Mohon tunggu...
Lingkungan

Indonesia Tidak Lagi Bermuka "Sampah"

12 Mei 2019   15:23 Diperbarui: 12 Mei 2019   15:27 0 1 1 Mohon Tunggu...
Indonesia Tidak Lagi Bermuka "Sampah"
Dokumentasi Kementerian Lingkungan Hidup

"Buanglah sampah pada tempatnya!" merupakan slogan yang tertulis dimana saja, entah di tembok-tembok pinggiran kota, di tepi-tepi sungai, tempat pembuangan akhir atau TPA, bahkan di tempatmu dulu menimba ilmu ada bukan? Seharusnya itu sudah menjadi hal yang mendarah daging dalam tubuh sebab setiap hari kita membaca ataupun melihatnya. Secara tidak langsung alam bawah sadar sudah menuntun pikiran untuk melakukan hal yang baik bahkan dari hal yang sangat kecil seperti "membuang sampah pada tempat yang benar".

Kita dilahirkan dari sepasang manusia yang tidak bodoh, dirawat hingga tumbuh besar dengan dibekali ilmu yang kita peroleh dari pendidikan formal atau pendidikan yang diperoleh dari rumah maupun lingkungan. Lantas apa yang menyebabkan tangan kita seakan buta untuk menempatkan sampah pada "tempat sampah"?

Memang benar, hidup ini tidak akan bisa lepas dari apa yang dinamakan sampah. Hal tersebut seakan sudah menjadi masalah yang sukar untuk terselesaikan namun apabila ini tidak cepat dirampungkan, akankan bumi pertiwi tidak menangis melihat keelokan tubuhnya yang tercemar dan terkontaminasi dengan sampah? Tidak menjadi hal yang sangat berat untuk kita membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya. Terkadang hal yang kita anggap baik-baik saja adalah satu hal buruk kita sumbang untuk kerusakan bumi.

Contohnya seperti penggunaan sampah plastik pada kegiatan sehari-hari; pemakaian kantong kresek ketika kita membeli sesuatu di minimarket, penggunaan shampo sachet di setiap kita keramas, berapa banyak bungkus snack yang sudah kita buang setelah mengkonsumsinya? Wah, diri kita sendiri saja sudah banyak mensuplai sampah palstik setiap harinya, lalu bagaimana dengan orang lain yang dengan seenaknya membuang berkantung-kantung sampah di sungai? Lalu kalikan saja dengan jumlah penduduk di Indonesia.

Dilansir dari artikel Bisnis.com yang diterbitkan pada Februari 2019 menyebutkan bahwa Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KHLK) menyampaikan apabila jumlah timbulan sampah di Indonesia per harinya mencapai 175.000 juta atau setara dengan 64 ton dalam setahunnya, apabila dikalkulasi setiap orang menghasilkan 0,7 kg sampah per hari. "Jenis sampah yang mendominasi di Indonesia adalah sampah organik(sisa makanan dan tumbuhan) sebesar 50%, sampah plastik 15% dan kertas sebesar 10%.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakahir ini trend sampah plastik meningkat dari angka 10% menjadi 15%", ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun (PSLB3) KHLK. Menurut data yang diperoleh dari INAPLAS atau Asosiasi Industri Plastik Indonesia dan BPS atau Badan Pusat Statistik, sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut, kantong plastik yang terbuang ke laut sebanyak 10 miliar lembar per tahun.

Di dalam laut kantong plastik terurai menjadi microplastics berukuran 0,3 - 5 milimeter dan sudah sangat jelas partikel-partikel ini akan dengan mudah di makan oleh hewan laut. Maka tidak heran apabila Indonesia dikatakan sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Dari tahun ke tahun permasalahan sampah terus di dibenahi oleh pemerintah. Di tahun 2018 Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudji Astuti meresmikan dan menjadi ketua pembina Pandu Laut yang mengikut sertakan relawan untuk menggelar aksi bersih-bersih pesisir laut guna mengurangi sampah yang digelar di 76 titik laut di Indonesia.

Cara awal kita untuk ikut serta mengurangi suplai sampah yakni dari lingkung kecil seperti rumah. Sampah sendiri dibagi menjadi bermacam-macam; ada sampah organik contohnya daun atau sisa-sisa makanan, sampah anorganik contohnya seperti sampah plastik, styrofoam dan kaleng dan terakhir ialah sampah berbabahaya atau B3 contohnya seperti limbah hasil pabrik dan rumah sakit.

Dalam lingkup rumah kita sebaiknya memisahkan langsung antara sampah organik dan anorganik, sampah organik lantas dikubur dalam tanah untuk dijadikan kompos dan sampah anorganik seperti botol-botol bekas, plastik-plastik sisa kemasan, dll dikumpulkan lalu dibakar di lahan terbuka.  Atau kita bisa menjual sampah anorganik kepada orang-orang yang mendaur ulang sampah tersebut menjadi bahan-bahan yang berguna seperti tas atau keranjang, hal tersebut juga sangat membantu mengurangi pencemaran lingkungan.

Ada banyak cara untuk lebih mencintai bumi, kita hanya perlu untuk mengedukasi diri kita sendiri. Memulai membiasakan diri untuk melakukan hal baik juga merupakan sesuatu yang terpuji. Dampaknya tidak hanya kita yang merasakan bahkan banyak orang juga akan nyaman dengan apa yang telah kita perbuat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2