Mohon tunggu...
dedy gunawan
dedy gunawan Mohon Tunggu... Saya suami dari seorang istri yang luar biasa dan ayah dari seorang anak hebat.

Penulis dan blogger

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Memek, Kuliner Khas dari Simeulue

23 September 2019   22:29 Diperbarui: 23 September 2019   22:49 0 4 1 Mohon Tunggu...
Memek, Kuliner Khas dari Simeulue
Semangkuk memek, kuliner khas Pulau Simeulue yang baru-baru ini ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Sumber Foto: Instagram @dedekparta

Dari ujung timur ke ujung barat, Indonesia kaya akan kuliner. Jika di ujung timur terkenal dengan papeda, di ujung barat beken dengan memek. Memek adalah satu kuliner khas Pulau Simeulue, Aceh.

Makanan berbahan dasar pisang, beras ketan dan santan ini memiliki citarasa lezat dan nilai gizi tinggi. Sebagai orang Nusantara, kita patut berbangga, karena baru saja kuliner lokal ini dinobatkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.

Dinamai dengan "memek" karena berasal dari bahasa sehari-hari di sana yaitu mamemek yang artinya mengunyah atau menggigit beras. Sebagai bagian dari sumber pangan, beras begitu dengan kehidupan masyarakat di sana dan jadi bagian kebudayaan. Maka mamemek adalah satu tradisi yang jamak ditemukan di tengah masyarakat agraris.

Di bulan suci Ramadan, masyarakat setempat biasa menyiapkan memek sebagai hidangan berbuka puasa. Tak heran, jika momen Ramadan, kuliner lokal ini mudah ditemukan di berbagai tempat dan dijajakan di pinggir jalan. Kehadiran memek di bulan suci semakin menandaskan kesan merayakan ibadah dalam konteks lokal. Kuliner unik ini semakin membumikan kearifan lokal di tengah zaman yang kian millenial.

Namun, sejak dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda, popularitas memek meningkat. Di jejaring media sosial, memek menjadi topik pembicaraan utama. Sebagai imbasnya, masyarakat dari berbagai daerah pun mulai memburu kuliner ini. Rasa penasaran akan cita rasa makanan satu ini mendorong banyak orang untuk mencari dan mencoba mencicipinya.

Proses pembuatan "memek" terbilang mudah. Pertama sekali, bahan-bahan harus disiapkan. Setelah semua bahan tersedia lengkap, mulailah dengan menyangrai beras ketan (atau disebut pulut).

Kemudian buah pisang dilumat sampai agak halus. Boleh memakai jenis pisang raja atau pisang kepok, tetapi musti yang telah matang. Umumnya alat yang digunakan untuk melumat pisang adalah pelepah pisang itu sendiri. Penggunaan pisang inilah yang memberi citarasa sedap dan kata gizi.

Bila sudah halus, bubur pisang disiram santan panas. Lalu ditaburi dengan gula dan garam. Selanjutnya, taburi lagi dengan beras ketan yang sudah disangrai. Nah, memek pun siap untuk disajikan. Sederhana, bukan?

Jika berminat untuk mencicipinya, tidak perlu jauh-jauh harus ke Aceh. Anda bisa mencoba memasaknya sendiri di rumah dengan mengikuti panduan di atas. Tetapi jika berkesempatan berkunjung ke Simeulue, tentulah lebih sedap mencicipi memek di kampung kelahirannya.

Makanan ini bisa disantap saat panas ataupun dingin. Sekadar informasi, di Aceh sendiri, memek banyak dijual di kawasan wisata atau kafe-kafe dengan harga sekitar Rp 5000 per porsi. Memek akan mudah ditemukan di kafe-kafe misalnya.

Memek biasanya disajikan bersama makanan khas lainnya seperti tabaha batok, tabaha longon, sanggal batok, lompong batok, kule tafee, dan lainnya.

Sebenarnya, Aceh mengusulkan 11 karya budaya untuk dinilai sebagai warisan budaya. Namun hanya empat yang dinyatakan memenuhi syarat dan salah satunya adalah memek Simeulue.

Sementara tiga karya budaya Aceh lainnya yang turut dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia 2019 yaitu Gutel dari Aceh Tengah sebagai domain kemahiran dan kerajinan tradisional, Sining dan Aceh Tengah sebagai domain seni pertunjukan, dan Silat Pelintau dari Aceh Tamiang sebagai domain tradisi dan ekspresi lisan.

Kita patut bersyukur, satu persatu kekayaan kuliner kita mulai dilestarikan sebagai warisan budaya. Ini menunjukkan keberpihakan negara terhadap upaya penyelamatan dan pelestarian kebudayaan kita yang sangat kaya dan beragam. Sehingga negara kita semakin tinggi martabat dan derajatnya di mata dunia sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan menjunjung kebudayaan. (*)