Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Penulis - Content Writer

Penyuka Sepak Bola. Segala tulisan selalu tak luput dari kesalahan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Cerpen | Menanti Kemenangan yang Tidak Kunjung Tiba

23 Mei 2019   21:17 Diperbarui: 23 Mei 2019   21:30 89
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi sungkem ke ibu. (Bmhsamarinda.wordpress.com)

1999, Aku sudah berada di bangku SMP. Pakaian putih biru sudah kukenakan setiap hari kecuali Jumat dan Sabtu. Tidak ada yang spesial di sini kecuali aku harus beradaptasi. Betul, aku berada di lingkungan yang baru meski beberapa kali aku pernah berada di sini untuk sekadar menikmati liburan.

Jauh dari tanah kelahiranku, namun ini juga bukanlah tempat yang asing bagiku. Karena tempat ini adalah tanah kelahiran ibuku, dan tanah ini dititipkan padaku untuk kutempati bersama adik perempuanku. Aku masih menikmati perjalanan baruku. Meski tanpamu.

Namun, aku setiap hari meneguhkan harapan jika kita akan kembali berjumpa dan bersatu kembali. Entah kapan. Apakah akhir tahun ini, tahun depan, atau harus menunggu kelulusanku dan adikku yang akan beranjak remaja. Aku belum tahu.

Setiap hari kulalui, dan sekelilingku terus menampakkan banyak hal untuk dapat kuperhatikan sampai ingin kumiliki. Namun, apa daya, aku tak tahu apakah aku dapat memilikinya. Entah kapan. Lagi-lagi, aku tidak tahu jawabannya.

Aku terus berjalan. Sampai tiba waktunya aku semakin berharap bahwa kita harus bertemu. Segera. Tidak tahun depan, tidak sampai adikku tumbuh menjadi gadis manis. Tidak sampai aku lulus dan tak sekolah lagi. Karena, aku ingin besok.

Ketika hari kemenangan bagi umat seagamaku berkumandang penuh riang. Ketika, hari penanda keberhasilanku menahan segalanya sebulan penuh tanpa perlu diatur siapapun. Aku merasa esok adalah saat yang tepat. Bahwa, kita harus bertemu.

Tanpamu, aku tidak yakin apakah ini adalah keberhasilanku untuk dapat menunjukkan diriku yang kuat menahan lapar dan dahaga. Karena, memang keadaan tak sanggup mengiming-imingi mataku dan kerongkonganku untuk menelan ludah penuh hasrat. Juga tak ada janji-janji manis untukku jika berhasil sebulan penuh tanpa bolong akan mendapatkan baju baru. Sungguh tak ada itu semua di pikiranku.

Karena, aku hanya menginginkanmu. Bagiku, kaulah simbol kemenanganku. Kaulah simbol kembalinya diriku menjadi suci. Laksana seonggok janin yang belum menggerus nafsu makan sang ibunya. Aku sungguh mengharapkan kepulanganmu. Agar aku dapat kembali memeluk pinggangmu dan menggelayut manja seperti dulu kala.

Aku ingin merayakan kemenangan yang kulalui dengan usaha dan yang kudidikkan kepada adikku. Aku ingin menunjukkan usahaku sebagai abang yang baik. Abang yang dapat menjadi panutan dan pelindung bagi adiknya. Itulah yang mengisi seluruh ruang mimpi di alam tidurku setiap malam, ketika aku ingin bercerita kepadamu.

Termasuk malam ini. Aku ingin kita bertemu keesokan hari, atau malam ini. Walau pada akhirnya dengan putus asa, kuucapkan beberapa patah kalimat padamu, "Pulanglah ibu, walau hanya di dalam mimpiku.
Aku ingin bertemu dan bertekuk lutut memohon maaf atas segala kenakalanku di masa lalu dan di masa depan.
Pulanglah, meski barang sebentar. Karena ini adalah hari terakhir kita berperang. Esok hari kita akan saling memaafkan dan berharap hidup kita lebih indah dari sebelumnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun