Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola, Penulis Biasa nan Sederhana (PBS), dan berharap selalu dapat menginspirasi dan terinspirasi. Cinta Indonesia. Segala tulisan selalu tak luput dari kekhilafan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com | Alamat surel: deddyhsuryanto@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Balap Pilihan

Belajar "Legawa" ala Yamaha MotoGP

12 November 2020   06:05 Diperbarui: 12 November 2020   06:12 118 22 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Belajar "Legawa" ala Yamaha MotoGP
Maverick Vinales jadi andalan Yamaha saat ini. Gambar: Yamahamotogp.com

Bagi penggemar ajang balap motor bergengsi bernama MotoGP, pasti sudah tahu permasalahan yang sedang dihadapi oleh tim asal Jepang itu. Sebelum seri Eropa digelar (8/11), Yamaha resmi dijatuhi hukuman berupa pengurangan poin.

Ada 50 poin yang ditarik dari Yamaha sebagai konstruktor. Juga 37 poin dari Petronas SRT dan 20 poin dari Monster Energy Yamaha.

Pengurangan itu tidak berlaku kepada pembalap, karena idealnya pembalap tidak tahu-menahu tentang apa yang ada di manajemen motornya. Pembalap hanya tahu bagaimana agar bisa memacu motornya dengan kencang dan menang.

Itu yang membuat keluhan atau cibiran dari pembalap-pembalap tim lawan terlihat seperti tindakan konyol. Karena, jika itu terjadi kepada mereka, pasti mereka juga tidak akan terima seandainya dihukum.

Pembalap itu seperti anak panah. Mereka hanya bergantung pada bagaimana si pemanah dapat merentangkan tali busurnya juga menyiapkan panahnya.

Jika pemanahnya tahu teknik memanah dengan baik, si anak panah akan dapat meluncur dengan deras dan tepat sasaran. Begitu juga sebaliknya.

Pembedanya, pembalap adalah manusia yang memiliki kemampuan berpikir, sedangkan anak panah tidak. Itulah mengapa, pembalap bisa memberikan masukan (keluhan) kepada tim, dan tim akan berupaya menemukan solusinya.

Saat seperti itu, belum tentu ada transparansi antara tim dengan pembalap. Bisa saja hal itu disengaja, agar pembalap lebih fokus pada teknis di sirkuit bukan di paddock.

Atas dasar itu, saya sepakat bahwa pembalap tidak mendapatkan pengurangan poin. Karena, kita juga perlu menghargai usaha berdarah-darah mereka di atas lintasan.

Kecuali, jika itu tentang doping, maka ceritanya cukup berbeda. Karena, doping adalah sesuatu yang masuk ke dalam tubuh pembalap.

Artinya, ada peluang lebih besar bahwa pembalap tahu apa yang sedang ia gunakan untuk tubuhnya. Jika kemudian ia mengaku tidak tahu-menahu, atau tidak sengaja mengonsumsinya, maka itu juga kesalahannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN