Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola dan Penulis Gadungan, Cinta Indonesia. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Apa yang Membuat Persija Menang di Makassar?

21 Oktober 2019   08:00 Diperbarui: 21 Oktober 2019   16:39 0 4 2 Mohon Tunggu...
Apa yang Membuat Persija Menang di Makassar?
PSM kembali kalah di kandang untuk kedua kalinya musim ini. (Panrita.news)

Kejutan terus terjadi di Liga 1 2019 pasca jeda internasional, yang mana beberapa tim kuat tumbang dengan skor mencolok. Walau tidak menghasilkan skor mencolok, duel PSM vs Persija tetap memberikan kejutan bagi publik penikmat sepakbola Indonesia. Perlu diketahui bahwa PSM adalah salah satu klub di Liga 1 yang sulit dikalahkan, bahkan mereka hanya kalah sekali di kandang dengan sisanya adalah kemenangan.

Namun, pertemuan dengan Persija kembali memberikan kesulitan bagi PSM yang mana sudah bertemu lebih dari sekali hanya dalam satu kalender (2019) ini. Nahasnya, mereka kali ini harus mengakui keunggulan Andritany Ardhiyasa dkk dengan skor tipis 0-1.

Tendangan jarak jauh Marko Simic sukses menjebol gawang Rivky Mokodompit yang sebenarnya tampil heroik dalam mengawal gawangnya. Namun, keberuntungan sepertinya lebih memihak pada tim tamu yang berhasil memperagakan permainan tactical seperti pernyataan komentator Binder Singh.

Lalu, apa yang membuat PSM harus menorehkan kekalahan keduanya di kandang musim ini?

Pertama, karena Persija berupaya tampil lebih rapat dan fokus di zona pertahanan pada babak pertama. Hal ini membuat PSM merasa termotivasi untuk gencar menyerang pertahanan Tim Macan Kemayoran. Namun, sayangnya bombardir serangan PSM tidak berhasil membuahkan gol untuk Wiliam Jan Pluim dkk.

Kedua, efektivitas PSM di dalam kotak penalti terlihat buruk. Beberapa peluang gagal berujung gol. Seperti peluang terbuka yang dimiliki Amido Balde dan sepakan Pluim yang gagal menemui sasaran pasca bola liar dari long throw Aaron Evans.

Ketiga, penampilan Andritany Ardhiyasa di bawah mistar gawang Persija terlihat seperti kembali pada performa terbaiknya. Hal ini dapat dilihat di babak pertama dan ternyata mampu dipertahankan hingga babak kedua. Keputusan-keputusannya terlihat matang dan ini membuat keberadaan Ferdinand Sinaga yang biasanya mampu memanfaatkan bola-bola kiriman di dalam kotak penalti lawan menjadi kurang greget.

Keempat, pergantian pemain yang dilakukan Darije Kalezic cenderung sudah mudah tertebak. Apalagi jika Tim Ayam Jantan Kinantan sedang deadlock. Maka, yang diturunkan di babak kedua adalah pemain-pemain yang bertipikal menyerang. 

Hal ini sudah dapat diantisipasi oleh Edson Tavarez dengan memasukkan Tony Sucipto. Keberadaan pemain ini membuat lini tengah Persija tetap stabil seperti saat masih ada Sandi Sute.

Kelima, konsistensi permainan Persija. Mereka di laga ini sebenarnya bertindak sebagai tim underdog. Itu tidak bisa dipungkiri karena mereka memang masih berada di zona bawah sedangkan PSM berada di papan tengah dan cenderung lebih baik (nasibnya) daripada Persija.

Namun, status non-unggulan ini justru membuat Persija tampil dengan pakem yang jelas dan konsisten menjaganya sampai akhir. Mereka dapat mengelola permainan dengan baik dan membawa ritme permainan lawan ke arah mereka. Ini terlihat dari keberhasilan mereka membuat permainan PSM lebih tergesa-gesa untuk maju dan membuat finishing touch PSM kurang maksimal.

Di poin ini, Persija juga terlihat seperti punya plan yang jelas. Mereka harus menggaransi kemungkinan meraih hasil imbang, namun di sisi lain juga mereka mengincar peluang mencuri gol terlebih dahulu. Hal ini dapat terlihat dari pola serangan Persija yang cepat dan tajam di babak kedua saat memperoleh counter-attack

Inilah yang pada akhirnya membuat konsentrasi permainan PSM buyar. Mereka (PSM) gagal mengintimidasi lawan dan justru terintimidasi melalui skema serangan balik lawan.

PSM vs Persija juga tersajikan di final Piala Indonesia 2018 yang dijuarai oleh PSM. (PSSI.org)
PSM vs Persija juga tersajikan di final Piala Indonesia 2018 yang dijuarai oleh PSM. (PSSI.org)
Dari kelima poin yang menjadi faktor penyebab kekalahan PSM dan sekaligus kemenangan bagi Persija tersebut, ada dampak yang dapat dirasakan oleh kedua klub. Bagi PSM, mereka harus berkreasi dalam taktik dan pergantian pemain. Agar lawan tidak mudah menjegal mereka lagi di kandang.

Sedangkan bagi Persija, mereka akan berupaya meneruskan skema permainan yang disiplin seperti di laga ini. Mereka bisa berkreasi dengan beragam taktik, asal dengan catatan, mereka dapat konsisten dan mampu kembali menggiring permainan lawan ke pola yang mereka inginkan.

Lalu, apakah hasil ini dapat menggambarkan suntikan positif dari kehadiran pelatih baru bagi Persija?

Tentu saja belum dapat dikatakan demikian. Karena, keberadaan pelatih baru memang biasanya akan memberikan warna baru, semangat baru. Persoalannya adalah bagaimana pola permainan Persija dapat tetap sedemikian rupa termasuk ketika harus bertandang ke Sleman.

Secara permainan, PSS Sleman bukan tim yang dominatif terhadap lawan dan ini akan menjadi tantangan bagi Persija untuk dapat memperagakan permainan yang berbeda namun tetap dengan cara yang sama seperti laga melawan PSM; disiplin. 

Mereka tentu harus kembali belajar dari laga melawan Semen Padang. Karena di situlah Persija menghadapi permainan yang sedang diperagakan oleh Persija saat menantang PSM; menunggu dan reaktif.

Inilah yang akan menjadi pertanyaan di laga selanjutnya bagi Persija. Apakah mereka akan bermain sebagai tim yang sejajar dengan tuan rumah atau tidak. Jika sejajar, maka mereka pasti akan berani bermain terbuka dan bisa saja Persija yang mengambil inisiatif (aktif). Namun, jika tidak sejajar, maka pola permainan mereka akan tidak jauh berbeda dengan laga di Stadion Andi Mattalatta (20/10) tersebut.

Tentunya duel PSS Sleman vs Persija akan sangat dinantikan. Termasuk duel PSM vs Madura United. Keempat tim itu sedang berupaya mengejar target masing-masing dan pastinya akan membuat penikmat sepakbola Indonesia masih terhibur hingga akhir musim.



Malang, 20-10-2019
Deddy Husein S.