Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola, Penulis Biasa nan Sederhana (PBS), dan berharap selalu dapat menginspirasi dan terinspirasi. Cinta Indonesia. Segala tulisan selalu tak luput dari kekhilafan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Viral Pilihan

Tiga Hal Ini Juga Bisa Terjadi pada WNA

21 Januari 2021   19:26 Diperbarui: 21 Januari 2021   19:33 154 25 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tiga Hal Ini Juga Bisa Terjadi pada WNA
Ilustrasi WNA di Indonesia. Gambar: Gigih Prayitno via Tribunnews.com

Gara-gara KG, saya dan seorang teman merumpi selama dua hari untuk membahas tentang pengalamannya berinteraksi dengan turis asing alias wisatawan manca (wisman). Kebetulan, teman saya ini pernah bekerja di sebuah hotel di Pulau Bali.

Dia orang Bali, jadi intensitas bertemu dengan orang manca juga cukup sering, bahkan sekalipun dia kini tidak lagi bekerja di hotel. Dan, di antara pengalamannya itu ada tiga hal yang ingin saya garisbawahi, yaitu sikap norak, abai peraturan, dan tidak mengerti bahasa Inggris.

Sikap Norak
Pada tulisan sebelumnya, saya fokus membahas sisi orang Indonesia (WNI) yang tidak jarang bersikap norak ketika melihat dan berinteraksi dengan WNA. Sedangkan, pada tulisan ini saya juga ingin mengungkap fakta, bahwa orang WNA juga bisa bersikap norak.

Saya sebut fakta, karena ada saksinya yaitu teman saya. Menurut ceritanya, ada wisman yang cenderung norak terkait layanan hotel maupun peraturan yang ada di hotel. Mereka ada yang cenderung rewel, dan seolah ingin segalanya dituruti.

Memang, tamu adalah raja. Tetapi, raja juga tidak selamanya harus dituruti apa yang diminta. Harus ada daya tawar untuk memungkinkan bahwa apa yang diinginkan tidak semuanya bisa diwujudkan. Keberadaan alternatif dan pengertian akan membuat si raja menjadi lebih bijak untuk menggagas keinginannya.

Hal semacam itu menurut saya juga perlu dilakukan tamu yang notabene adalah wisman. Mereka juga idealnya mau menerima sistem yang ada di tempat menginapnya.

Mungkin, di tempat lain ada pelayanan yang berbeda dan itu yang disukai. Tetapi, belum tentu pelayanan itu juga ada di tempat lain, sekalipun secara nilai (rating), hotelnya berstandar sama.

Beda tempat, pasti beda warna. Sederhananya begitu. Jika ingin disamakan, dunia ini akan menganut mono-system. Apa menariknya?

Abai Peraturan (dan sopan-santun)
Ini adalah tindakan lanjut dari sikap norak. Biasanya, orang yang sering menuntut akan abai dengan peraturan. Wisman juga ada yang begini.

Tanpa perlu disebutkan negara asalnya, saya menjadi tahu bahwa orang yang tidak taat peraturan bukan hanya orang Indonesia, melainkan juga orang WNA. Mereka yang konon katanya serba disiplin--lebih baik dari kita, pada kenyataannya masih ada yang tidak disiplin.

Contoh yang diberikan oleh teman saya adalah wisman yang (maaf) meludah di rerumputan area hotel. Sebenarnya, peraturan yang ada di situ adalah larangan menginjak rumput di area hotel. Tetapi secara taklangsung kita juga punya etika tak tertulis terkait tindakan meludah.

Kabarnya, aksi meludah yang dilakukan wisman ini terjadi saat situasi sedang ada orang lain. Itu yang membuat mereka tidak nyaman dan akhirnya si wisman ditegur oleh petugas hotel. Namun, teguran itu tidak mendapat respon positif, seperti "sorry", melainkan hanya menyelonong pergi.

Berdasarkan tindakan tersebut, saya berpikir bahwa wisman juga ada yang kurang mempraktikkan sopan-santun. Sesuatu yang sebenarnya vital bagi masyarakat Asia, khususnya jika sedang di Indonesia.

Kejadian tentang abai peraturan dan sopan-santun ternyata tidak hanya terjadi di area hotel. Saat teman saya pulang, di jalan juga tidak jarang menemukan wisman yang berkendara dengan ugal-ugalan dan tidak mengenakan pakaian yang tepat.

Kabarnya, mereka sering tidak menggunakan helm, berkecepatan tinggi, dan yang perempuan tidak jarang yang menggunakan bikini. Padahal, dalam peraturan di UU No. 22 Tahun 2009 secara implisit menyatakan bahwa pengendara kendaraan bermotor wajib menghindari tindakan yang dapat membahayakan keselamatan berlalu-lintas (pasal 105) dan menggunakan alat penunjang keselamatan (helm) seperti yang diungkap pada pasal 106.

Berpakaian minim bukan dilarang karena mengganggu nilai-norma setempat, melainkan dilarang demi keselamatan sendiri. Jika jatuh, jelas pengguna kendaraan yang berpakaian minim rentan cedera lebih parah daripada yang lebih tertutup, seperti menggunakan jaket/pakaian berjenis denim.

Ilustrasi WNA abai peraturan. Gambar: via Motoblast.org
Ilustrasi WNA abai peraturan. Gambar: via Motoblast.org
Saat ada Covid-19, pengguna kendaraan bermotor yang merupakan WNA juga sempat dilihat oleh teman saya tidak menggunakan masker. Teman saya sempat menegurnya, dan mereka menjawab, "We're healthy, we don't need it."

Tidak lama, wisman berboncengan itu dihentikan oleh pecalang (polisi tradisional Bali) dan Satpol PP. Makanya, jadi orang jangan sombong amat! (batin teman saya ala Mandra)

Tidak Mengerti Bahasa Inggris
Dulu, saya mengira semua orang dari luar negeri yang datang ke Indonesia bisa berbahasa Inggris. Apalagi, jika mereka adalah WNA berkulit putih, kesan awal seperti, "Wah, pasti dari Inggris, AS, atau Australia!".

Tetapi, kenyataannya tidak demikian. Tidak semua wisman bisa berbahasa Inggris.

Hal itu diperparah, jika mereka merupakan wisman asal Asia. Memang, tidak semua seperti itu, tetapi menurut teman saya, mereka yang biasanya datang bergerombol, pasti lebih banyak yang tidak paham Bahasa Inggris.

Sebenarnya, saya memaklumi jika secara verbal kurang paham. Tetapi, ternyata mereka tidak jarang yang juga tidak paham secara teks.

Hal ini juga kemudian diperparah jika mereka tidak mau berusaha mendengar atau memperhatikan gestur lawan bicaranya. Mereka malah berusaha mencerocos dengan bahasanya sendiri. Padahal, lawan bicaranya tidak paham maksudnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN