Mohon tunggu...
Dedi Hamid
Dedi Hamid Mohon Tunggu...

berjuang hidup demi masa depan keluarga yang bahagia

Selanjutnya

Tutup

Catatan

"Derita Nasional"

4 April 2014   22:27 Diperbarui: 24 Juni 2015   00:04 42 0 0 Mohon Tunggu...

SayaTak mengerti dengan apa yang hendak diucapkan kepada negara tercinta ini. orang-orang pintar dan berkuasa, selalu saja berlindung di sebalik nama rakyat, tapi nyatanya ketika rakyat mendapat musibah, rakyat pun ditelantarkan. Indonesia menjadi terlalu asing untuk disebut, disebabkan pemerintah yang selalu terlena dengan urusannya sendiri. Maka setiap musibah mendera rakyatnya, pemerintah pun lupa. Inikah Indonesia itu?terusik ditelinga saya Setiap kali NKRI diusik oleh keinginan daerah ingin memisahkan diri, pemerintah seperti lipas kodong, atau cacing kepanasan; mengelinjang tidak tentu arah. Seakan tubuh Indonesai ini terluka besar, namun apabila rakyat di daerah dalam himpitan derita, pemerintah pun seperti menutup mata, menutup telinga, dan membunuh hati nurani. Bantuan pun baru meluncur apabila pemerintah pusat menyatakan bencana itu bencana nasional, kalau tidak jangan diharap bantuan akan datang.

Saya ingatkan kembali dari peristiwa Gunung Sinabung, Sumatera Utara,saya . Rakyat yang berada di dekat Gunung Sinabung pun terkatung-katung, tidak adanya kepastian bantuan. Mereka pun menjerit minta bantuan kepada Bapak Presiden. Suara mereka penuh harapan.Menitik juga airmata ketika saya menyaksikan peristiwa itu di layar televisi. Melihat dari tv saja, tak mampu menahan kesedihan, apalagi kalau menguk langsung atau peristiwa seperti itu melanda kampungnya. mari kita  berpikir, kenapa di negara tercinta ini selalu saja bantuan atau penanganan bencana terlambat, padahal tugas pemerintah melayani rakyat, bukan rakyat melayani pemerintah.

Saya pun tidak habis pikir, kenapa bencana harus digolong terlebih dahulu, ada bencana lokal, bencana nasional. Seharusnya setiap bencana yang terjadi di negara ini termasuk bencana negara. Bukankah kita negara ini Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seharusnya luka satu daerah adalah luka bersama, luka Indonesia. inilah yang dinamakan otonomi daerah? Tapi kalau betul nak membagi mana urusan daerah dan mane urusan pusat, tak perlulah pusat dan ikut campur urusan kekayaan daerah. Ini tidak kalau urusan yang menyenangkan, pusat ikut campur, dan kalau dah menyangkut urusan derita, pusat berpikir-pikir dulu, sebelum masuk golongan derita nasional.heran  terhadap pemerintah pusat ini, terlalu  lambat dengan segala permasalahan negara tercinta ini. Kalaupun nak berbagi kepada daerah, semua serahkan kepada daerah, senang, duka biar daerah yang ngurus.  Ini tidak, setengah hati.

“Kalau sudah seperti ini, siapa yang harus  disalahkan? Daerah juga yang salah. Rakyat juga yang menanggung derita sepanjang masa. Kehebatan pemerintah itu bukan diukur sukses mengelola kekayaan yang ada, tetapi kehebatan pemerintah itu diukur sedikitnya derita yang ditanggung rakyatnya.ini baru ga meleset dari pada benar-benar meleset.Negara kita ini kaya, tapi kenapa mengatasi derita rakyatnya selalu terlupa. Apakah negara kita ini memang ditakdirkan melupakan rakyatmya disaat derita sedang melanda? Atau hati nurani kita tertutup oleh kesenangan semata?”



Diakhir tulisan saya ini mari kita ambil kutipan sebagai cacatan kita untaian yang berikut ini:“Perang besar apalagi yang akan kita hadapi, ya Rasulullah?” Nabi Muhammad SAW menjawab, “jihaadun nafsi (perang melawan hawa nafsu).” Bahwa sesungguhnya perang melawan hawa nafsu itu lebih besar nilainya dibanding dengan perang fisik.KETIKA Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, bersama para sahabatnya kembali dari perang Badar-perang yang kebetulan terjadi di bulan Ramadan, beliau bersabda: “Kita sedang kembali dari perang kecil, jihadul ashgar, dan akan menuju perang besar, jihadul akbar.”

Pernyataan Rasulullah SAW tersebut cukup mengejutkan dan mengundang pertanyaan bagi para sahabat yang mendengarnya. Bagi mereka, perang Badar yang baru saja dimenangkan merupakan perang besar yang pernah mereka alami waktu itu. Perang ini juga membawa kenangan heroik yang mendalam bagi mereka. Dalam perang ini, jumlah pasukan kafir Quraisy 1.000 orang, sementara jumlah pasukan umat Islam hanya 314 orang. Kedua pihak mati-matian mempertaruhkan jiwa raganya untuk memenangkan peperangan ini. Dalam keyakinan dan semangat heroismenya, umat Islam berhasil memenangkan perang ini. Tidak sedikit korban yang gugur, baik dari pihak muslim maupun pihak kafir Quraisy. Di antara yang tewas dalam perang ini adalah Abu Jahal, seorang kafir Quraisy. Abu Jahal dikenal sangat memusuhi Nabi Muhammad SAW dan sering memperlakukan Nabi Muhammad dengan cara-cara yang menyakitkan.

Abu Jahal tewas di tangan Abdullah bin Mas’ud seorang pemuda muslim yang heroik, dan baru berumur 14 tahun. Dengan latar belakangnya yang semacam itu, atas pernyataan Nabi Muhammad SAW bahwa perang Badar itu hanyalah perang kecil dan masih ada perang besar yang harus dihadapinya, maka para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Perang besar apalagi yang akan kita hadapi, ya Rasulullah?” Nabi Muhammad SAW menjawab, “jihaadun nafsi (perang melawan hawa nafsu).”

Dari kejadian dan dialog di atas, cukup jelaslah pesan yang disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya. Bahwa sesungguhnya perang melawan hawa nafsu itu lebih besar nilainya dibanding dengan perang fisik, perang bersenjata. Hakikat perang melawan hawa nafsu adalah pengendalian diri. Karena pada dasarnya nafsu pada diri seseorang itu selalu mendorong pemiliknya untuk berbuat jahat dan hidup dalam kejahatan, kecuali nafsu yang dirahmati Allah. Jika masing-masing orang dalam suatu masyarakat tidak lagi mampu mengendalikan diri, dan nafsunya tidak lagi dirahmati Allah SWT, maka akan meluaslah berbagai penyakit hati, seperti iri, dengki, dendam, permusuhan, dan sebagainya. Jika berbagai penyakit hati yang berpangkal dari nafsu jahat tersebut tidak lagi terkendali maka pastilah dunia akan dipenuhi perselisihan, kegaduhan, dan kekacauan.

Dalam lingkup dan eskalasinya yang meningkat akan terjadi peperangan. Jadi sesungguhnya perang bersenjata atau perang modern sekalipun, terjadi akibat nafsunafsu manusia di baliknya yang tidak terkendali. Oleh karena itu, pada hakikatnya berlatih mengendalikan diri, mengendalikan nafsu itu tidak kalah pentingnya dengan latihan peperangan bersenjata yang dapat menggetarkan penontonnya. Medan latihan pengendalian diri, pengendalian nafsu buruk, dan mengubahnya menjadi nafsu yang dirahmati Allah SWT itu ialah berpuasa. Dalam amaliahnya, orang yang berpuasa dilatih untuk disiplin menjalankan perintah dan menjauhi larangan, disiplin menaati aturan dan norma yang ada. Seseorang yang berpuasa sanggup menahan diri untuk tidak makan dan minum, meskipun makanan dan minuman tersebut milik sahnya.

Juga sanggup menahan nafsu biologisnya, untuk waktu yang ditentukan, meskipun kepada istri sahnya. Semua itu dilakukan karena kepatuhannya menjalani aturan yang ditetapkan oleh Allah SWT. Orang yang berpuasa dilatih untuk tidak berkata dan berbuat sesuatu yang buruk dan tercela, yang dapat merusak keharmonisan bersama. Semoga ibadah puasa kita, ibadah puasa umat Islam Indonesia adalah puasa yang diterima oleh Allah SWT. Puasa yang dapat melahirkan kontribusi yang positif dan produktif dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang semakin sinergis dan harmonis dalam berbagai aspeknya. Sinergis dan harmonis dalam mewujudkan demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Kehidupan yang lebih berkeadaban, untuk menjadi bangsa yang maju dan besar di dunia. Bangsa yang masyarakatnya berada di jalan menuju kehidupan selamat dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat kelak. Semoga dan insya Allah!

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x