Dedy Padang
Dedy Padang pelajar/mahasiswa

Menulis merupakan sarana yang sangat baik untuk menenangkan diri. Saat menulis, mengalir suatu emosi dalam diri yang tergerak dalam gerakan pena dan kata atau pun bahasa yang kita pakaikan,,,

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Asal-usul Manusia dalam Mitologi Batak Toba

12 Agustus 2017   14:50 Diperbarui: 12 Agustus 2017   14:51 177 0 0

1. Pengantar

Pertanyaan dari manakah manusia dan ke manakah tujuannya merupakan pertanyaan paling mendasar dari eksistensi manusia di dunia ini.[1] Manusia di dunia ini merupakan fakta empiris. Namun, siapa yang mengetahui dari manakah manusia dan adakah manusia pertama di dunia ini yang merupakan cikal bakal berkembangnya manusia hingga berjumlah banyak seperti sekarang ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, Gereja Katolik mengambil jawabannya dari buku iman yaitu Kitab Suci baik itu dalam Kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Jawaban ini merupakan jawaban iman berdasarkan kesaksian Biblis.[2] Dari sana disimpulkan bahwa manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Allah yang menciptakan manusia di dunia ini dan kuasa-Nya senantiasa menyertai manusia hingga saat ini. Jawaban ini muncul setelah agama Katolik mulai masuk dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, jawaban ini adalah jawaban seturut iman Gereja Katolik.

 

Jika demikian halnya, bahwa setelah agama masuk dalam kehidupan manusia ditemukan asal usul manusia, lalu bagaimana paham manusia 'dulu' saat agama (agama resmi) masuk dalam kehidupan mereka tentang asal dan usulnya? Tentunya manusia 'dulu' juga punya kepercayaan tersendiri akan asal dan usulnya. Kepercayaan ini merupakan suatu kesepakatan bersama yang diturunkan secara turun temurun di kalangan manusia untuk memberi jawaban atas asal dan usul mereka.

 

Sistem kepercayaan ini tidak mutlak tetapi relatif. Ia bergantung pada etnis dari manusia itu sendiri. Berbeda etnis manusianya, isi kepercayaannya juga berbeda. Oleh karena itu, sistem kepercayaan semacam ini majemuk atau variatif.

 

Negara Indonesia memiliki banyak suku yang tersebar di seantero nusantara. Salah satunya ialah Suku Batak Toba. Suku masyarakat ini tingga di sekitar Danau Toba dan bagian Selatan Danau Toba, yang menurut adminstratif negara Republik Indonesia terdiri dari Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Samosir.[3] Oleh sebab setiap suku memiliki kepercayaannya sendiri-sendiri tentang asal-usulnya, masyarakat Batak Toba juga demikian. Mereka memiliki kepercayaan bahwa manusia berasal dari Debata Mula Jadi Nabolon. Ia (Mula Jadi Nabolon) adalah Tuhan bagi mereka. Mereka pun mempercayai bahwa manusia dan segala sesuatu yang ada di dunia ini diciptakan Mula Jadi.[4] Sebagaimana jenis kepercayaan pada umumnya, kepercayaan ini juga termasuk mitos yang berkembang di kalangan masyarakat Batak. Kepercayaan ini sedemikian rupa, dikisahkan ulang kepada generasi selanjutnya untuk menjawab seluk-beluk kehidupan mereka di dunia ini.

 

Kepercayaan tentang asal-usul manusia inilah yang menjadi pembahasan dalam paper ini. Penulis hendak melihat bagaimana keyakinan orang Batak tentang asal-usulnya. Setelah itu penulis akan melihatnya dalam terang iman Gereja Katolik yang merujuk pada Kitab Kej 1:1-2:4a.

 

2. Kisah Penciptaan Manusia dalam Mite Batak Toba

a. Penciptaan Manusia Batak Toba

 Terdapat banyak versi mite penciptaan dalam Masyarakat Batak Toba. Keberagaman mite ini terjadi karena proses sosialisasiya yang bersifat lisan kepada generasi berikutnya. Oleh karena itu penulis akan memaparkan mite penciptaan versi Johannes Warneck[5] yang diterbitkan dalam bahasa Jerman pada tahun 1909. Versi ini dikutip oleh penulis dari buku Dr. Anicetus Sinaga yang berjudul "Allah Tinggi Batak Toba. Transendensi dan Imanensi".[6] Namun dalam paper ini akan dituliskan versi terjemahannya yang dalam bahasa Indonesia. Penulis memilih versi ini karena lebih bernuansa religius dibanding dengan versi yang lainnya.[7] Selain itu, versi ini juga memiliki sifat etiologi atas kehidupan atau pun kebiasaan masyarakat Batak Toba. Demikian kisahnya:

"Pada mulanya,Debata Mulajadi Nabolon telah menciptakan segala sesuatu. Ia bermukim di kayangan tingkat tertinggi yaitu tingkat tujuh. Ia memiliki dua hamba yaituSi Leang-leang Naguranta, penjaga pintu kayangan, dan Si Leangleang Mandi, utusannya ke mana-mana. Pada awal mula,Banua Tonga masih penuh air. Sekali waktu,Si Leangleang Mandi pergi ke tingkat bawah kayangan. Di sana belum ada apa-apa. Bumi masih hampa. Lalu ia bertanya kepadaMula jadi: "ApakahOmpung bermaksud menciptakan penghuni kayangan di bawah kita? Sebab tak suatu apa pun terdapat di sana, sebagaimana saya saksikan sendiri waktu mengunjunginya." Lantas ia menciptakan tiga orang, yakniBatara Guru, Soripada danMangala Bulan. Ketiganya dibuatnya menghuni kayangan tingkat kedua. Batak menyebut ketiga dewata ini putra-putraMula jadi dan dihormati setara.

LaluOmpung menciptakan sebatang pohon yang bernamahariara sundang langit (yang condong ke langit). Ia menanamnya diAngkola Julu (wilayah di Tanah Batak Selatan). Ompung menciptakan seekor burung dan menempatkannya pada puncak pohon tersebut. Setiap pagi ia turun dan minum tiga titik air embun. Lama setelahnya, ia bertelur tiga butir yang besarnya lebih dari besanya periuk tanah yang besar (Hudon boru-boru). Lantas ia mengeluh padaOmpung karena telurnya jauh lebih besar dari dirinya. Mendengar keluhannya, melalui utusannya,Ompung mengatakan supaya ia bersikap tenang dan terus mengerami telur tersebut.

Setelah lama mengeram, telur itu bersuara: "Ya bunda, janganlah mematuk pada kepalaku, agar kelak keturunanku tidak menderita sakit kepala. Jangan mematuk pada telingaku, agar keturunanku tidak tuli. Jangan mematuk pada mataku, agar keturunanku tidak buta. Patuklah pada hidungku, agar keturunanku tidak sengau. Jangan patuk pada mulutku, agar keturunanku tidak sumbing. Jangan mematuk pada lenganku, agar keturunanku tidak berlengan lumpuh. Jangan mematuk pada pada pinggulku agar keturunanku tidak sakit pinggul. Jangan mematuk pada kakiku, agar keturunanku tidak pincang.

Mendengar telurnya berbicara demikian, ia terkejut, berkesah dan berkata: "O mimpi buruk! Aku menelurkannya, tetapi mereka mengajar aku. Betapa buruk nasibku ini". Mendengar itu, telurnya pun menyahut: "O ibu, patuklah pada rusukku, agar aku beroleh banyak keturunan". Maka burung itu mematuk pada pinggang, lantas menetaslah tiga orang gadis. Tatkala ketiga gadis itu telah akil,Mula jadi menikahkan mereka kepada ketiga putranya. Lama sesudahnya, lahirlah putri Batara Guru, yang dinamainyaSi Deak Parujar. Lahir pula adiknya perempuan, bernamaSi Boru Sunde, dan lagi adik putri, bernamaSi Boru Margiring Omas. PadaSoripada lahir seorang putra bernamaOmpu Raja Bonangbonang. PadaMangala Bulan lahir pula seorang putra bernamaTuan Ruma Uhir Tuan Ruma Gorga.

Tatkala anak-anak menjadi akil, Mangala Bulan meminta kepada Batara Guru untuk menikahkan anak mereka yaitu:Tuan Ruma Uhir denganSi Deak Boru Parujar. Tetapi putriBatara Guru, Si Deak Parujar, menolak setelah ia melihat bagaimana rupa dariTuan Ruma Uhir yang seperti kadal dan bunglon. TetapiBatara Guru memaksanya dan membuat ia menyetujuinya dengan syarat supaya ia terlebih dahulu bertenun. Ia pun menenun. Tetapi tenunannya tak kunjung selesai hingga tujuh tahun, tujuh bulan sehingga gelendong benangnya semakin mengerdil sebesar kemiri.

Ia pun tidur untuk bertanya mimpi; ia berdiri untuk berpikir. Ia menimbang-nimbang dan merancang suatu rencana. "OOmpug Mulajadi, bukakanlah pintu Kayangan!Mulajadi menyuruh hambanya,Leangleang Naguranta, membuka pintu, untuk menjemputSi Deang Parujar ke hadapannya. Tatkala pintu Kayangan terbuka,Si Deak Parujar memandang ke bawah, keBenua Tengah dan melemparkan gelendong benangnya ke bawah sambil memegang ujungnya. Ia berusaha menggulungnya, tak mungkin lagi. Ia sedih dan berkata kepadaSi Leangleang Naguranta: "Mulajadi telah mengutusmu menjemput saya. Katakanlah kepadaOmpung bahwa saya ingin lebih dulu turun keBenua Tengah untuk mengambil gelendong benang saya". Lantas ia turun menyusur benangnya.Si Leangleang Naguranta kembali keMulajadi untuk menyampaikan berita itu.Mulajadi berkata: "Bahwa ia dia sudah pergi. Beritahukanlah kepadaBatara Guru danMangala Bulan". Mulajadi mengutusSi Leangleang Mandi keBenua Tengah untuk menjemputSi Deak Parujar.

Yang disebut terakhir menangis sejadi-jadinya di sana, karena angin berhembus dengan kencang, sehingga ia diombang-ambingkan oleh gelombang. Ia berusaha menangkapSi Leangleang Mandi dengan rambutnya.Leangleang Mandi memohon: "Jangan membunuh aku. Aku adalah suruhanMulajadi". "Kalau engkau suruhanMulajadi, pergilah kepadaOmpung, agar diusahakan mengirimkan tempat berpijak diBenua Tengah ini." Seterima permohonan ini,Mulajadi menyuruhnya membawa segenggam tanah menjadi tempat berpijakSi Boru Deang Parujar. Ia menyuruhSi Deak Parujar menempa tanah menjadi lebar dan panjang. Si Boru Deak Parujar melakukannya seperti disuruh. Maka tanah menjadi sungguh lebar dan panjang. Maka sang putri dewata dapat berdiam dengan aman diBenua Tengah.

NamunRaja Padoha (Naga Padoha), yang bermukim diBenua Tengah, menggerutu oleh beban timbunan tanah di atas kepalanya. Tatkala ia berkisar, tanah pun hancur danSi Boru Deak Parujar terpaksa berlindung ke bawah sebatang pohon sebab tanahnya berubah menjadi air. Ia menangis sejadi-jadinya. Hamba setiaSi Leangleang Mandi terbang mengabarkan berita buru ini kepadaMulajadi. Kata Mulajadi: "Baiklah, kembalilah ke sana, bawalah kain untukSi Deak Parujar untuk dikenakan sebagai tudung, agar ia jangan mati sebab delapan matahari akan dicipta untuk mengeringkan laut". Setelah matahari itu diciptakan, badanRaja Padoha merekah oleh panasnya dan ia berpaling kepadaSi Deak Parujar. "Rasanya engkaulah yang membuat semuanya ini kepadaku". "Ya, aku membuatnya sebab engkau menghancurkan tanahku". LangsungSi Deak Parujar menikamNaga Padoha dengan pedang sampai ke gagangnya sehinggaNaga Padoha mengerang. "Jangan membunuh aku. Masukkanlah aku ke dalam kerangkeng besi, yakni ekor, leher, tangan dan kaki. Kadang-kadang, tatkala ekorku berkisar dan tanah bergetar, serukanlah "Suhul" (gagang pedang), janganlalo (gempa), untuk mengingatkan aku akan pedang yang tertancap dalam tubuhku; maka segera aku akan berhenti. Selanjutnya ingatlah: tatkala timbul gempa, itulah tanda merambatnya cacar,kelaparan dan pelbagai penyakit (roh-roh jahat).Naga Padoha lantas membiarkan dirinya dikerangkeng. Sampai hari ini, tatkala timbul gempa,Batak menyerukansuhul, oleh keyakinan bahwaNaga Padoha mengibaskan ekornya dan dia harus diingatkan akan keterpenjaraannya.

KemudianMulajadi memberikan tujuh belas genggam tanah kepadaSi Leangleang Mandi untuk digunakan oleh cucunyaSi Deak Parujar memulihkan bumi. DisuruhnyaSi Deak Parujar mengulang proses penempaan bumi sediakala. Tatkala bumi berhasil ditempa ulang, diciptanya tiga buah sungai di atasnya.Si Leangleang Mandi mengabarkan kepadaMulajadi bahwa semuanya berjalan dengan baik. Namun oleh panasnya delapan matahari, ia pun kelelahan dan tak berdaya, lantas ia beristirahat.Mulajadi lantas mencipta gunung bernamaTinggir Raja, sebagai peristirahatanSi Leangleang Mandi pada perjalanannya ke bumi untuk menjadi tempat bertenggernya.Mulajadi menanam di sana sebatang pohon yang bernamaTumburjati. Dikirimnya seekor tekukur untuk bersarang di atas pohon yang telah mengembang sangat rimbun itu.

Lama kemudian, berkatalahMangala Bulan kepadaSi Leangleang Nagarunta: "Pergilah kepadaOmpung Mulajadi untuk bertanya, apa rencananya dengan putraku,Si Tuan Ruma Uhir, Si Tuan Ruma Gorga". Tatkala mendapat pertanyaan ini,Mulajadi menyuruhTuan Ruma Uhir datang kepadanya. Disuruhnya mengikatkan sumpitan kepadanya yang bertuliskan namanya:Raja Uhum Manisia (Raja Hukum Manusia). Dalam satu paket, ia melemparkannya ke bumi. Setelah tujuh hari, ia pun terbangun dan menemukan di sampingnya sumpitan yang bertuliskan namanya. Kelelahan oleh panasnya matahari, ia pun berlindung ke bawah pohonTumburjati di atas gunungnTinggirraja. Tatkala ia melihat ke puncak pohon, ia melihat tekukur sedang bertengger pada salah satu dahannya. Ia pun menyambar sumpitan, menyumpit burung dan kena. Tetapi tekukur itu terbang ke arah pondokSi Deak Parujar. Di sana mereka bertemu. Ia memandangiSi Deak Parujar dan menyapa: "Adakah temanmu di siniinang?""Tidak ada" jawabnya. KataSi Raja Uhum: Masaklah tekukur yang telah kusumpit ini, sebab aku pun tidak ada kawan".Si Deak Parujar setuju dan memasak burung tersebut.

Di dalam tembolok burung itu terdapat pelbagai jenis benih pohon, sayur-sayuran, padi, jagung dan pelbagai vegetatif lain. DemikianlahSi Deak Parujar menjadi isteriSi Raja Uhum (Tuan Ruma Uhir). (Berikutlah nama-nama keturunannya, yakni generasi Batak).

Lama kemudian, berkatalahSi Raja Uhum kepada Si Leangleang Mandi: "Pergilah kepadaMulajadi dan sampaikanlah permohonan kami yaitu supaya kami hidup lebih aman bekerja. Sekarang tidak pernah terjadi malam; tanam-tanaman tak dapat berkembang subur karena pansanya delapan matahari. Kami mohon agar hanya ada satu matahari saja dan agar dalam kurun yang sama, siang berganti malam."Mulajadi bertindak sesuai permohonan mereka. Ia juga mengajarkan kepada mereka mengenai pembagian musim dan pemahaman perbintangan.

 

b. Analisis Singkat Tentang Mite Penciptaan Batak Toba

 

Masyarakat Batak Toba, berdasarkan mite di atas, telah memiliki suatu keyakinan akan hadirnya sosok penguasa di dunia ini. Sosok penguasa itu ialah Debata Mulajadi Nabolo atau Ompung Mulajadi Nabolon. Istilah Ompungyang mereka gunakan menunjukkan sisi keagungan dari Tuhan mereka. Dalam konteks religius, Ompu digunakan untuk menunjukkan ketakwaan (sembah suci). Ompung adalah sebutan kepada semua yang ingin dipuja[8]. Istilah Mulajadi merujuk pada asal-usul, awal mula terjadinya sesuatu. Istilah ini dalam bahasa Batak mendapat padanannya dengan kata manjadihon(Menjadikan), menompa(Mencipta) dan mambahen(Membuat). Dengan istilah ini, dapat dikatakan bahwa Tuhan orang Batak adalah juga pencipta segala sesuatu yang ada. Untuk istilah nabolon menunjukkan sisi kebesaran atau keagungannya (na: yang, bolon: besar, agung).[9]

 

Masyarakat Batak Toba percaya bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, termasuk manusia, berasal dari Mulajadi Nabolon. Ia dihormati, disembah sebagai pencipta dan penguasa. Oleh karena itu perbuatan sujud suci kepadanya perlu.

 

Selain itu, bisa juga ditarik suatu kesimpulan bahwa sifat creatio ex nihilo bisa diatributkan pada Mulajadi Nabolonini. Dari mite di atas, walau tidak tampak secara jelas, dilukiskan bahwa Mulajadi Nabolon mencipta dari dorongan keinginannya sendiri. Ia mencipta tanpa membandingkan sesuatu yang lain yang berada di atasnya. Dalam buku Dr. Anicetus Sinaga (Allah Tinggi Batak Toba; Transendensi dan Imanensi) ditulis demikian; "Dia (Mulajadi Nabolon) sanggup mencipta apa saja yang ia ingin adakan hanya dengan kata saja". Pernyataan ini ia kutip dari W.M. Hoetagaloeng. Dari pernyataan tersebut, jelas menunjukkan adanya sifat creatio ex nihilo dalam kisah penciptaan Batak Toba.[10]

 

 

 

3. Refleksi Penciptaan Batak Toba

Dalam merefleksikan penciptaan Batak Toba, penulis menggunakan kisah penciptaan yang ada dalam iman Gereja Katolik. Penulis mengambilnya dari Kitab Kej 1:1-2:4a. Namun dalam hal ini penulis tidak akan menuliskan kisah tersebut. Penulis hanya akan menyebutkan beberapa kalimat yang akan menjadi pesan perbandingannya dengan penciptaan Batak Toba. Perbandingan ini dibagi dalam dua bagian, yaitu bagian persamaan dan bagian perbedaan.

 

3.1 Persamaan

3.1.1 Manusia berasal dari Allah

 

Baik kisah penciptaan Batak Toba maupun kisah penciptaan Iman Katolik keduanya sama-sama menunjukkan bahwa manusia itu berasal dari Allah atau Ompung Mulajadi Nabolon. Kedua kisah penciptaan tersebut sama-sama mau menekankan bahwa manusia ada karena kehendak Tuhan. Sosok pencipta dalam kepercayaan Batak Toba ialah Ompung Mulajadi Nabolon. Ompung Mulajaditersebut menjadi asal dari segala sesuatu yang ada di jagat ini, termasuk manusia.[11]

 

 

 

3.1.2 Creatio ex Nihilo

 

Baik Batak Toba maupun Iman Katolik sama-sama menunjukkan bahwa Allah itu mencipta dari ketiadaan. Awal mula mutlak ditentukan ditentukan oleh Allah melalui firman-Nya atau pembicaraan-Nya berupa perintah. Ia menjadikan apa yang oleh tak seorang manusia pun dapat menjadikannya. Kegiatan mencipta Allah ini dikenal dengan istilah bara. Penciptaan Allah berasal dari kehendak-Nya dan seperti bermain-main.[12]

 

Dalam kisah penciptaan Batak Toba, memang tidak begitu terlihat bahwa penciptaan yang dilakukan oleh Ompung Mulajai bersifat creatio ex nihilo. Tetapi dari muatan kata Mulajadi Nabolon(manjadihon, manompa) yang khas milik Allah menunjukkan secara implisit terkandung ide creatio ex nihilo. Lagi pula pernyataan W.M. Hoetagaloeng yang dikutip oleh Dr. Anicetus dan berbunyi "Dia (Mulajadi Nabolon) sanggup mencipta apa saja yang ia ingin adakan, hanya dengan kata-kata saja" menunjukkan makna creatio ex nihilo.

 

 

3.1.3 Manusia sebagai Ciptaan yang Istimewa

           Dalam kisah penciptaan Batak Toba, walau tidak jelas ditunjukkan, terlihat bahwa manusia adalah ciptaan istimewa dari segala ciptaan yang diciptakan oleh Ompung Mulajadi Nabolon. Ia (Ompung Mulajadi) mengadakan segala sesuatu untuk kebutuhan manusia di dunia ini dan memperhatikan manusia secara khusus dengan melindunginya dari segala kejahatan. Selain itu terdapat perintah kepada manusia untuk berkembang biak memenuhi seluruh dunia. Ompung Mulajadijuga terlihat dekat dan menjawab semua keluhan dan keinginan manusia.

            Dalam Kitab Kejadian, dilukiskan bahwa manusia diciptakan pada hari ke enam, yaitu pada saat semua ciptaan yang ada dalam dunia diciptakan. Semua ciptaan yang diciptakan sebelum manusia dan manusia diciptakan setelahnya menunjukkan kepedulian Allah pada manusia. Ciptaan-ciptaan sebelum manusia itu ditujukan untuk membantu kebutuhan hidup manusia. Inilah bukti keistimewaan manusia di antara ciptaan yang diciptakan Allah (bdk. Kej 1:29).

 

3.1.4 Relasi Akrab antara Ciptaan dengan Pencipta

 

            Dalam penciptaan Batak Toba terdapat relasi akrab antara Ompung Mulajadi Nabolondengan Si Boru Deak Parujar. Relasi akrab dalam Batak Toba dilukiskan lewat pemberian bantuan yang terjadi secara terus-menerus dari Ompung Mulajadikepada Si Boru Deak Parujar. Si Boru Deak Parujar menyampaikan pesannya melalui utusan Ompung. Hal itu menunjukkan bahwa sang Pencipta tidak meninggalkan begitu saja manusia yang telah Ia jadikan dan manusia sebagai yang dijadikan bergantung mutlak kepada sang Pencipta tersebut.[13]

 

            Dalam Kitab Kejadian, relasi itu ditampakkan lewat percakapan langsung antara Allah, sang Pencipta, dengan manusia ciptaan-Nya. Allah berfirman kepada manusia, "Beranakcuculah, dan bertambah banyaklah, penuhilah bumi dan taklukkanlah ia..., lihatlah aku memberikan kepadamu..., (Kej 1:28:30). Ini adalah bentuk dialog antara Allah dengan manusia yang baru saja diciptakan.

 

 

3.1.5 Dialog Penciptaan

 

           Baik dalam kisah penciptaan menurut kepercayaan Batak Toba maupun dalam Kitab Kejadian, terlihat bahwa saat hendak mencipta manusia, Allah (Pencipta) mengadakan dialog. Berdialog mengandaikan ada rekan yang minimal beranggotakan dua orang. Dalam kisah penciptaan Batak Toba nampak bahwa Ompung Mulajadi berdialog dengan hambanya yang bernama Si Leang-leang Mandi. Ompung Mulajadimenginformasikan kepada hambanya tersebut bahwa Ia akan menciptakan manusia untuk menghuni kayangan yang berada satu tingkat di bawah kayangan mereka.[14]

 

            Dialog yang rasanya hampir serupa juga terjadi dalam kisah penciptaan kitab Kejadian. Allah berkata, "Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita...(Kej 1: 26). Dari pernyataan itu, nampak jelas bahwa Allah mengadakan dialog sebelum menciptakan manusia untuk berkuasa atas semua ciptaan yang telah diciptakan sebelumnya.

 

 

3.2 Perbedaan

3.2.1 Sistem Pengisahannya

            Seturut cara pengkisahannya, kisah penciptaan Batak Toba tidak terlihat sistematis. Semua telah diciptakan sebelum manusia dan bagaimana hal itu diciptakan tidak dikisahkan dengan sistematis. Sementara dalam Kitab Kejadian, kisah penciptaan segala sesuatu dikisahkan secara sistematis. Proses penciptaan dikisahkan dalam kronologis waktu yang teratur yang dimulai dari hari pertama hingga hari terakhir yaitu hari ketujuh.

 

3.2.2 Manusia Pertama yang Diciptakan

            Mite Penciptaan Batak Toba melukiskan bahwa manusia pertama diciptakan berjumlah tiga orang dan kesemuanya adalah laki-laki. Kehadiran perempuan yang nantinya akan jadi pasangan mereka diciptakan kemudian. Mereka diciptakan berasal dari telur seekor burung yang berada di puncak pohon hariara sundung. Sementara dalam Kitab Kejadian, manusia pertama diciptakan langsung secara berpasangan (laki-laki dan perempuan).

 

3.2.3 Gambaran Manusia yang Diciptakan

           Dalam kisah penciptaan Batak Toba, tidak terlihat dengan jelas menurut rupa siapa manusia pertama diciptakakan. Di situ hanya dikisahkan bagaimana Ompung Mulajadi menciptakan tiga orang manusia pertama untuk menghuni benua tengah. Tentang bagaimana rupa mereka, hanya dikatakan bahwa mereka adalah manusia yang secara langsung menunjukkan bahwa rupanya adalah seperti manusia sekarang ini. Sementara dalam Kitab Kejadian, dengan jelas dikatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah yang memiliki artian bahwa manusia dalam segala hal mencerminkan sifat dan sikap Allah (Penciptanya) termasuk dalam hal berkuasa.

 

4. Penutup

            Kisah penciptaan memang menarik untuk didalami karena menawarkan banyak misteri. Misteri itu bergantung dari cara pengkisahannya. Dari cara ini akan nampak bagaimana refleksi masyarakat tersebut terhadap ciptaan yang diciptakan oleh Tuhan. Perbedaan dan persamaan jelas ada dan ini hendaknya mendapat pendamaian, karena setiap masyarakat memiliki hal-hal tersendiri yang hendak ditonjolkan.

            Penciptaan Batak Toba menyimpan banyak misteri. Hal itu tampak dari pengkisahannya yang dikisahkan dalam banyak versi. Namun, walaupun demikian, unsur penting yang menjadi penekanannya adalah sama yaitu manusia berasal dari Ompung Mulajadi Nabolon. Dari hal ini tampak bahwa pada umumnya relasi manusia dengan penciptanya tidak bisa dipisahkan. Manusia selalu menyadari keadaannya sebagai yang dicipta dan bergantung mutlak pada Allah sang pencipta. Oleh karena itulah, manusia dalam kesehariannya selalu tertuju pada yang ilahi, yang lebih tinggi dari dirinya sendiri, dan kecenderungan inilah yang membuat manusia sampai pada pemikiran tentang penciptaan mereka.

            Patut disyukuri bahwa mite penciptaan yang terdapat di dalam setiap suku, secara khusus dalam Batak Toba, mendapat penerangan dari iman Kristen khususnya Katolik. Hal ini membuat arah pemikiran bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dapat dengan jelas diterima oleh masyarakat Batak Toba pada umumnya dengan membandingkannya dengan sosok Ompung Mulajadi Nabolon. Situasi penerangan ini secara jelas membawa persatuan atas berbagai versi mite penciptaan yang ada di dalam masyarakat Batak Toba.

 

Daftar Pustaka

Dister, Nico Syukur. Teologi Sistematika 2. Ekonomi Keselamatan. Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Nainggolan, Togar. Batak Toba. Sejarah dan Transformasi Religi. Medan: Bina Media Perintis, 2012.

Sinaga, Anicetus B. Dendang Bhakti. Medan: Bina Media Perintis, 2009.

Sinanga, Anicetus B. Allah Tinggi Batak Toba; Transendensi dan Imanensi. Yogyakarta: Kanisius, 2014.

Snijders, Adelbert. Antropologi Filsafat Manusia Paradoks Dan Seruan. Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Tampubolon, Raja Patik. Pustaha Tumbaga Holing. Adat Batak-Patik Uhum. Jakarta: Dian Utama, 2002.

 

[1]Adelbert Snijders, Antropologi Filsafat Manusia Paradoks Dan Seruan (Yogyakarta: Kanisius, 2004) hlm. 13.

  

[2]Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 2. Ekonomi Keselamatan(Yogyakarta: Kanisius, 2004) hlm. 42.

  

[3] Togar Nainggolan, Batak Toba. Sejarah dan Transformasi Religi (Medan: Bina Media Perintis, 2012) hlm. 5.

  

[4] Raja Patik Tampubolon, Pustaha Tumbaga Holing. Adat Batak-Patik Uhum (Jakarta: Dian Utama, 2002) hlm. 33; bdk. Togar Nainggolan, Batak Toba..., hlm. 5; bdk. juga Anicetus B. Sinanga, Allah Tinggi Batak Toba; Transendensi dan Imanensi(Yogyakarta: Kanisius, 2014), hlm 113.

  

[5] Johannes Warneck adalah seorang misionaris dari zending Rheinischen Missionsgesellschaft (FMG) yang tinggal selama 29 tahun di Tanah Batak. Dia telah membuat studi tentang religi Batak Toba dalam bukunya Die religion der Batak, ein paradigm fr die animistischen religion de indischen archipels (1909). [Lihat Togar Nainggolan, Batak Toba..., hlm. 22.]

  

[6] Anicetus B. Sinanga, Allah Tinggi..., hlm. 239-247; bdk. Anicetus B. Sinaga, Dendang Bhakti(Medan: Bina Media Perintis, 2009) hlm. 45-46.

  

[7]Anicetus B. Sinanga, Allah Tinggi..., hlm. 247.

  

[8]Anicetus B. Sinanga, Allah Tinggi..., hlm. 55.

  

[9]Anicetus B. Sinaga, Dendang Bhakti..., hlm. 56.

  

[10]Anicetus B. Sinaga, Allah Tinggi..., hlm. 53-54.

  

[11]Togar Nainggolan, Batak Toba..., hlm. 23.

  

[12]Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 2..., hlm. 44-45.

  

[13] Anicetus Sinaga, Allah Tinggi..., hlm. 115.

  

[14] Anicetus Sinaga, Allah Tinggi..., hlm. 241.