Firdaus Cahyadi
Firdaus Cahyadi trainer dan konsultan penulisan, strategi komunikasi dan Knowledge Management

Blogger, penulis kolom opini di media massa, pekerja sosial.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

"Menciptakan" Kehangatan Keluarga dengan Sederhana

14 Maret 2018   15:29 Diperbarui: 14 Maret 2018   16:01 332 0 0

Artikel ini mungkin sangat terlambat ditulis. Harusnya artikel ini ditulis di awal tahun 2018 lalu. Meskipun terlambat, pengalaman dalam artikel ini perlu ditulis dan dibagikan agar pesan utamanya dapat menyebar secara luas.

Saya adalah termasuk orang yang tidak mempedulikan event pergantian tahun. Menurut saya, pergantian tahun adalah hal yang biasa saja. Jadi tidak perlu kita peringati. Namun, pandangan itu berubah seiring saya menikah dan memiliki anak. Pergantian tahun justru salah satu momentum untuk berkumpul dengan keluarga. Meskipun, tidak harus diperingati secara mewah dan menghamburkan uang.

Kehangatan keluarga bisa 'diciptakan' melalui hal yang sederhana. Seperti yang saya alami saat pergantian tahun 2017 lalu. Saat itu, saya dan keluarga sengaja melewatkan tahun baru di Semarang, Jawa Tengah. Kami tidak memilih menginap di hotel yang semuanya sudah disediakan. Kami sekeluarga sengaja menginap di sebuah villa yang memungkinkan kami untuk bisa melewatkan waktu memasak bersama. 

Seperti biasa menjelang malam pergantian tahun, ada banyak acara yang diselenggarakan. Intinya, kita harus tahan begadang hingga pukul 12.00 malam. Nah, untuk mempersiapkan itulah, siangnya (31/12), kami sibuk mempersiapkan berbagai makanan. Dari makanan ringan alias camilan, hingga makanan berat. Siang itu, kami semua sibuk di dapur. Saya harus mencari LPG untuk memasak. Sementara, anak saya membantu bundanya memasak.

Kami tidak mungkin membawa LPG dari Bogor ke Semarang. Untuk itulah kami harus mencari-cari toko yang menjual LPG. Untunglah, tak jauh dari villa tempat kami menginap ada toko yang menjual LPG Bright Gas. Akhirnya, jadilah kami 'menciptakan' kehangatan keluargadengan kegiatan memasak bersama.

Sekitar pukul 06.30 petang, kami pun mulai menyantap makanan yang berat. "Biar tidak masuk angin," kata istriku. Di meja makan, biasanya bila makan bersama, kegiatannya tidak hanya sekedar makan. Kami bercerita tentang banyak hal. Anak saya dengan tanpa beban bercerita tentang teman-temannya di sekolah, tanpa beban sama sekali. Meja makan telah mencairkan suasana. Kami bisa tertawa bersama.

Saat jarum jam menunjukan pukul 07.30 malam, kami mulai jalan-jalan di lokasi acara pergantian tahun baru. Tak lupa, kami pun membawa serta makanan kecil yang dimasak saat siang hari. "Lumayan, bisa menghemat anggaran," ujar istri saya. Kami pun begadang bersama menunggu puncak acara pergantian tahun. Namun, seperti biasa baru pukul 10.00 malam, anakku sudah mengantuk. Akhirnya, kami pun kembali ke villa. Saya kebagian yang menggendong anak saya yang masih berusia 8 tahun. Ia harus digendong karena sudah terlelap. Kami memang selalu tidak bisa menikmati pesta kembang api di puncak malam tahun baru. Namun, kehangatan keluarga yang tercipta dengan kegiatan masak bersama sudah cukup membuat kami semua bersuka ria.

Memasak dan makan bersama, mungkin salah satu cara untuk menciptakan kehangatan keluarga kami.