Mohon tunggu...
Ikwan Setiawan
Ikwan Setiawan Mohon Tunggu... Dosen - Kelahiran Lamongan, 26 Juni 1978. Saat ini aktif melakukan penelitian dan pendampingan seni budaya selain mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Dosen dan Peneliti di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menginvestasi Lokalitas: Narasi dan Wacana Sastrawi di Jawa Timur

11 November 2021   11:20 Diperbarui: 11 November 2021   11:48 315
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto: Dokumentasi DeKaJe

Keberadaan institusi sekolah tempat Madun dan para sahabatnya menimba ilmu Barat maupun ilmu agama dari para guru menambah perluasan wacana modernitas yang membuka jalan bagi perubahan. Sebagai narasi berlatar era 1970-an, intervensi budaya modern ke dalam kesadaran warga desa merupakan proyek yang dikembangkan oleh rezim negara Orde Baru. Sekolah-sekolah SD, biasa disebut SD Inpers, dibangun untuk membekali anak-anak desa dengan pendidikan modern yang mengedepankan rasionalitas.

Menariknya, kampanye diskursif untuk meninggalkan adat-adat lama dalam novel ini disandingkan dengan semangat dakwah Islam. Pak San digambarkan sebagai guru di sekolah yang dengan telaten dan sabar mengajarkan agama Islam kepada para siswa dan, pada akhirnya, kepada para orang tua dan pemimpin adat. Warga dikenalkan dengan tata ibadah Islam dan diajak bersama-sama membangun masjid  (Lathief, 2010: 212-215). 

Desa yang pada awal cerita digambarkan penuh kegiatan animistik, telah berubah menjadi desa Islam dengan kegiatan ritual baru; sembahyang di masjid maupun acara doa bersama di rumah warga secara bergantian. Semuanya berjalan dengan damai, tanpa konflik yang melibatkan kekuatan adat, kekuatan negara, dan kekuatan agama. 

Sosok Pak San sebagai representasi tokoh Islam sekaligus aparatus negara menjadi figur kunci yang mampu mengajak warga desa untuk menjalani kehidupan baru; meninggalkan ketradisian yang tidak perlu ditangisi. Islam dan modernitas merupakan 'adat baru' yang secara diskursif dan praksis bisa menggantikan adat lama serta mengantarkan masyarakat desa menuju kesejahteraan.

Keberantaraan kultural yang dialami oleh penulis sebagai subjek yang pernah mengalami secara langsung ritual-ritual adat, kampanye modernitas yang digerakkan oleh rezim negara Orde Baru dan dakwah Islam di wilayah perdesaan, tidak lagi menjadi pijakan diskursif untuk menuliskan subjektivitas hibrid tokoh rekaannya yang mampu mengapropriasi budaya modern dan mentransformasi budaya tradisional dalam ruang kekinian. 

Alih-alih, subjektivitas yang dibentuk adalah strategi  revolusioner untuk meninggalkan adat sebagai masa lalu. Pilihan ini berkorelasi dengan kepentingan dakwah Islam sebagai agama yang akan membawa pencerahan religi bagi masyarakat serta hegemoni modernisme terhadap kehidupan masyarakat desa sebagaimana berlangsung saat ini. Proses ditinggalkannya tradisi yang membebani dan memiskinkan, baik secara material maupun spiritual, merupakan logika naratif untuk mengkonstruksi 'percumbuan manis' antara wacana keislaman dan modernitas sebagai kekuatan baru yang akan menuntun masyarakat di era terkini. Hibriditas ideal yang dianggit adalah pertemuan antara tradisi Islam dan budaya modern. 

Artinya, bukan lagi tradisi leluhur animistik maupun Hinduistik yang bisa memperkuat kedirian masyarakat lokal, tetapi ajaran Islam yang bisa mengisi ruang-ruang spiritual masyarakat di tengah-tengah semakin modernnya kehidupan mereka. Narasi nostalgik, paling tidak, memberikan imajinasi historis yang menawarkan kebenaran dan ketegasan sikap untuk meninggalkan adat di masa kini, karena masyarakat pada periode-periode sebelumnya sudah membuat pilihan-pilihan yang benar dan mereka bisa terbebas dari dogma-dogma yang tidak berdasar untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Legenda sebagai Kekuatan sekaligus Formula Pasar 

Menguatnya kerinduan pascamodern di tataran global, memberikan peluang tersendiri bagi industrialisasi lokalitas dalam ragam bentuknya, dari film, acara televisi, fashion, kuliner, hingga karya sastra. Keunikan tradisional yang oleh masyarakat diposisikan sebagai kekuatan komunal di tengah-tengah hegemoni budaya modern-global harus berhadapan dengan hasrat sebagian aktor kultural untuk menginkorporasi dan mengkomodifikasinya dalam formula naratif maupun stilistik yang dimapatkan. 

Tegangan antara hasrat masyarakat lokal untuk bersiasat di tengah-tengah hegemoni modernitas dan semakin berkuasanya kekuatan kapital dalam kebangkitan budaya lokal inilah yang oleh Huggan (2001) disebut sebagai eksotika pascakolonial. Memang, kehadiran narasi-narasi tradisional di dalam produk industrial bisa dianggap sebagai bentuk negosiasi untuk memperkuat identitas, tetapi apa yang tidak bisa disangkal adalah bahwa ketika ketradisionalan disuguhkan dalam produk populer mereka juga menjadi gugusan eksotisme yang memuaskan kerinduan para pembaca metropolitan. Bahkan, kalau tidak hati-hati, penulis bisa menghadirkan re-stereotipisasi terhadap nilai dan praktik budaya tertentu yang dianggap liyan oleh masyarakat lain.

Salah satu aspek lokalitas yang sampai sekarang masih menjadi formula strategis dalam industri budaya adalah komodifikasi legenda asal-usul sebuah wilayah, masyarakat, atau tokoh-tokoh lisan-heroik. Berbicara tentang legenda, karya Aekanu Hariyono, Kemiren, Kisah Barong Jakripah dan Paman Iris (2013, selanjutnya disingkat Kemiren) menarik untuk diperbincangkan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun