Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola dan Penulis Gadungan, Cinta Indonesia. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Mentalitas yang Tergerus Karena Media Sosial

9 Oktober 2019   11:30 Diperbarui: 9 Oktober 2019   17:26 0 11 7 Mohon Tunggu...
Mentalitas yang Tergerus Karena Media Sosial
Ilustrasi mental illness. (News.Yahoo.com)

Sebenarnya bukan hanya media sosial yang membuat mental kita seringkali terbentur-bentur. Namun, dengan perkembangan teknologi yang sekaligus menghadirkan segala macam platform media sosial, membuat lingkup interaksi kita semakin beragam dan tentunya semakin cepat. Kecepatan itulah yang membuat kita berada dalam dilematis. Di satu sisi menyukainya, di sisi lain kita juga keteteran.

Salah satu bentuk kecepatan di media sosial yang sering kita alami adalah kemudahan kita dalam mengakses informasi terhadap siapa saja. Nahasnya, mata kita seringkali menggiring kita untuk berasumsi. 

Berdasarkan unggahan-unggahan teman ataupun orang yang tak kita kenal di media sosial, kita sering berasumsi jika situasi orang itu sesuai dengan apa yang terunggah.

Hal ini pada akhirnya membuat kita berada dalam tekanan. Berdasarkan unggahan-unggahan orang lain kita menilai kehidupannya, dan parahnya kita juga membandingkan kehidupan mereka dengan diri kita masing-masing -mereka seolah lebih baik. Inilah yang sebenarnya membuat mental kita sering terganggu.

Padahal, tanggungan kita di dunia nyata belum selesai. Namun, kita sudah berupaya untuk menantang kehidupan baru yang terlihat lebih menarik dan itulah yang ditawarkan oleh media sosial. 

Dari situlah kesehatan mental kita dipertaruhkan. Belum lagi, jika kita tidak mampu mengelola akun media sosial kita dengan bijak. Maka, hasilnya juga dapat menjadi bumerang negatif kepada kita.

We always need social media, now. (Stock.adobe.com)
We always need social media, now. (Stock.adobe.com)
Niatnya ingin turut bersenang-senang seperti orang lain. Namun, karena tidak ada yang dapat mewakili rasa senang-senang tersebut, akhirnya ruang media sosial menjadi wadah menampung curahan kita. 

Sialnya, curahan-curahan hati itu pada akhirnya membuat kita malu dan juga membuat orang lain merasa terganggu. Di sinilah pesan agar menggunakan media sosial (harus) dengan kebijaksanaan digalang.

Namun, bagai dua mata pisau yang menyatu, kita tidak bisa menyalahkan media sosial. Begitu pula menyalahkan diri kita sendiri. Karena, salah satu faktor lain yang membuat kesehatan mental kita semakin menurun adalah self blaming.

Kebanyakan orang yang merasa gagal untuk menjadi orang yang bermanfaat- akan menyalahkan dirinya dengan cara melakukan penolakan terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x