Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola dan Penulis Gadungan, Cinta Indonesia. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Apakah Panggilan Mewakili Usia?

10 Oktober 2019   14:05 Diperbarui: 10 Oktober 2019   14:21 0 6 4 Mohon Tunggu...
Apakah Panggilan Mewakili Usia?
Ilustrasi interaksi muda dan tua. (Kisscc0.com)

"Nambah apa lagi, pak?"
"Pulsanya tidak sekalian, pak?"
"Sesuai dengan aplikasi, pak?"
Dialog-dialog itu tentu terasa familiar. Bahkan, kita juga sudah tahu gambaran yang seperti apa ketika dialog itu muncul. Termasuk, siapa yang diajak berbicara; laki-laki. Namun, apakah kita sepakat jika laki-laki yang menjadi sasaran dialog itu adalah pria berusia lebih dari 30 tahun?

Mungkin ada yang berkata sepakat, ada yang tidak. Di luar konteks fisik, yaitu rupa atau wajah yang terlihat "boros". Pada kenyataannya, panggilan "pak" dan "bu" sering terjadi di dialog-dialog formal. Seperti di acara pernikahan, pemanggilan urutan kepada pemilih suara saat pemilu, dan sejenisnya.

Selain ruang dialognya, kita juga dapat mengidentifikasi terhadap panggilan semacam itu dikarenakan adanya respek. Terkadang, respek terhadap lawan bicara bisa membuat kita lebih memilih memanggil orang tersebut dengan "pak" dan "bu" dibandingkan "mas" dan "mbak". Memang, bisa diakui bahwa panggilan "mas" dan "mbak" akan lebih nyaman didengar dibandingkan "pak" dan "bu".

Selain respek, panggilan "pak" dan "bu" juga bisa didasari oleh keakraban. Loh, kok bisa? Tentu saja bisa. Karena, tidak sedikit forum-forum atau komunitas-komunitas tertentu yang membiasakan diri untuk bertegur sapa dengan panggilan "pak" dan "bu". 

Hal ini bisa disebabkan oleh latar belakang anggota tersebut yang general, artinya ada anggota-anggota yang sudah berusia 30-an ke atas. Sehingga, agar tidak terjadi gap (keseganan dalam interaksi) yang berlebih, maka dibuatlah "budaya" tersebut.

Gambaran ini tentu bisa menuai pro-kontra. Karena, hal ini juga ada kaitannya dorongan psikologis terhadap orang-orang yang dipanggil "pak" dan "bu". Mereka yang sebenarnya masih berusia muda (20-an tahun), mendadak harus rela dipanggil "pak" dan "bu".

Tentu bagi yang merasa panggilan itu bukan representasi usia akan selow. Namun, bagi yang merasa panggilan itu adalah representasi usia, akan cenderung terbebani -orang yang lebih tua identik sebagai pihak yang harus dapat memberi teladan. Termasuk memberikan pengaruh terhadap kenyamanan saat berinteraksi.

Ilustrasi dosen muda. (Okezone.com)
Ilustrasi dosen muda. (Okezone.com)
Hal ini juga kadang ditemukan di ruang akademik, misalnya ketika dosen meminta atau menyarankan mahasiswanya memanggil dengan sebutan "mas" dan "mbak" kepada dosen. 

Alasannya, panggilan itu akan membuat hubungan atau interaksi antara mahasiswa dan dosen -yang kebetulan memang usianya masih muda- akan lebih santai dibandingkan ketika mahasiswa memanggil dosennya dengan panggilan "pak" dan "bu".

Namun, dalam hal ini kita juga tidak bisa memungkiri adanya faktor kebiasaan dan respek (seperti di atas). Ketika kebiasaan mahasiswa dalam memanggil "pak" dan "bu" seperti di lingkungan sekolahnya dulu masih ada, maka secara spontanitas mereka juga akan memanggil dosennya dengan panggilan "pak" dan "bu". 

Begitu pula dalam hal respek. Terkadang, ada dosen-dosen muda yang memang secara tutur kata dan pembawaan sikapnya dalam mengajar lebih tenang dan berwibawa yang membuat mahasiswa secara reflek juga akan lebih memilih untuk memanggil "pak" dan "bu", alih-alih "mas" dan "mbak".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2