Desi Handayani Sagala
Desi Handayani Sagala Public Relation

Perempuan muda biasa yang hanya ingin bermanfaat buat orang lain

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jangan Ada Pembunuhan Karakter di Lingkup Pekerjaan!

14 September 2018   20:49 Diperbarui: 15 September 2018   11:27 746 1 0
Jangan Ada Pembunuhan Karakter di Lingkup Pekerjaan!
Foto: google doc

"Ijinkan saya menuliskan ulang pengalaman seorang sahabat yang berhasil melawan kata menyerah yang nyaris menelan kehidupannya"

Tulis sahabatku:

Sulit memulai tulisan ini dari perspektif apa dan bagaimana. 

Tapi yang pasti tulisan ini bersumber dari pengalaman yang dialami sendiri dan belum lama terjadi. 

Mungkin saya bukan orang pertama yang mengalami, tapi ini kali pertama saya hadapi.

Sebelumnya tidak pernah berekspetasi akan mengalami hal buruk semacam ini di lingkungan kantor. Sekalipun ada sedikit pergesekan dan perselisihan, tidak pernah terpikir bahwa akan menerima kejahatan luar biasa ini dari orang di lingkup pekerjaan. 

Pembunuhan karakter, ketika menjadi korban dan mengalaminya secara langsung ternyata kata-kata ini tidak sesederhana itu. Begitu jahat dan membunuh perlahan orang yang menerimanya. Hanya saja setiap orang berbeda-beda mental menghadapinya, ada yang cukup tegar, melawan, memilih cuek, bahkan pilihan terburuk menyerah dengan cara depresi dan akhirnya memilih mengakhiri hidup sendiri. Setidaknya pilihan terakhir itu yang sempat terpikirkan saya secara pribadi ketika mengalami ini.

Bagaimana cara pembunuhan karakter-nya?

Kesalahan pada suatu acara di kantor, yang lebih tepatnya sudah dianggap selesai, bahkan kejadiannya sudah setahun berlalu. Siapa sangka, kesalahanmu dalam menjalankan tugas (bisa dibilang hanya kesalahan teknis sederhana yang mungkin saja berkategori kesalahan fatal bagi pelaku) menjadi pemberitaan ke mana-mana. 

Kesalahan yang sudah dikemas dengan opini buruk disampaikan di forum evalusi acara setahun berlalu tersebut tanpa melibatkanmu di dalamnya. Itu bukan evaluasi pikirku, itu sudah berubah menjadi wadah menjelek-jelekkan orang lain karena alasan personal.

Pelaku yang memang kebetulan ada di posisi level manager dan saya sendiri hanya anak baru di kantor. Siapa sangka, citra buruk itu menyebar ke mana-mana, bahkan sampai di level Direktur. Bahkan dalam beberapa kesempatan, saya menerima cemooh walaupun bernada lelucon dari rekan kerja yang menyinggung opini buruk tersebut. 

Sampai suatu momen yang mengharuskan saya kembali ikut dalam tim bersama pelaku. Kebetulan untuk level manager, pelaku yang menghandle teknis acara. Babak baru perlakuan terburuk pun dimulai. Pelaku berusaha menyisihkan saya dalam beberapa sesi acara, bahkan di antara tim kerja saya, saya satu-satunya orang yang tidak diajak berkoordinasi. Baiklah, kataku mencoba tegar. Semakin mendekati acara, semakin banyak saya menerima ledekan, ejekan, akibat opini buruk yang sudah diciptakan pelaku.

Awalnya saya pikir bisa mengacuhkan itu, tetapi jujur itu justru memberi dampak buruk bagi diri sendiri.

Perlahan pembunuhan karakter itu membuat saya semakin merasa rendah diri, tertekan dengan opini buruk atas diri sendiri, dan berefek terhadap kebebasan saya berkreatifitas dalam bekerja. Kian hari menjelang acara di mana saya dan pelaku diharuskan ada dalam satu kepanitiaan, dengan stigma yang sudah mencuat, semakin merongrong mental saya. 

Sampai di satu titik saya berpikir untuk menyerah. Frustasi dengan atmosfir yang dihadapi, dan bahkan pikiran melayang terhadap imajinasi untuk mengakhiri hidup saja, karena merasa sudah tidak dihargai dan berarti. 

Sungguh pengalaman ini menjadi momen terburuk dalam hidup saya, kali pertama bertemu dengan karakter seperti pelaku, kali pertama mengalami pembunuhan secara perlahan. Tadinya menganggap kata "pembunuhan karakter" hanya ada di fiksi belaka. 

Berkaca dari apa yang dialami sendiri, sebagai korban atas kejahatan seperti ini, sebagai pekerja, saya hanya berharap jangan sampai ada pembunuhan karakter seperti ini di lingkungan yang seharusnya tempat orang-orang yang profesional dan berpikir lebih rasional. Tidak membawa unsur personal ke dalam kerjaan untuk membunuh individu tertentu. 

Memberikan stigma buruk tentang orang lain di tengah-tengah lingkup kerjaan yang bahkan sampai membentuk opini dan menimbulkan cemooh kepada orang tersebut, bukan persoalan sederhana bagi mereka yang menjadi korban. Tindakan kita yang seperti ini tanpa kita sadari bisa membunuh orang secara psikis. Bahkan untuk korban yang memilih menyerah, ini bisa saja memaksanya membunuh diri sendiri karena merasa tidak berharga. 

Jangan sampai ketidaksukaan kita terhadap individu tertentu membuat kita secara langsung menjadi pembunuh. Mungkin terdengar drama, tapi itu nyata bagi mereka yang mengalaminya. Apalagi dunia kerjaan, sikap membunuh karakter orang tidak mencerminkan profesionalisme dan seharusnya tidak muncul di lingkup kerjaan. 

STOP menjadi pembunuh karakter, baik itu bully dan menjelekkan orang lain di lingkungan kantor karena alasan personal, kau bisa saja membunuh sesamamu manusia, entah itu secara fisik maupun mental. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2