Mohon tunggu...
Pidato Semprul 17an Janu
Pidato Semprul 17an Janu Mohon Tunggu... pegawai negeri -

memunguti remah-remah pengembaraan...

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Bali: Island of the Unseen

13 Desember 2009   17:08 Diperbarui: 26 Juni 2015   18:57 1463 0 5
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Bali. Untuk sebagian orang yang mengunjungi, Bali adalah pantai yang ramai dengan para peselancar atau deburan ombak yang memanjakan hati yang mencari sepi atau pasir putih yang mengelitiki telapak kaki dan air lautnya yang biru. Untuk sebagian orang lagi, Bali adalah warna-warni kain bersepuh emas atau gemulai lentik jari-jari penari atau gerak misteri Barong dan Leak atau Kecak dan sendratari Rama Sinta saat terbenamnya matahari. Untuk sebagian lain, termasuk aku (bukan orang Bali, bukan ahli sejarah Bali dan bukan ahli antropologi tentang budaya Bali. Cuma seorang pejalan yang kebetulan singgah di pulau indah ini)…Bali adalah kesantunan yang melintasi dimensi….

Nyaris tak ada sudut di pulau ini yang tidak bertaburan kesantunan doa pada tanah dan udaranya. Setiap desa setidaknya memiliki tiga pura yang penuh dengan doa: Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem. Setiap rumah memiliki tempat sembahyang menerbangkan doa, mulai dari sanggah yang sederhana hingga pamerajan dengan tujuh atap bertingkat meru-nya. Jutaan banten dan canang di kotak mungil terbuat dari anyaman janur tak henti menebarkan doa kepada Tuhan, memohon kebaikan dan keselamatan. Dan wanginya mengisi udara pulau ini, dari setiap rumah, setiap toko, setiap bangunan, dari setiap meja kantor berdampingan dengan PC, dari canang yang diletakkan di atas dashboard mobil, dari atas atap taksi, dari setang sepeda motor…..

Dan tak ada sejengkal tanah yang tidak menunjukkan kesantunan dalam menghormati mahluk lain yang juga tinggal di pulau ini, yang adalah “penduduk asli” pulau ini: mereka “yang tidak terlihat”….para leluhur, betara-betari maupun bhuta serta kala. Sebanyak rumah di pulau ini, sebanyak itu pula palinggih (tempat) untuk meletakkan sesajen bagi makhluk-makhluk tak kasat mata itu. Pada pura milik keluarga biasanya juga disediakan ceruk khusus sebagai “rumah” bagi para leluhur dari keluarga tersebut, dan disediakan hidangan ala kadarnya setiap hari layaknya anggota keluarga yang masih hidup mendampingi.

Di depan pintu gerbang rumah, terdapat sesajen dalam cerukan di kanan dan kiri apit lawang untuk menawarkan hubungan yang damai dengan para bhuta dan kala….dengan menyediakan makanan apa yang mereka butuhkan, sehingga mereka tidak perlu masuk ke dalam rumah dan menganggu penghuni rumah. Hanya makhluk yang berkarakter baik yang diharapkan masuk ke dalam halaman rumah, dan untuk itu telah pula disediakan palinggih berhias kain putih-kuning di bagian dalam halaman rumah.

Di setiap persimpangan jalan dan di setiap jembatan didirikan tugu berkain kotak-kotak hitam putih untuk meletakkan sesajen, sebagai tanda menghormati kehadiran para bhuta dan kala di sana dan untuk “berdamai” dengan mereka agar tidak mengganggu pengguna jalan yang melintas. Dan kita yang melintas, dengan santun selalu merasa perlu untuk membunyikan klakson setiap kali melintasi persimpangan atau jembatan atau melintasi tugu atau tempat-tempat upacara di pinggir jalan (bahkan di Denpasar sekalipun). Suatu kesantunan yang luar biasa!...

Persaudaraan yang akrab, harmonis dan penuh kesantunan antara orang Bali dengan makhluk tak kasat mata inilah yang mungkin membuat pulau ini agak “crowded” dengan the unseen. Kecuali di daerah Tabanan yang agak “lega” (entah mengapa?), nyaris setiap jengkal pulau ini ramai dengan mereka ini dalam berbagai bentuk dan rupa. Dan aura serta energinya penuh mengisi ruang yang ada, di dalam mana kita semua terpapar dan menghirupnya. Mencoba untuk menerawang dan melakukan “kontak” secara spesifik ke dalam dimensi itu -misalnya pingin memperluas social networking - jadinya rada pusing karena populasinya sangat padat, semuanya bersliweran dan “sinyal”-nya saling tumpang-tindih. Sangat wajar jika kemudian anda –yang dikaruniai ketajaman hati dan kesempatan- bisa merasakan sedikit hawa “sumuk” (gerah), yang mungkin karena memang padat sekali “traffic”-nya hehe.

Auranya bahkan masih bisa anda rasakan ketika anda pulang ke rumah anda masing-masing, melekat terbawa menyeberangi laut dan terbang menembusi awan-awan. Terkadang rasa sumuk, terkadang pula rasa emosi yang menjadi agak meninggi. Banyak orang menganggap hawa sumuk itu disebabkan jet-lag akibat iklim panas Bali atau kecapean saja. Hmm….tapi memang lebih baik menduga seperti itu..daripada was was dan khawatir.. :P

.

dalam kekagumanku kepada Pulau Dewata, Desember 2009

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan