Mohon tunggu...
Dean Ruwayari
Dean Ruwayari Mohon Tunggu... Bukan siapa-siapa.

Belakangan doyan puisi. Tak tahu hari ini dan esok

Selanjutnya

Tutup

Love Pilihan

7 Tanda Sudah Saatnya Putus

13 Januari 2021   15:31 Diperbarui: 17 Januari 2021   10:53 151 24 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
7 Tanda Sudah Saatnya Putus
Jenny Dettrick/Getty Images

Cinta adalah anugerah, sayang cinta juga terkadang 'gila' dan 'konyol'. Jika sering nonton film komedi romantis, anda mungkin pernah menonton dua orang yang selalu berusaha menemukan cara untuk selalu bersama - tidak peduli rintangan apa yang menghalangi mereka. Alasannya selalu sederhana: Mereka sedang jatuh cinta. Namun di luar layar, cinta tidak selalu cukup untuk membuat hubungan bertahan lama.

Faktanya, perasaan yang disebabkan oleh cinta romantis bisa begitu kuat, dapat meyakinkan orang untuk tetap dalam hubungan yang tidak sehat, tidak memuaskan, dan akhirnya tidak bahagia - disadari atau tidak. Misalnya, ketika orang melihat foto pasangan romantis mereka, dopamin - zat kimia yang membuat orang merasa bahagia dilepaskan di otak mereka, menurut sebuah studi tahun 2015 yang diterbitkan di Frontiers in Human Neuroscience.

Cara kerja bahan kimia ini (yang membuat orang merasaan bahagia) dapat membuat mereka mengabaikan keputusan logis seperti meninggalkan hubungan yang tidak memuaskan. "Saat orang sedang jatuh cinta, mereka 'dikendalikan' oleh endorfin, bahan kimia yang memberi tahu bahwa anda sedang jatuh cinta dengan orang ini sedang bekerja." Kata dr. Dr. Lani Nelson Zlupko, ketua penelitian tersebut sekaligus pendiri LNZ Consulting.

Saat jatuh cinta tidak diragukan lagi terasa menyenangkan (dan baik untuk kesehatan), namun perasaan ini saja tidak memacu hubungan romantis yang kokoh dan langgeng. Di sini, para ahli menjelaskan beberapa tanda yang mengindikasikan mungkin sudah waktunya untuk meninggalkan sebuah hubungan.

Berikut 7 Tanda Sudah Saatnya Meninggalkan Sebuah Hubungan

Kebutuhan anda tidak terpenuhi

Setiap orang memiliki 'persyaratan' berbeda yang harus dipenuhi dalam suatu hubungan, menurut Zlupko. Kebutuhan ini bisa bersifat emosional, seperti menginginkan waktu berkualitas dengan pasangan; atau fungsional, seperti mengharuskan kalian untuk mengelola uang secara kompeten.

Ketika salah satu mitra merasa bahwa pasangan lainnya tidak memenuhi persyaratan, penting untuk mengomunikasikannya. Jika pasangan anda tidak mau berusaha lebih keras untuk memenuhi kebutuhan itu, mungkin inilah saatnya untuk mengakhiri hubungan.

Salah satu alasan orang bertahan dalam hubungan yang tidak memenuhi kebutuhan mereka berasal dari pandangan negatif masyarakat kita tentang menjadi lajang. Sepertinya jika mereka meninggalkan hubungan, mereka mungkin tidak akan pernah menemukan sesuatu yang lebih baik. Namun alih-alih membuang-buang waktu yang berharga dan melanggengkan ketidakbahagiaan seseorang, anda dapat menggunakan waktu itu untuk menemukan seseorang yang akan memberikan apa yang Anda butuhkan, saran studi tersebut.

Anda mencari kebutuhan tersebut dari orang lain

Ketika dipromosikan di tempat kerja atau menghadapi keadaan darurat keluarga, siapa orang pertama yang ingin anda beri tahu? Dalam hubungan yang memuaskan dan sehat, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu haruslah pasangan anda, menurut Zlupko.

Sangat menyenangkan memiliki kolega tepercaya di tempat kerja, tetapi Zluopko mengatakan jika anda terus-menerus beralih ke kolega di kantor dibanding pasangan untuk mendapatkan dukungan, itu mungkin pertanda kalau anda tidak mendapatkan dukungan yang dibutuhkan dari pasangan. "Jika anda seperti, 'Saya punya pilihan antara berbicara dengan pasangan saya dan berbicara dengan teman, teman yang terus-menerus memberi saya penegasan emosional yang dibutuhkan, maka saya akan pergi ke teman itu,'" maka kata Zlupko , "Ada yang tidak beres."

Anda takut untuk meminta lebih banyak dari pasangan anda

Wajar jika anda merasa tidak nyaman berbicara dengan pasangan tentang apa yang anda butuhkan dan mungkin tidak didapat dari hubungan anda. Zlupko mengatakan kalau komunikasi terbuka sangat penting untuk hubungan yang langgeng dan sehat.

"Orang mungkin berpikir, 'Itu akan membuat saya terdengar membutuhkan dan emosional'" kata Zlupko. Alih-alih berbicara terus terang, mereka menekan perasaan tersebut, melanjutkan ketidakpuasan dan berpura-pura puas karena takut merasa menjadi beban bagi pasangan. Dan argumen yang muncul di kemudian hari bisa menjadi lebih merusak hubungan daripada jika anda mengatasinya lebih awal. Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya tentang bagaimana pasangan memperlakukan anda kemungkinan akan memperpanjang hubungan yang tidak terpenuhi, daripada jika anda terbuka. Jika anda tidak bisa beranjak dari rasa takut berkonfrontasi dengan pasangan, mungkin inilah saatnya untuk mencari bantuan atau berpisah.

Teman dan keluarga tidak mendukung hubungan anda

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN