Mohon tunggu...
Dedy Helsyanto
Dedy Helsyanto Mohon Tunggu... Konsultan - Peneliti

@dedy_helsyanto

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Warganet Milenial yang Menyatukan dan Memajukan

20 Agustus 2019   00:01 Diperbarui: 20 Agustus 2019   00:05 74
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Berdasarkan Survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) tahun 2017 yang bertajuk "Ada Apa dengan Milenial? Orientasi, Sosial, Ekonomi dan Politik" juga menyatakan milenial sangat akrab dengan media sosial dengan tingkatan yang paling tinggi ke terendah adalah Facebook, WA, BBM, Instagram dan Twitter.

Namun permasalahannya, masih dari survei CSIS adalah milenial di media sosial tidak tertarik dengan konten -- konten yang rentan hoaks, yakni politik dan suku, agama, ras serta antar golongan (SARA). Milenial lebih tertarik kepada konten olahraga, musik dan film.

Dengan keterbatasan ketertarikan milenial terhadap konten hoaks yang berbau politik dan SARA ini, menjadi pekerjaan rumah bagi pihak pemerintah maupun non pemerintah untuk membangun ketertarikan milenial terhadap konten -- konten yang banyak terpapar hoaks tersebut.

Selain cara langsung ini, dapat juga melalui pemberian materi teknik periksa fakta dan penulisan jurnalistik yang tengah dilakukan oleh beberapa lembaga, seperti Mafindo dan Asosiasi Jurnalis Independen (AJI) kepada milenial.

Pelatihan ini menjadi penting mengingat hasil survei IDN Research Institute bekerjasama dengan Alvara Research Center pada 2018 menilai milenial mulai bijaksana dalam menggunakan media sosial, terutama dalam menghadapi informasi hoaks, yakni tidak mudah berbagi informasi sebelum mengecek kebenarannya. 

Dalam memeriksa kebenaran ini, yang juga menjadi catatan adalah data dari riset Daily Social bersama Jakpat Mobile Survey Platform kepada 2032 pengguna smartphone pada 2018, ditemukan bahwa 44,19% menyatakan tidak yakin memiliki kepiawaian dalam mendeteksi berita hoaks dan 51,03% responden memilih untuk berdiam ketika menemui hoaks.

Berbicara kemampuan mendeteksi hoaks, mungkin banyak diantara milenial sendiri atau generasi sebelum dan sesudahnya masih sumir mendifinisikan hoaks. Jika dilihat secara umum, baik di media sosial maupun media daring, banyak yang mengatakan informasi tidak benar atau tidak sesuai dengan fakta, langsung dihakimi sebagai hoaks. Padahal First Draft yang merupakan lembaga yang fokus mengatasi masalah kepercayaan dan kebenaran pada media di era digital membagi kekeliruan informasi kedalam, misinformasi dan disinformasi.

Tujuh kategori yang termasuk kedalam misinformasi atau disinformasi menurut First Drfat adalah pertama satire atau parody, kedua, misleading content, ketiga, imposter content, keempat, fabricated content atau hoax, kelima, false connection, keenam, false context dan ketujuh, manipulated content.

Jika pemahaman terhadap kategori disinformasi atau misinformasi dibiarkan keliru, sangat besar kemungkinan dalam memeriksa kebenaran dari suatu kabarpun akan rentan dengan kekeliruan.

Dengan begitu kelompok milenial melalui keaktifan dan kekritisannya di media sosial, mesti didukung kreatifitasnya dalam membuat berbagai konten yang sesuai dengan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara, juga kaidah jurnalistik dan kemampuannya dalam mengidentifikasi disinformasi atau misinformasi. Dari sini, niscaya milenial dapat menjadi warganet yang mendorong ekosistem media sosial di Indonesia yang lebih memajukan dan menyatukan lagi.

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun