Mohon tunggu...
Dean Ruwayari
Dean Ruwayari Mohon Tunggu... Bukan siapa-siapa.

Penikmat bacaan, musik dan film.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Landscape With The Fall Of Icarus, Sebuah Alasan Untuk Tidak Khawatir Dengan Apa Yang Akan Dipikirkan Orang Lain

18 Oktober 2020   01:22 Diperbarui: 18 Oktober 2020   01:33 48 9 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Landscape With The Fall Of Icarus, Sebuah Alasan Untuk Tidak Khawatir Dengan Apa Yang Akan Dipikirkan Orang Lain
Gambar tiruan lukisan Landscape with the Fall of Icarus (wikipedia.com)

Landscape with the Fall of Icarus (Pemandangan dengan Jatuhnya Icarus) adalah lukisan besar dari tahun 1560-an yang tergantung museum terbesar di Belgia, Muse des Beaux Arts. Lukisan tersebut dianggap sebagai tiruan yang paling cermat dari sebuah karya asli (sekarang hilang) oleh seniman Flemish Pieter Bruegel the Elder. Sepintas melihatnya, ini adalah lukisan yang memperlihatkan pemandangan pedesaan biasa: kapal-kapal berlayar, seorang gembala merawat kawanannya, kota jauh yang terlihat makmur dan teratur. Namun di pojok kanan bawah kanvas, sebuah tragedi sedang berlangsung, dan hampir tidak terlihat kecuali diperhatikan dengan teliti. Icarus si sembrono, sosok legendaris dari Mitologi klasik, sedang dalam tahap akhir dari hidupnya, kematian. Bersama ayahnya Daedalus, pemuda itu membuat sepasang sayap untuk dirinya yang direkatkan dengan lilin. Daedalus telah memperingatkan putranya untuk tidak terbang terlalu dekat dengan matahari karena panasnya bisa melelehkan sayapnya, tapi bocah yang terburu nafsu, terbang terlalu tinggi dan, dalam lukisan itu, baru saja jatuh ke ombak, ke tangan kematian.

Akhir dari Icarus sengaja tidak menjadi fokus utama dari lukisan itu. Alih-alih, mata tertuju ke kota-kota dan kapal-kapal yang berkilauan seolah ingin menegaskan maksudnya. Bajak di tengah lukisan itu merujuk pepatah populer: "Tidak ada bajak yang berhenti untuk orang yang sekarat." Tapi, Tragedi pengabaian Icarus ini bisa dipandang menyedihkan atau malah menghibur. Pertama, kita bisa memandangnya negatif: "Jahat, saat aku susah ga ada yang peduli".

Namun, dari perspektif lain, tragedy pengabaian ini sangat bermanfaat dan yang terpenting adalah membebaskan. Kita menghabiskan begitu banyak hidup kita dengan takut akan reputasi kita dan bertanya-tanya apa yang orang lain akan pikirkan tentang kita saat gagal. Perubahan sekecil apapun dalam diri kita dan citra di mata orang lain bisa membuat kita terobsesi. Terbangun di malam hari bertanya-tanya bagaimana kita bisa mengatasinya tanpa persetujuan orang yang bahkan tidak kita sukai. Pada tahap ini, kita telah menyerahkan kebebasan pada putusan orang asing. Lalu, memposting status sebagai penjelasan pembenaran diri mengenai tragedi yang kita alami di sosial media, kemudian terpenjara untuk terus menatap ponsel, menunggu notifikasi dari instagram atau facebook tentang pendapat orang lain pada status yang kita buat.

Tapi pandangan positif yang bisa dipetik adalah bahwa hampir tidak ada yang akan memikirkan atau sangat peduli ketika kita gagal. Begitulah dunia. Jadi ngapain harus repot-repot frustasi, memikirkan: "betapa memalukannya diriku", ketika kita mengalami tragedi dalam hidup. Lihatlah lukisan tersebut sekali lagi, petani terlalu sibuk membajak, penggembala terlalu sibuk memikirkan cuaca, ada orang lain yang sangat ingin memancing. Tragedi kita tidak menyibukkan masyarakat, dan kita terlalu sibuk memikirkannya, akhirnya sakit karena depresi. Beberapa orang mungkin memperhatikan sejenak, lalu dengan cepat melanjutkan ke kehidupan mereka. Percayalah, mereka punya sejuta permasalahan atau pekerjaan yang harus diselesaikan untuk melanjutkan hidupnya dan tidak punya banyak waktu untuk terus memikir tragedimu sepanjang waktu.

"Kita adalah pusat dari galaksi" hanya ada dalam pikiran kita sendiri. Kebanyakan orang lain tidak peduli apa yang terjadi pada kita atau apa yang telah kita lakukan. Dunia masih dipenuhi manusia yang belum pernah mendengar tentang kita dan tidak akan pernah. Mereka yang mungkin marah atau kecewa pada kita sekarang, akan segera melupakan tentang tragedi yang telah kita alami. Aibmu, pada akhirnya akan (pada waktunya) dimasukkan dalam sebuah amnesia yang lebih besar dari dunia yang acuh tak acuh yang sangat menyenangkan.

Tidak hanya Icarus yang ditelan dan dikaburkan oleh ombak: beberapa dari ketidakjelasan yang sama menunggu kesalahan dan rasa malu terbesar kita. Jadi, kenapa mesti repot-repot frustrasi dengan "apa yang akan dipikirkan orang lain"?

VIDEO PILIHAN