Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola dan Penulis Gadungan, Cinta Indonesia. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Review Babak Grup Piala AFC 2019: PSM Bagus Menyerang, Kagok Bertahan

14 Maret 2019   10:30 Diperbarui: 14 Maret 2019   11:00 0 2 2 Mohon Tunggu...
Review Babak Grup Piala AFC 2019: PSM Bagus Menyerang, Kagok Bertahan
PSM Makassar menang telak. (Indosport.com)

"Tidak ada yang sempurna."

Itu adalah penggambaran yang tepat bagi klub besar asal Makassar ini, pasca berhasil menang telak 7-3 saat menjamu klub asal Laos di kandang (13/3). Memang, mereka dapat mencetak 7 gol di laga tersebut. Namun, mereka juga kebobolan 3 gol dalam satu pertandingan. 

Uniknya, mereka kebobolan 3 gol dari tim yang di laga lainnya tidak mampu mencetak gol, dan itu adalah suatu kekurangan di balik kelebihan mereka yang dapat menghibur para 'Maczman' (julukan suporter PSM) di tribun.

Daleji Kalezic, pelatih baru untuk PSM di musim ini, jelas harus tetap mengevaluasi timnya selain membiarkan tim merayakan 7 gol yang bersarang ke gawang lawan. 

Evaluasi tetaplah penting, meski tim berhasil menang. Karena, melawan klub lainnya, kemungkinan hal ini tidak akan terjadi lagi. Bahkan, ketika mendapat giliran bertandang ke klub yang sama.

Faktor bermain di kandang lawan, perbedaan lapangan dan situasi di stadionnya, pasti akan mempengaruhi hasil laga bagi PSM. Sama halnya ketika bermain di kandang (Indonesia). PSM pasti akan diuntungkan dengan kondisi stadion yang lebih familiar dan cocok untuk permainan PSM (para pemainnya).

Mencetak 7 gol dalam satu pertandingan, jelas merupakan suatu keunggulan bagi PSM. Artinya, mereka tidak diragukan soal kemampuan membangun serangan. Namun, perlu dicatat, bahwa performa tim lawan tidaklah bagus. Begitu pula jika menghitung peluang di PSM yang juga tidak hanya 7, melainkan banyak sekali peluang yang dimiliki oleh permain PSM.

Artinya, PSM masih memiliki pekerjaan rumah (PR) di lini depan. Begitu pula dengan lini belakangnya, yang dapat dibobol 3 gol. Walau tiga gol ini menjadikan lini pertahanan PSM menjadi sorotan. 

Namun, lini tengahnya juga perlu disorot. Karena, lini tengah terlihat tidak mampu menyisakan pemainnya untuk membantu pertahanan timnya dengan baik.

Gol pertama dari lawan sebenarnya masih bisa dimaklumi. Namun, gol kedua dan ketiga dari lawan adalah bukti sah, jika lini pertahanan PSM belum solid. Gol kedua lawan tercipta dari tendangan di luar kotak penalti. 

Melalui situasi seperti itu, penjaga gawang bukanlah sosok yang dapat disalahkan. Karena, penjaga gawang manapun, akan sulit untuk menggerakkan badannya dari satu sisi ke sisi lainnya dalam satu kali lompatan. Bahkan, kiper sekelas David De Gea saja, bisa tak berkutik menghadapi tendangan jarak jauh dari Granit Xhaka.

Ketika pemain lawan bisa mencetak gol dari luar kotak penalti, itu artinya, lini pertahanan suatu tim tidak mampu memberikan gangguan atau membentuk 'tembok' untuk memblokir ruang tembak bagi pemain lawan. 

Di gol kedua Lao Toyota (klub lawan PSM) ini dapat menjadi bukti bahwa pertahanan PSM masih kurang fokus untuk mengantisipasi serangan lawan.

Alasan tentang konsekuensi dari permainan terbuka memang bisa dimengerti. Namun, tetap saja, sebagai tim unggulan dalam suatu pertandingan, meminimalisir kesalahan adalah prioritas---di lini manapun (pertahanan ataupun penyerangan). Termasuk di gol ketiga dari lawan yang tercipta dari hasil olahan skill individu lawan. 

Para pemain PSM seperti tidak berani mengambil resiko untuk mencegah pemain lawan untuk dapat merangsek ke kotak penalti. Padahal ada 2-3 pemain PSM berada di situasi bertahan, namun, tidak ada satupun pemainnya yang berani membuat pelanggaran sebelum bola berada di dalam kotak penalti.

Ini terlihat unik. Mengingat, para pemain di Indonesia cukup dikenal memiliki karakter bertahan yang beringas, alias tidak segan untuk membuat pelanggaran. 

Namun, hal seperti ini tidak terjadi ketika resiko seperti itu justru sedang dibutuhkan untuk meminimalisir peluang mencetak gol bagi lawan. Unik namun inilah yang terjadi, dan pastinya tim pelatih PSM akan sangat diharapkan dapat mengevaluasi hal ini sebelum PSM harus bertemu dengan lawan yang relatif lebih berat.

Berkompetisi di level kedua Asia, tentu bukan mustahil bagi PSM yang memiliki pemain berkualitas dan sarat pengalaman, seperti Wiljan Pluim, Eero Markkanen, Zulham Zamrun dan Ferdinand Sinaga. 

Sehingga, patut bagi PSM untuk tidak cepat puas. Apalagi jika harus bertemu dengan tim yang lebih bagus dari PSM. Termasuk peluang untuk bertemu dengan sesama klub asal Indonesia. Yaitu, Persija Jakarta.

Persija yang juga memiliki pemain-pemain yang cukup bagus dan bisa disebut setara bagi PSM---khususnya di lini tengah dan belakangnya---tentu, akan cukup merepotkan bagi PSM jika target mereka adalah juara. Sehingga, laga yang diwarnai 10 gol ini seharusnya bukan puncak dari performa PSM, melainkan 'hanya' salah satu bukti dari kehebatan PSM.

"Di laga selanjutnya, semoga, PSM bisa lebih 'serius' lagi.
EWAKO, PSM!!! Ewako Indonesia!"




Malang, 13-3-2019
Deddy Husein S.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x