Mohon tunggu...
Defi Almayni
Defi Almayni Mohon Tunggu...

* Servant of Allah * Si pengagum Matahari :)

Selanjutnya

Tutup

Travel

Cidahu, Wisata Alam Taman Nasional Gunung Halimun Salak

15 Mei 2019   21:52 Diperbarui: 15 Mei 2019   23:26 0 1 0 Mohon Tunggu...
Cidahu, Wisata Alam Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Gunung Salak

CIDAHU, SUKABUMI. Suara deru mesin kendaraan itu saling beradu seakan tak mau kalah oleh yang lainnya dengan menyusuri jalanan ibu kota si Kota Santri Sukabumi. Bumi berputar begitupun dengan dua roda yang sedang kami kendarai. Mendekati perbatasan antar Kabupaten Sukabumi dengan Kabupaten Bogor serta menyusuri ribuan pohon yang rindang menghiasi sekeliling jalan yang kami lalui. Hingga sampailah kami di tempat tujuan. Ya, Gerbang Wisata Taman Nasional Gunung Halimun Salak atau biasa disingkat TNGHS dari pintu masuk Cidahu, Sukabumi.

Jalur Cidahu Sukabumi merupakan jalur favorit bagi para tracking karena jalannya yang lebih mudah dibandingkan jalur yang lain. Bermodalkan Rp12.500 ditambah dengan parkir kendaraan roda dua yang kami bawa sekitar Rp7.500 kami dapat memasuki kawasan TNGHS tersebut.

Tak terasa, waktu bergulir begitu cepat. Terang yang kini mulai meredup menampakkan keindahan senja di pelupuk mata. Duduk terdiam menikmati keindahan yang disuguhkan oleh alam kepada kami. Kami memutuskan untuk menginap dengan membangun sebuah tenda di camping ground sekitar. Malam itu terasa sangat dingin beruntung kami bertemu dengan sekelompok wisatawan lain yang rela berbagi api unggunnya dengan kami serta berbagi daging panggang hasil olahan sendiri.

Iringan nada yang berasal dari petikan gitar seorang wisatawan menghibur kami semua yang berada di sekitar tenda. Sungguh ramah serta asik suasana saat itu membuat siapapun yang merasakan akan mengenang hal tersebut. Bara api sang sumber cahaya kian meredup begitupun dengan mata kami yang mulai bersayup-sayup. Ya, inilah saatnya kami mulai tidur dan bersiap esok pagi untuk berpetualang ke objek wisata selanjutnya.

Pagiku cerahku matahari bersinar, kugendong tas merahku di pundak. Salah satu lirik lagu anak-anak itu sangat mewakili kami untuk mengawali pagi hari ini. Sinar matahari yang mencoba menyeruak dengan malu melalui sela-sela daun dari pepohonan itu membuat diriku sang pecinta sinar matahari ini semakin kagum olehnya. Kami bersiap menuju destinasi berikutnya yaitu Curug Cangkuang atau biasa dikenal sebagai Curug Undak Dua.

Curug Undak dua merupakan air terjun yang berada di sisi selatan Gunung Salak, tepatnya di wilayah perbukitan Cangkuang. Jaraknya 1 kilometer dari pintu masuk Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Tak begitu jauh dari area camp atau camping ground tempat kami beristirahat. Menuju ke curug tersebut memakan waktu sekitar 1 jam. Akses menuju air terjun hanya bisa dilewati pejalan kaki. Ketika dalam perjalan menuju curug Undak Dua tersebut kami disuguhkan oleh pemandangan hutan pinus yang menjulang tinggi serta lanskap-lanskap dari persawahan warga sekitar. Begitu indah pemandangan yang disuguhkan ketika dalam perjalanan.

Setelah tiba di Curug Cangkuang, kami disuguhkan oleh pemandangan yang tak kalah indahnya dengan pemandangan selama perjalanan kami sebelumnya.

Bagaimana tidak, Air terjun yang menjulang begitu tinggi bak gedung-gedung yang berada di Kota tersajikan di depan mata dengan pohon-pohon yang begitu rindang seolah-olah membingkai sang objek utama yaitu curug Undak Dua tersebut. Dingin dan segar begitu yang kami rasakan saat percikan air terjun tersebut mencoba menyapa kami. Sungguh, perjalanan yang lumayan melelahkan sangat terbayarkan dengan keindahan alam seperti ini.

Manusia memang tak kenal kata puas, begitu pun dengan kami. Tak berhenti sampai disana kami mulai beranjak ke destinasi wisata alam lainnya yaitu Kawah Ratu sang objek favorit semua wisatawan. Kawah Ratu merupakan destinasi wisata yang berada di bagian tengah Gunung Salak. Kawah Ratu berjarak kurang lebih 4 kilometer dari pintu masuk Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Untungnya saat itu cuaca cerah, sehingga kami bisa mencapai Kawah Ratu dalam waktu sekitar dua jam dengan berjalan kaki. Saat sampai pun pemadangan yang tak kalah indah dari objek wisata sebelumnya tersuguhkan begitu eloknya di depan mata kami. Sayang, tak bisa terlalu lama berada di tempat ini karena terdapat larangan yang mengatakan bahwa bau belerang yang dihirup terlalu banyak oleh tubuh tidak akan baik bagi kesehatan. Setelah puas berfoto ria kami pun mulai melakukan perjalanan kembali untuk pulang ke rumah masing-masing.