompleks karena campur tangan rezim negara, khususnya rezim Orde Baru.

Apa yang perlu dicatat adalah bahwa pada masa revolusi fisik belum ada gerakan perlawanan yang menggunakan mobilisasi simbol-simbol budaya Using, kecuali kesadaran revolusioner untuk memerdekakan Banyuwangi dari cengkraman penjajah. Simpul-simpul kebudayaan berkembang untuk menyemaikan identitas Using, tetapi tidak dimaksudkan sebagai kekuatan penopang perlawanan fisik. 

Meskipun terdapat beberapa tafsir terhadap kesenian gandrung yang diposisikan sebagai kesenian penuh sandi komunikasi antarpejuang, kesadaran massif sebagaimana yang dilakukan gerakan mesiah Ratu Adil tidak tampak berkembang di Banyuwangi. 

Kendati demikian, pada masa Agresi militer Belanda II (1947), gerakan perlawanan yang dilakukan oleh laskar tentara lokal menggunakan nama Gerilyawan Macan Putih; sebuah identifikasi terhadap kejayaan kerajaan Blambangan di bawah Prabu Tawang Alun, meskipun dalam hal lokasi gerilya mereka selalu berpindah-pindah (Wilis, 2005: 59-61). 

Pada masa awal kemerdekaan, di masa Sukarno, masih belum berkembang usaha untuk menggunakan wacana ke-Using-an untuk melakukan gerakan sosial dan budaya. Pada masa ini, setiap kekuatan kultural, khususnya sastra dan seni, lebih mengedepankan perjuangan berdasarkan ideologi politik masing-masing. 

Secara individu dan kelompok mereka memang melakukan perjuangan budaya, tetapi itu semua terpolarisasi dalam batas-batas ideologis yang tegas. HSBI (Himpunan Seni dan Budaya Islam) lebih memfokuskan garapan pada tari-tarian Melayu dan drama modern berlakon kisah Islam. LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) menggarap kesenian karawitan. Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim) lebih tertarik mengembangkan perpaduan seni hadrah dan drama (hadrama).

Adapun yang banyak melakukan advokasi terhadap kesenian rakyat keturunan Blambangan adalah Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Bahkan, para seniman dan sastrawan yang bergabung di kelompok yang dikatakan mendukung ideologi komunis ini memopulerkan karya-karya lagu dan karya-karya sastra berbasis bahasa Using. 

Mohammad Arif pencipta lagu Genjer-genjer yang secara nasional dianggap sebagai lagu komunis, khususnya setelah diplesetkan dalam film Pengkhianatan G 30 S PKI. Ia mendirikan kelompok musik angklung Sri Muda dengan lagu-lagu yang menyuarakan suara rakyat jelata. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan