Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Pengamat

Penyuka Sepakbola dan Penulis Gadungan, Cinta Indonesia. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Balap Pilihan

Tak Bolehkah Ada Dua Matahari di Satu Galaksi?

1 Desember 2018   13:11 Diperbarui: 1 Desember 2018   13:23 994 0 0
Tak Bolehkah Ada Dua Matahari di Satu Galaksi?
Marc Marquez dan Jorge Lorenzo di Repsol Honda 2019. (Twitter.com/Jessansan)

"Menantikan duet maut Repsol Honda di MotoGP musim 2019."

Sesuatu yang besar selalu menjadi perdebatan, "apakah bisa sesuatu yang sama dimasukkan ke wadah yang sama?"

Tak ada yang bisa menjawabnya dengan pasti, karena memang semua bergantung pada keadaan. Manusia tak pernah lepas dari reaksinya terhadap keadaan. Jika keadaannya baik, maka sikap manusia juga baik. Begitu pula, jika sikap manusia baik, keadaan juga akan baik. Artinya, manusia bisa memberikan dampak, juga akan merasakan dampak.

Hal ini bisa terjadi di dunia olahraga, yang mana setiap orang berpacu dengan keadaan dan sesama (kompetitornya) untuk dapat menunjukkan diri sebagai yang terbaik. Karena olahraga identik dengan siapa yang menang, kalah dan yang terbaik. Pemenang belum tentu terbaik. Tapi siapa yang terbaik, itu berasal dari yang dapat meraih kemenangan.

Olahraga melahirkan juara, pembuktian dan legenda. Termasuk di dunia balap motor seperti Moto GP yang setiap musimnya menghasilkan juara dunia, baik itu pebalapnya maupun timnya. Pebalap itulah yang kemudian menjadi ikon yang dapat menjadi bukti bahwa dirinya dapat menjadi yang terbaik---yang pada akhirnya menjadi legenda di akhir perjalanannya (pensiun).

Berbicara soal Moto GP, kita tak akan pernah asing dengan nama Valentino Rossi. Betul, dia adalah salah seorang legenda balap yang masih aktif membalap dan masih diperhitungkan untuk dapat menjadi calon juara dunia di setiap musimnya. Berkarir panjang di dunia balap motor dan juga memiliki rentetan juara yang cukup panjang, membuat siapapun penikmat salah satu olahraga populer ini tak bisa menutup mata terhadap kehadiran pebalap asal Italia ini.

Nomor 46 dan bendera warna kuning dengan simbol matahari tak pernah absen menghiasi bagian tribun penonton di setiap seri balapan. Di sirkuit Asia, Eropa, Amerika, semua ada fans The Doctor (julukan Valentino Rossi). Mereka juga berasal dari berbagai negara seluruh benua di dunia ini, dan semua mengakui kualitasnya. Mengingat sejarahnya dan keberadaannya yang masih ada sampai generasi yang lahir di tahun 2000-an masih bisa melihat kelihaiannya menyalip pebalap-pebalap lain yang usianya masih 20-an tahun dan masih di level MotoGp---kelas di atas Moto2 dan Moto3 yang ada di ajang Moto GP.

Di kelas MotoGp ini terhitung hanya tinggal beberapa pebalap yang usianya sudah kepala tiga selain Rossi. Sebut saja Jorge Lorenzo, Andrea Dovizioso, Carl Cruthclow, Thomas Luthi, dan pebalap yang baru saja menyatakan pensiun di akhir musim 2018, Dani Pedrosa. Artinya, sosok seperti Valentino Rossi adalah langka. Tidak banyak yang bisa melakukan hal seperti Valentino Rossi---menjaga semangat yang sama untuk tetap berada di lintasan dengan level kejuaraan yang masih tinggi.

Tak hanya pendukungnya saja yang menghargai keberadaannya, pebalap lain dan pendukung pebalap lain juga menghargai eksistensinya. Karena tak banyak pebalap yang dapat meregenerasikan 'dirinya' ke lintasan balap motor Moto GP. Kita bisa melihat dirinya berhasil mendirikan sekolah balap yang pada akhirnya dapat mendirikan SKYVR46. Sebuah tim balap yang ada di Moto3 dan Moto2. Keberadaan tim ini juga bukan sekedar tim 'hore', melainkan juga turut berupaya mengejar prestasi berupa titel juara dunia melalui pebalapnya.

Di kelas Moto2, akhirnya tim SKYVR46 ini berhasil menyabet juara dunia bersama Francesco Bagnaia. Bagnaia yang juga merupakan anak didik langsung dari Rossi ini juga pada akhirnya naik kelas ke MotoGp dan akan satu trek balap bersama sang guru musim depan (2019). Pebalap yang juga berasal dari Italia ini akan menggunakan motor Italia dari Ducati bersama tim Pramac.

Keberadaan Bagnaia sebagai juara dunia di Moto2 menunjukkan bukti eksistensi yang lain dari Rossi. Bahwa Rossi tidak akan pernah 'cuci nama' dari ajang balap motor. 

Dirinya akan eksis meski tidak akan harus selamanya di trek balap dengan berpacu kecepatan mengejar podium. Waktu balapnya memang akan semakin menipis, namun namanya akan selalu terselip di setiap ocehan dari komentator balap yang akan selalu mengaitkan keberadaan pebalap Italia yang ada kaitannya dengan si 46 tersebut. Termasuk juga dengan keberhasilan prestasi tim balap yang didirikan oleh The Doctor.

Sebelum Moto GP akan kehilangan sosok Valentino Rossi di lintasan balap, publik penikmat balap ini sudah perlahan namun pasti mulai mengakui bahwa Moto GP dengan kelas MotoGp-nya masihlah tetap seru. Hal ini tak lepas dari keberadaan pebalap-pebalap yang lebih muda dari Rossi yang ternyata mampu menunjukkan dirinya sebagai salah satu yang terbaik.

Kita tak bisa memungkiri kehebatan Casey Stoner bersama Ducati dan Repsol Honda 2007 dan 2011 saat itu. Lalu, ada pebalap Honda lainnya yang lebih lama bersama tim Repsol yaitu Dani Pedrosa. Walau belum pernah menyicipi gelar juara dunia di kelas 'para raja', namun keberadaan pebalap ini selalu diperhitungkan di setiap musim balap. 

Memang kenyataannya konsistensi performa pebalap nomor 26 itu harus menjadi kendala utamanya yang membuat dirinya selalu gagal merengkuh emas di akhir musim, termasuk di musim 2018 yang berakhir tanpa prestasi---juara seri. Namun The Little Spaniard masih sangat layak disebut legenda pasca pensiun.

Termasuk ketika menurunnya performa Rossi rupanya tak serta merta membuat tim Yamaha Factory kehilangan sosok pemenang di setiap serinya. Karena ada pebalap hebat lainnya yang dimiliki tim Garpu Tala ini pada diri Jorge Lorenzo. Pebalap yang kini identik dengan nomor 99 ini akhirnya dapat memberikan tiga gelar juara dunia untuk dinikmati oleh kubu biru Jepang.

Tiga gelar itu pula yang seolah-olah menjadi kenang-kenangan bagi Yamaha selepas menurunnya performa motornya yang membuat kedua pebalapnya cukup tak berkutik di musim 2016 sampai akhirnya mengharuskan Jorge Lorenzo pergi dan berlabuh ke Ducati. Tim merah yang kemudian terlihat bangkit di musim 2017 dan kembali menunjukkan kekuatan dan konsistensi dalam mencari kemenangan di musim 2018. 

Dua musim yang hebat dari Ducati untuk menunjukkan adanya andil dari keberadaan pebalap yang masih berbicara cukup banyak di lintasan pasca era kejayaan Valentino Rossi yang menariknya justru menular ke pebalap Repsol Honda (lagi) yang mengaku mengidolakan sosok nyentrik dan kharismatik asal Italia tersebut. Benar, Marc Marquez adalah pewaris kejayaan dari Valentino Rossi di masa kini.

Keberadaan pemilik nomor 93 ini pada akhirnya menjadi raja yang sah sejak musim 2013, 2014, dan tiga musim berturut sampai 2018 ini. Artinya, hanya ada nama Jorge Lorenzo yang merusak dominasi runtutan juara dunia dari The Baby Alien. Meski, secara peta persaingan, kejuaraan MotoGp menyebar ke beberapa pebalap, termasuk Andrea Dovizioso yang akhirnya benar-benar mencuat ke permukaan di musim 2017 dan 2018 ini.

Bertandem dengan juara dunia tiga kali, bukan lagi waktunya untuk hanya sekedar menjadi pebalap medioker bersama motor hebat. Itulah yang membuat Dovi kini sangat patut untuk diperhitungkan di musim balap 2019 nanti. Karena, dirinya sudah bukan lagi pebalap medioker, melainkan pebalap yang tangguh dan siap untuk merengkuh juara dunia. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4