Mohon tunggu...
Dedy Padang
Dedy Padang Mohon Tunggu... Bukan penulis, apalagi pujangga. Harapannya pendoa

Youtube: Dedy Padang FB : Dedy Padang Instagram : dedypadang2466 Menulis merupakan sarana yang sangat baik untuk menenangkan diri. Saat menulis, mengalir suatu emosi dalam diri yang tergerak dalam gerakan pena dan kata atau pun bahasa yang kita pakaikan,,,

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Saat Aku Harus Kembali kepada Bapak yang Mengemis Itu

12 April 2021   15:34 Diperbarui: 12 April 2021   16:01 100 17 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Saat Aku Harus Kembali kepada Bapak yang Mengemis Itu
Ilustrasi Bapak Yang Mengemis (pixabay.com) 

Suatu siang, ketika mendekati pintu gerbang kompleks perumahan kami, saya bertemu dengan seorang bapak sedang mengemis yang duduk di pinggir jalan. Di depannya terdapat sebuah toples yang berisi uang receh. Toples itu berwarna putih sehingga isinya dapat saya lihat.

Saat itu saya baru saja kembali dari satu Sekolah Dasar di kota Gunungsitoli untuk memberikan rekoleksi.

Sebenarnya saat melihat beliau, saya segera merogoh ranselku untuk menemukan  dompetku yang kusimpan di dalamnya. Saya berniat memberi uang.

Namun, karena saya kesulitan menemukan dompetku, ditambah lagi siang itu cuacanya sangat terik, maka saya pun tidak jadi memberi uang kepada bapak itu. Saya mengambil jalan lain yang tidak melaluinya agar tidak merasa terhakimi oleh hati nurani.

Namun, sepanjang perjalanan ke rumah, saya selalu teringat dengan bapak itu. Ada rasa bersalah yang kurasakan karena dengan sengaja mengabaikan bapak yang mengemis tersebut.

Akhirnya setibanya di rumah, saya memutuskan untuk kembali kepada pengemis itu. Saya harus memberinya uang. Setelah saya selesai menyimpan ransel dan mengambil dompet dari dalamnya, maka saya pun pergi ke tempat pengemis tadi. Saya juga menyempatkan diri mengganti pakaian karena sudah basah dengan keringat yang keluar selama perjalanan dari SD ke rumah.

Ketika tiba di tempat pengemis itu saya memasukkan uang ke dalam toples uangnya. Tiba-tiba terdengar suara halus dari bapak itu, "Saohagolo (bahasa Nias, yang artinya terima kasih)". Lalu sambil tersenyum saya pun membalasnya dengan berkata, "Lau ama (bahasa Nias, yang artinya iya bapak).

Setelah itu saya pun kembali ke rumah dengan hati penuh sukacita.

Sungguh menyenangkan pengalaman siang itu. Ada rasa bangga dalam hati ketika saya bersedia kembali keluar untuk memberi uang kepada pengemis yang sempat saya abaikan dengan mengambil jalan lain yang tidak melaluinya.

Syukur kuhaturkan kepada Tuhan atas pengalaman siang itu. Dari pengalaman itu saya berniat untuk tidak mau lagi mengabaikan niat baik yang keluar dari hati untuk sesama. Karena nyatanya bisa membantu sesama, meski kecil sekalipun, sungguh mendatangkan sukacita di dalam hati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN