Mohon tunggu...
Pidato Semprul 17an Janu
Pidato Semprul 17an Janu Mohon Tunggu... pegawai negeri -

memunguti remah-remah pengembaraan...

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Suluk Sampan (2)

20 November 2009   22:21 Diperbarui: 26 Juni 2015   19:15 701 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Jangan tergesa. Mengayuhlah perlahan sekali. Alangkah jauh jarak antara mengetahui dan mengerti. dan alangkah jauh jarak antara mengerti dengan memahami. Dan lebih jauh lagi jarak antara memahami dengan....memiliki. Bukan akal semata, tapi hanya kerendahan hati yang bisa membawa kita melintasi.... . Sampan kecil bercermin di permukaan sungai yang tenang dalam diam. Hatinya meragu mencoba menerima kata-kata sungai, bahwa bahagia yang dicari sesungguhnya ada di dalam diri. Tersembunyi di lubuk hati? Sebegitu sederhanakah? Bukankah telah berpuluh tahun ia mencoba merasai bahagia, dan berpuluh tahun itu pula ia tak menjumpanya? Dari apa yang ia lakukan setiap harinya, dari semua yang ia miliki, dari beribu wajah yang disapanya saat membawa mereka mengarungi sungai dengan hasil bumi mereka, dari banyak tempat yang disinggahinya. Mengapa hanya semata sepi yang ditemui? Dan jika bahagia ada di dalam hati? Bukankah sederhana sekali untuk mencapai bahagia yang dicari-cari? Kita hanya tinggal mengikuti kata hati, dan hati akan menuntun kita dengan sendirinya ke depan gerbangnya? Tapi bukankah seringkali kata hati berbenturan dengan kenyataan? Bukankah seringkali langkahnya berhenti di hadapan tembok besar bernama ketetapan dan takdir kehidupan? Apa yang dimaui hati tak mesti menjadi?... Banyak tanya menggantung, tak dimengerti tak dipahami. Berhari-hari sudah seperti ini. Yang tinggal kini hanyalah keletihan pencarian. Sampan kecil bertanya lirih kepada sungai yang membawanya.. "Mana yg harus dipilih?: mengikuti kata hati?... atau.. berpuas diri dengan 'takdir' yang telah diberikanNYA?.." Sungai masih seperti cermin. Arus menyembunyikan diri di bawah lapisan dan permukaan menjadi seakan diam dalam keheningan. "Titik demi titik pada lintasan hidup telah dilukis pada kanvas asal segala asal... Itulah 'FAYAKUN', rahasia Gusti Allah dalam berkehendak dan kekuasaan mewujudkannya, yang setelah terjadi sebagai rangkaian kenyataan hidup seseorang di dunia, manusia menyebutnya sebagai 'takdir'. Apa yang kemudian terjadi, merupakan bagian dari 'kodrat'. Makna 'KUN' adalah permohonan dan upaya-upaya luhur manusia dalam proses menyempurnakan diri dan harkat hidupnya dengan mencari ridlhoNya. Agar kenyataan hidup yang dijalaninya menuju 'jalan yang lurus' yang akan menemukan cahayaNya. Itulah 'Iradat' namanya "... Sungai diam sebentar, memberi waktu bagi sampan untuk mencerna kata-katanya. Ia tahu bahwa tak mudah mengerti apalagi memahami. Ia baru saja mulai membuka jalan menuju sebuah rahasia abadi, yang hanya bisa dilalui oleh mereka yang tak melulu menggunakan akal tapi justru dengan kerendahan hati. Masih panjang jalan terbentang di depan. Mudah-mudahan sampan kecil yang dihantarnya telah siap mendengarkan. Sungai meneruskan dengan perlahan, 'Kata hati' ....adalah cetusan-cetusan si batin. Manakala jiwa kita telah mulai mengenal 'cahayaNya', batin yang berkata tadi, disebut 'Nurani' (Nuur: cahaya, aeni: mata penglihatan si batin yang semakin sempurna). Jelas pandangannya dikarenakan memperoleh pancaran cahayaNYA! Kata hati menjadi bisikan nurani. Kata hati masih berselimut debu hasrat diri dan hawa duniawi. Bisikan nurani....hanya ketenangan dan kepuasan yang terlahir dari "menatapNya" tak berkeputusan..yang mencetuskan isyarat dan tanda-tanda..petunjuk2 jalan menuju negeri bahagia yang didamba. Tidakkah menjadi jelas bahwa: mensyukuri rahmat dan karuniaNya akan menjelmakan rasa puas juga? Mensyukuri apa yang telah diberiNya akan membersihkan batin dari hawa dan buruk sangka kepadaNya. Mensyukuri apa yang dimiliki akan membasuh batin dari debu hasrat, dengki dan keinginan. Mensyukuri apa-apa yang tak dimiliki akan memelihara rasa percaya kepada rencanaNya bagi kebaikan hati dan jiwa kita. Serangkaian rasa puas dari waktu ke waktu yang tak berkeputusan itulah rentang suasana batin yang bernamakan bahagia. Cukuplah bicaraku hari ini, duhai yang mencari...." Sungai seperti cermin. Arusnya sembunyi di bawah hening. Sampan kecil larut dalam waktu yang diam. .. Setu Pon, 3 Besar 1942 Jé....Sabtu, 21 November 2009.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan