Mohon tunggu...
David F Silalahi
David F Silalahi Mohon Tunggu... ..seorang pembelajar yang haus ilmu..

..berbagi ide dan gagasan melalui tulisan... yuk nulis yuk.. ..yakinlah minimal ada satu orang yang mendapat manfaat dengan membaca tulisan kita..

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Belajar Menulis Artikel Sambil Silaturahmi, Ya Kompasiana Tempatnya!

27 Oktober 2020   11:53 Diperbarui: 27 Oktober 2020   12:49 237 43 15 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Belajar Menulis Artikel Sambil Silaturahmi, Ya Kompasiana Tempatnya!
(twitter/@gnfi)

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. - Pramoedya Ananta Toer-

Kalimat yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ini menjadi inspirasi saat bergabung dengan Kompasiana. Kepandaian seseorang itu akan hilang begitu saja jika tidak didokumentasikan. Pemikirannya tidak akan pernah ada yang tahu, jika tidak dituliskan. Hanya orang yang sering bicara di depan umum, yang tanpa menulis, akan diketahui orang lain apa yang dia pikirkan. 

Hal ini nampaknya relevan bagi saya, sudah tidak pandai, tidak jago bicara pula. Haha. Bagaimana orang lain bisa tau apa yang saya pikirkan. Ok, kalau begitu saya akan menulis apa saja yang terpikir dan mungkin berguna bagi orang lain untuk mengetahuinya juga. 

Awalnya saya ingin seperti orang lain yang punya tulisan pada blog yang dikelola sendiri. Lalu tahun 2010, saya membuat akun pada blog tak berbayar wordpress. Namun hanya beberapa artikel yang sempat ditulis disana. Saya berpikir juga, untuk apa punya blog tapi kalau tidak ada yang baca. 

Lalu ada teman mengajak gabung di Kompasiana. Dia mengatakan, kita kan bukan selebritis atau penulis terkenal. Mendingan nulis di Kompasiana saja, sudah pasti ada yang baca. Saya sempat abaikan waktu itu, namun kemudian di 2011 akhirnya saya membuat akun Kompasiana juga. 

Namun tak satupun artikel saya tulis hingga Maret 2020. Hingga akhirnya April 2020, saya memutuskan untuk memberanikan diri menulis di Kompasiana. Saya yang masih centong ijo waktu itu, hanya bisa pasrah, apakah admin akan menilai tulisan saya layak untuk sekedar kategori pilihan. Eh, ternyata artikel yang terbit pertama ini langsung mendapat label pilihan. 

Senang juga rasanya. Sejak itu, saya sering menerbitkan tulisan di Kompasiana. Meski tidak banyak. Hanya 118 artikel yang mampu saya tulis. Lagi-lagi beruntung, 31 diantaranya mendapat label Artikel Utama. Tanpa disangka-sangka pula, setelah artikel ke-99, saya mendapat label 'centong biru'. Konon kabarnya masuk golongan berdarah biru. Saya coba pikir, kenapa bisa ya? Mungkin karena artikel sudah ada sekitar 30% yang dapat label 'Headline'. Terimakasih admin. Hehe

Banyak hal yang didapat dengan bergabung di Kompasiana. Penulis bisa memposting artikel kita apa saja isinya dan kapan saja. Tidak ada yang protes sepanjang artikel itu sesuai kaidah Kompasiana dan pastinya tidak menjiplak. Jika terdeteksi jiplakan, dengan sendirinya dihapus oleh admin (bot) Kompasiana.

Hal lain yang menurut saya penting. Menulis di Kompasiana butuh belajar terus menerus. Tidak ada hukuman atau nilai jika tulisan jelek. Paling-paling tidak dapat label atau sepi pengunjung (views). Ada saja Kompasianer yang menuliskan tip dan trik menulis yang baik. Ini sungguh 'vitamin' bagi saya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x