Mohon tunggu...
dedy gunawan
dedy gunawan Mohon Tunggu... Saya suami dari seorang istri yang luar biasa dan ayah dari seorang anak hebat.

Penulis dan blogger

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Gerakan Green Clean and Life dari Pelosok

9 Agustus 2019   19:22 Diperbarui: 9 Agustus 2019   19:27 0 5 3 Mohon Tunggu...
Gerakan Green Clean and Life dari Pelosok
Taman Bunga di salah satu SD di Sergei, Sumut. Foto oleh Dedy Hutajulu

JIKA berkunjung ke daerah-daerah pelosok, umumnya kita mudah menemukan sekolah-sekolah yang tampilan fisiknya jelek. Tetapi tidak dengan di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergei), Sumatera Utara. Di sana yang terjadi justru sebaliknya. 

Dari sebanyak 468 unit sekolah dasar di Sergei, sekarang ada 159 sekolah yang tampilan fisiknya begitu adem, hijau, karena ditata dengan rapi, ditanami banyak bunga dan pohon, terjaga kebersihannya, sehingga menjadi begitu asri dan sejuk. 

GCL Jadi Kunci.

GCL adalah akronim dari Green, Clean and LifeGerakan ini sukses membawa ratusan sekolah di Sergei menjadi serupa taman bermain, sebagai sekaligus rumah kedua bagi anak didik. Niat untuk berubah, kepemimpinan yang kuat, pelibatan orangtua murid dan masyarakat menjadi kata kunci untuk mewujudkan sekolah GCL. Sekolah-sekolah yang "indah" dari pelosok ini tampil menjulang sebagai sekolah percontohan soal kebersihannya, kehijauannya serta kehidupan akademis yang diciptakannya.

Di Kampung Manggis misalnya. Sekolah ini memiliki lingkungan yang tertata rapi. Tentu saja dia bukan sekolah bonafid. Tetapi menjadi beken karena kebersihan dan keindahannya. Itu bisa terwujud berkat kerja keras kepala sekolahnya beserta guru-guru. 

Mereka berikhtiar untuk menerapkan gerakan GCL. Sejumlah inovasi pun mereka ujicobakan. Kepala Sekolah rela blusukan keluar masuk pasar tradisional demi mengumpulkan gagasan baru soal penataan lingkungan. Gagasan yang didapat dari pasar itulah kemudian dikloning ke sekolah, sepasti memasang payung warna-warni yang menudungi tempat-tempat duduk yang biasa dimanfaatkan anak untuk membaca.

Begitu juga di Sipispis. Dulunya, sekolah ini kerap menjadi ladang penggembalaan sapi. Lokasinya bersebelagan dengan perkebunan sawit. Tidak ada gerbang dan pagar, sehingga sapi-sapi begitu mudahnya merusak dinding kelas dan mengotori pekarangan. Dengan gerakan GCL, sekolah disulap menjadi indah. Sekolah dipagari, dicat rapi, ditata dan dihijaukan dengan tanaman.

Tak kalah menarik, ada satu sekolah di Sei Rampah menjadi langganan becek di musim penghujan. Seorang murid pernah dilarikan ke ruang Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit terdekat karena terjangkit demam berdarah. 

Sekarang, dengan GCL, masyarakat bersama komite sekolah bahu membahu mendukung gerakan GCL. Mereka ikut berkontribusi menyumbangkan gagasan, dana, daya dan waktu untuk membangun sekolah sehingga menjadi lebih baik serta lebih layak bagi anak untuk belajar.

Tak sampai di situ, GCL juga memberi kesempatan emas bagi anak didik untuk terlibat menjaga sekolah dan bertanggung jawab merawat bunga dan tanaman di sekolah tempat belajar mereka. Sekolah di Sei Rampah bahkan tak lagi menjadi underdog dari sekolah lain, juga berkat keberanian sekolah menerapkan gerakan GCL.

GCL juga menjadi pemantik orangtua mendaftarkan anaknya ke sekolah yang, menurutnya, layak bagi tumbuh kembang buah hati mereka. Tak heran jika ada sekolah di daerah Bengkel, Kecamatan Perbaungan tahun ini membengkak jumlah siswanya ketimbang sebelumnya. Peningkatan itu terjadi karena kepercayaan orangtua terhadap sekolah tersebut meningkat dan persepsi masyarakat soal sekolah ideal bukan lagi sebatas mutu lulusan tetapi juga gerakan GCL.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x