Mohon tunggu...
De Geas Official
De Geas Official Mohon Tunggu... Guru - Berbagi Ide dan Inspirasi

"Menulis adalah mengukir masa depan"

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menjawab Hoaks tentang Adat Pernikahan Suku Nias

28 Oktober 2021   19:14 Diperbarui: 28 Oktober 2021   19:35 2171
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
(Sumber: Museum Pusaka Nias)

Dr. Niru Anita Sinaga, SH., MH sama sekali tidak khawatir dan curiga karena melihat suaminya sangat baik, sejak mereka pacaran. Bahkan mereka tinggal di rumah mertua, beberapa bulan setelah menikah. 

Tujuan mereka adalah menyesuaikan diri dengan adat istiadat keluarga suaminya, serta masyarakat dan Gereja. Justru Niru mengenal kehidupan sosial masyarakat dan kehidupan rohani yang baik melalui keluarga mertuanya.Niru merasakan betapa mertua laki-laki dan perempuan sangat mengasihinya. 

Ia tidak pernah merasakan hal-hal negatif  seperti tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh sebagian orang. Selama hampir 30 tahun menikah ia mengalami hal-hal positif.  Ia tidak pernah mendengar dan melihat adanya kebiasaan tersebut dalam masyarakat Nias.

Ia mengajak masyarakat Nias agar tidak takut terhadap isu-isu tersebut. Apabila ada teman-temannya dari Suku Batak yang bertanya tentang isu itu, ia selalu bertanya balik, 'apakah mereka bertanya dalam keadaan waras atau tidak?' Apabila tuduhan miring, terhadap adat pernikahan suku Nias itu benar adanya,  maka ia duluan yang melaporkan ke polisi. Ia bahkan menyarankan agar masyarakat Nias tidak perlu menanggapi tuduhan-tuduhan semacam itu.

"Jangan membuang-buang energi yang tidak perlu" kata intelektual itu dengan tegas. Ia menegaskan bahwa tuduhan-tuduhan yang sering dilontarkan itu tidaklah benar dan sangat melukai perasaan orang suku Nias. Maka diharapkan masyarakat berhati-hati dalam menyampaikan pendapat tentang adat istiadat suku Nias. Klarifikasi di atas pernah  ditulis dalam buku, 'Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias', karya Silvester Detianus Gea dan H. Lisman B.S. Zebua yang diterbitkan oleh YAKOMINDO, pada tahun 2018.

Catatan Tertua Tentang Adat Pernikahan Suku Nias

Menurut Pastor Yohanes M. Hammerle, OFMcap, eksistensi masyarakat adat dan budaya Cina di Nias tidak terlalu sulit untuk dibuktikan karena sejarahnya relative baru. Ia menyinggung tentang informasi mengenai daratan Sumatera yang berhadapan dengan kepulauan Nias, khususnya kota atau pelabuhan Singkuang yang didirikan oleh orang Cina. 

Jarak pelabuhan Singkuang di pantai barat Sumatera dengan tepi laut di Kecamatan Lahusa di pantai Timur Nias sekitar 115 kilometer. Maka dapat diperkirakan bahwa asal-usul nenek moyang Nias berasal dari daratan Cina yang bermukim di Singkuang. 

Ia mengutip tulisan ilmuan awal yang menceritakan tentang sebuah pulau yang penduduknya memiliki budaya yang khas dan unik. Tulisan tersebut ditulis oleh seorang pedagang dari Persia yang pada suatu kesempatan mengadakan perjalanan ke daerah Asia Tenggara,  pedagang itu bernama Sulayman (851). 

Ia melaporkan tentang pulau-pulau (Kepulauan Nias) yang ia temui, di mana ia menceritakan bahwa penduduk di daerah itu memakan buah pohon kelapa, menghasilkan tuak, dan membasuh tubuh mereka dengan minyak kelapa. selain itu ia menceritakan adanya suatu kebiasaan atau adat istiadat, di mana jika seorang pemuda ingin menikah, maka ia harus membawa satu kepala musuh yang telah ia kalahkan. 

Apabila pemuda itu berhasil membawa dua kepala manusia maka ia boleh memiliki dua orang isteri. Selain itu, apabila ia mampu memenggal 50 kepala musuh, maka ia dapat memiliki 50 orang isteri. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun